Ilustrasi cuaca panas esktrem Indonesia. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November

15 October 2025   |   20:36 WIB
Image
Nirmala Aninda Manajer Konten Hypeabis.id

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa cuaca panas ekstrem dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C yang melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kombinasi antara gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia.

Fenomena ini, menurut lembaga tersebut, bukan hal baru, namun intensitasnya kali ini lebih terasa karena kondisi atmosfer yang cenderung kering dan langit yang minim awan, membuat radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa hambatan.

Baca juga: 7 Tips Tetap Nyaman Beraktivitas di Tengah Cuaca Panas

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan bahwa pada bulan Oktober, posisi gerak semu matahari berada di selatan ekuator. Posisi ini menyebabkan wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua menerima penyinaran matahari yang lebih intens dibanding wilayah lain.

Di saat yang sama, pengaruh Monsun Australia ikut memperkuat kondisi panas dengan membawa massa udara kering dan hangat dari arah selatan. Kombinasi dua faktor ini menyebabkan pembentukan awan berkurang signifikan, sehingga panas matahari terasa lebih menyengat.

Selain itu, penguatan angin timuran atau Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat yang meminimalkan pembentukan awan, sehingga radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal.

“Posisi ini membuat cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan dan tengah,” ujar Guswanto di Jakarta, Rabu (15/10/2025), seperti dikutip melalui akun X BMKG.

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menyampaikan bahwa suhu maksimum di atas 35°C tercatat meluas di hampir seluruh wilayah Indonesia. Daerah yang paling terdampak meliputi sebagian besar Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta beberapa wilayah Papua.

Data pengamatan BMKG menunjukkan suhu tertinggi tercatat pada 12 Oktober 2025 sebesar 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Sehari kemudian, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT), sebelum kembali meningkat pada 14 Oktober 2025 dengan kisaran 34–37°C.

Wilayah seperti Kalimantan, Papua, Jawa, NTB, dan NTT mencatat suhu maksimum 35–37°C, sementara Majalengka dan Boven Digoel menyentuh angka tertinggi 37,6°C.

“Konsistensi tingginya suhu maksimum menunjukkan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” jelas Andri.

Meski demikian, BMKG memperkirakan potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif masih mungkin terjadi pada sore hingga malam hari di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menghindari paparan langsung sinar matahari, terutama pada siang hari.

“Tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak seperti hujan disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari,” tambah Guswanto.

BMKG meminta masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan peringatan dini melalui laman resmi bmkg.go.id, akun media sosial BMKG, serta aplikasi Info BMKG, guna mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas sehari-hari.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Perupa Eddy Susanto Raih Penghargaan UOB Painting of the Year Indonesia 2025

BERIKUTNYA

Hari Terakhir Pendaftaran Magang Nasional 2025 Batch 1, Simak Kuota dan Syarat Lengkapnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga