Cuaca Panas Bisa Berdampak pada Kesehatan Jantung, Begini Penjelasan Dokter
21 October 2025 |
19:00 WIB
1
Like
Like
Like
Fenomena hot spells atau kenaikan suhu panas belakangan tengah terjadi di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan suhu maksimum sejauh ini tercatat mencapai 37,6°C. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.
BMKG mengungkapkan, meningkatnya suhu udara dipengaruhi oleh pergerakan semu matahari yang saat ini berada di selatan garis khatulistiwa. Fenomena ini menyebabkan intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menjadi lebih kuat.
Selain itu, angin timuran atau Monsun Australia yang sedang aktif membawa massa udara kering dan hangat dari Benua Australia juga turut berperan menaikkan suhu udara. Hal ini mengakibatkan pembentukan awan lebih minim dan radiasi matahari pun dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.
Sejumlah daerah yang terdampak paling tinggi meliputi sebagian besar wilayah Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi selatan dan tenggara, serta beberapa kawasan di Papua. Di daerah Boven Digoel (Papua) bahkan peningkatan suhunya telah mencapai 37,6°C.
Baca juga: Panas Ekstrem Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Dokter Bagikan Langkah Pencegahannya
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Rudy Kurniawan, mengatakan meski tampak tidak berkaitan, cuaca panas sebenarnya cukup berpengaruh pada kesehatan jantung. Sebab, cuaca panas ekstrem secara tidak langsung akan menyebabkan jantung bekerja lebih keras dari biasanya.
Dokter Rudy menjelaskan saat cuaca panas tubuh umumnya berusaha membuang suhu tinggi dengan cara melebarkan pembuluh darah di kulit (vasodilatasi). Proses ini membuat aliran darah ke permukaan kulit meningkat untuk membantu pembuangan panas.
Namun, kondisi tersebut juga menurunkan resistensi pembuluh darah sistemik sehingga jantung perlu bekerja lebih keras agar tekanan darah dan aliran ke organ vital tetap terjaga.
Untuk mempertahankan keseimbangan tersebut, jantung harus memompa lebih banyak darah setiap menitnya atau mengalami peningkatan curah jantung. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat (takikardia). Jika tidak diimbangi dengan kondisi tubuh yang baik, mekanisme kompensasi ini bisa membuat seseorang mudah lelah dan jantung menjadi terbebani.
"Selain itu, karena aliran darah ke kulit dan organ dalam saling bersaing, tekanan darah dapat menurun apabila kompensasi tubuh gagal bekerja optimal," ungkapnya.
Di sisi lain, dehidrasi yang disebabkan oleh kehilangan cairan melalui keringat turut memperparah kondisi ini karena volume darah (preload) berkurang. Situasi tersebut dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan sirkulasi dan penurunan tekanan darah. Hal inilah yang kemudian juga memicu heat stroke, yakni kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40°C atau bahkan lebih.
Rudy menyebut ada beberapa tanda-tanda heat stroke yang perlu diperhatikan, yakni suhu tubuh mencapai atau melebihi 40°C, kulit terasa panas dan kering tanpa keringat, denyut jantung sangat cepat, serta muncul kejang, atau bahkan kehilangan kesadaran.
Biasanya, kondisi ini diawali dengan gejala kelelahan akibat panas. Pertolongan cepat dengan pendinginan tubuh dan bantuan medis segera sangat diperlukan.
Selain heat stroke, paparan suhu tinggi juga dapat menyebabkan heat stress. Meski lebih tidak berbahaya, kondisi ini pun mesti diwaspadai. Kemudian, cuaca panas secara umum juga dapat memperburuk kondisi seseorang yang sebelumnya telah penyakit kronis seperti gangguan jantung, ginjal, pernapasan, maupun diabetes.
"Kelompok yang paling rentan terhadap cuaca panas adalah lansia karena kemampuan tubuh mereka dalam merespons panas sudah menurun. Anak-anak, terutama bayi, juga rentan karena sistem pengatur suhu tubuh mereka belum sempurna. Selain itu, penderita penyakit kronis, pekerja luar ruangan, atlet, dan pengguna obat tertentu seperti diuretik atau antidepresan perlu lebih berhati-hati," imbuhnya.
Untuk mencegah dampak buruk cuaca panas, dokter Rudy menyarankan masyarakat untuk minum air yang cukup setiap harinya tanpa harus menunggu haus. Hindari aktivitas luar ruangan yang berlebihan, terutama pada pukul 10.00–16.00 saat sinar matahari sedang terik.
Kemudian, gunakan pakaian ringan berwarna terang, konsumsi buah dan sayuran tinggi air seperti semangka dan mentimun, serta hindari konsumsi kafein dan alkohol berlebihan. Bila muncul gejala seperti pusing, lemas, atau suhu tubuh meningkat drastis, segera cari pertolongan medis.
Baca juga: BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
BMKG mengungkapkan, meningkatnya suhu udara dipengaruhi oleh pergerakan semu matahari yang saat ini berada di selatan garis khatulistiwa. Fenomena ini menyebabkan intensitas penyinaran matahari di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menjadi lebih kuat.
Selain itu, angin timuran atau Monsun Australia yang sedang aktif membawa massa udara kering dan hangat dari Benua Australia juga turut berperan menaikkan suhu udara. Hal ini mengakibatkan pembentukan awan lebih minim dan radiasi matahari pun dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.
Sejumlah daerah yang terdampak paling tinggi meliputi sebagian besar wilayah Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi selatan dan tenggara, serta beberapa kawasan di Papua. Di daerah Boven Digoel (Papua) bahkan peningkatan suhunya telah mencapai 37,6°C.
Baca juga: Panas Ekstrem Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Dokter Bagikan Langkah Pencegahannya
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Rudy Kurniawan, mengatakan meski tampak tidak berkaitan, cuaca panas sebenarnya cukup berpengaruh pada kesehatan jantung. Sebab, cuaca panas ekstrem secara tidak langsung akan menyebabkan jantung bekerja lebih keras dari biasanya.
Dokter Rudy menjelaskan saat cuaca panas tubuh umumnya berusaha membuang suhu tinggi dengan cara melebarkan pembuluh darah di kulit (vasodilatasi). Proses ini membuat aliran darah ke permukaan kulit meningkat untuk membantu pembuangan panas.
Namun, kondisi tersebut juga menurunkan resistensi pembuluh darah sistemik sehingga jantung perlu bekerja lebih keras agar tekanan darah dan aliran ke organ vital tetap terjaga.
Untuk mempertahankan keseimbangan tersebut, jantung harus memompa lebih banyak darah setiap menitnya atau mengalami peningkatan curah jantung. Akibatnya, denyut jantung akan meningkat (takikardia). Jika tidak diimbangi dengan kondisi tubuh yang baik, mekanisme kompensasi ini bisa membuat seseorang mudah lelah dan jantung menjadi terbebani.
"Selain itu, karena aliran darah ke kulit dan organ dalam saling bersaing, tekanan darah dapat menurun apabila kompensasi tubuh gagal bekerja optimal," ungkapnya.
Di sisi lain, dehidrasi yang disebabkan oleh kehilangan cairan melalui keringat turut memperparah kondisi ini karena volume darah (preload) berkurang. Situasi tersebut dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan sirkulasi dan penurunan tekanan darah. Hal inilah yang kemudian juga memicu heat stroke, yakni kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40°C atau bahkan lebih.
Rudy menyebut ada beberapa tanda-tanda heat stroke yang perlu diperhatikan, yakni suhu tubuh mencapai atau melebihi 40°C, kulit terasa panas dan kering tanpa keringat, denyut jantung sangat cepat, serta muncul kejang, atau bahkan kehilangan kesadaran.
Biasanya, kondisi ini diawali dengan gejala kelelahan akibat panas. Pertolongan cepat dengan pendinginan tubuh dan bantuan medis segera sangat diperlukan.
Selain heat stroke, paparan suhu tinggi juga dapat menyebabkan heat stress. Meski lebih tidak berbahaya, kondisi ini pun mesti diwaspadai. Kemudian, cuaca panas secara umum juga dapat memperburuk kondisi seseorang yang sebelumnya telah penyakit kronis seperti gangguan jantung, ginjal, pernapasan, maupun diabetes.
"Kelompok yang paling rentan terhadap cuaca panas adalah lansia karena kemampuan tubuh mereka dalam merespons panas sudah menurun. Anak-anak, terutama bayi, juga rentan karena sistem pengatur suhu tubuh mereka belum sempurna. Selain itu, penderita penyakit kronis, pekerja luar ruangan, atlet, dan pengguna obat tertentu seperti diuretik atau antidepresan perlu lebih berhati-hati," imbuhnya.
Untuk mencegah dampak buruk cuaca panas, dokter Rudy menyarankan masyarakat untuk minum air yang cukup setiap harinya tanpa harus menunggu haus. Hindari aktivitas luar ruangan yang berlebihan, terutama pada pukul 10.00–16.00 saat sinar matahari sedang terik.
Kemudian, gunakan pakaian ringan berwarna terang, konsumsi buah dan sayuran tinggi air seperti semangka dan mentimun, serta hindari konsumsi kafein dan alkohol berlebihan. Bila muncul gejala seperti pusing, lemas, atau suhu tubuh meningkat drastis, segera cari pertolongan medis.
Baca juga: BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.