Panas Ekstrem Tingkatkan Risiko Kanker Kulit, Dokter Bagikan Langkah Pencegahannya
17 October 2025 |
11:08 WIB
Suhu panas ekstrem tengah melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi seperti ini akan berlanjut hingga akhir Oktober atau awal November 2025.
Paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi tentu membawa dampak pada kesehatan kulit. Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Arini Astasari Widodo menerangkan paparan sinar matahari yang kuat meningkatkan risiko terbakar dan kerusakan kulit akibat sinar UV yang berlebihan.
Kulit pun rentan mengalami dehidrasi akibat penguapan yang cepat dan peningkatan produksi minyak. Perubahan cuaca yang ekstrem juga dapat memperburuk kondisi kulit yang sudah ada, seperti eksim atau jerawat. Lebih parahnya lagi, paparan sinar UV yang berlebihan dari matahari, dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.
“Paparan UV berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada DNA sel kulit, yang pada gilirannya dapat menyebabkan pertumbuhan sel-sel kanker,” jelasnya kepada Hypeabis.id.
Baca juga: BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November
Risiko kanker kulit juga meningkat ketika kulit terbakar akibat paparan sinar matahari. Arini mengungkapkan, lima kali kulit terbakar sinar matahari sudah meningkatkan risiko dua kali lipat kanker kulit.
Kemudian, cuaca ekstrem dapat mempengaruhi lapisan ozon di atmosfer, yang bertanggung jawab untuk menyaring sebagian sinar UV berbahaya. Penurunan lapisan ozon ini dapat meningkatkan paparan UV di permukaan Bumi dan pada selanjutnya meningkatkan risiko kanker kulit.
Perubahan iklim global juga dapat mengakibatkan perubahan cuaca ekstrem, termasuk peningkatan suhu yang berpotensi memperpanjang musim panas. Ini dapat meningkatkan paparan sinar matahari dan risiko kanker kulit pada populasi yang terpapar secara berlebihan.
Kendati demikian, Arini menyampaikan, dengan menjaga barrier kulit, melindungi kulit dari sinar matahari, dan menggunakan produk perawatan yang tepat, masyarakat dapat membantu kulit tetap sehat dan terawat, meskipun di tengah cuaca yang ekstrem.
Langkah berikutnya, gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh saat berada di luar ruangan. Pilih pakaian dengan bahan yang ringan dan longgar untuk memberikan perlindungan dari sinar matahari tanpa membuat merasa terlalu panas.
Dia juga menyarankan untuk menggunakan topi dan kacamata hitam. Topi dengan tepi lebar dapat membantu melindungi wajah, kepala, dan leher dari paparan langsung sinar matahari. Sementara kacamata hitam dengan perlindungan UV juga penting untuk melindungi mata dan kulit di sekitar mata.
Hindari pula paparan langsung matahari pada jam-jam terik. Jika memungkinkan, cari tempat teduh atau gunakan payung saat berada di luar ruangan. Tidak kalah penting, gunakan pelembap secara teratur untuk menjaga kelembapan kulit. Hal ini sangat penting terutama setelah mandi atau setelah beraktivitas di bawah cuaca panas.
Hindari penggunaan sabun yang terlalu keras. Sabun yang mengandung bahan kimia keras dapat mengeringkan kulit. Pilihlah sabun yang lembut dan bebas pewangi untuk membersihkan kulit tanpa menghilangkan kelembapannya.
Asupan juga perlu diperhatikan. Konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dan nutrisi penting lainnya, seperti buah-buahan, sayuran, dan omega-3, dapat membantu menjaga kesehatan kulit dari dalam. “Pastikan untuk minum air dalam jumlah yang cukup setiap hari untuk menjaga hidrasi kulit dan mencegah dehidrasi,” ujar Arini.
Faktor lainnya adalah penguatan angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan hangat sehingga pembentukan awan minim serta radiasi matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.
“Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia,” tutur Guswanto.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengungkapkan, data BMKG mencatat pengamatan suhu maksimum mencapai di atas 35°C menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah yang paling berdampak suhu tinggi meliputi sebagian besar Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta beberapa wilayah Papua.
Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat sebesar 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Kemudian, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT) pada 13 Oktober 2025.
Lebih lanjut, suhu kembali meningkat pada 14 Oktober 2025, berkisar antara 34–37°C. Beberapa wilayah seperti Kalimantan, Papua, Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan suhu maksimum 35–37°C. Wilayah Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua) juga menunjukkan peningkatan suhu hingga 37,6°C.
“Konsistensi tingginya suhu maksimum di banyak wilayah menunjukkan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” katanya.
Baca juga: Bukan Sekadar Panas: Perubahan Iklim Picu Ledakan Kasus DBD dan TB
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi tentu membawa dampak pada kesehatan kulit. Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Arini Astasari Widodo menerangkan paparan sinar matahari yang kuat meningkatkan risiko terbakar dan kerusakan kulit akibat sinar UV yang berlebihan.
Kulit pun rentan mengalami dehidrasi akibat penguapan yang cepat dan peningkatan produksi minyak. Perubahan cuaca yang ekstrem juga dapat memperburuk kondisi kulit yang sudah ada, seperti eksim atau jerawat. Lebih parahnya lagi, paparan sinar UV yang berlebihan dari matahari, dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.
“Paparan UV berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada DNA sel kulit, yang pada gilirannya dapat menyebabkan pertumbuhan sel-sel kanker,” jelasnya kepada Hypeabis.id.
Baca juga: BMKG Ungkap Faktor Suhu Panas di Indonesia, Prediksi Berlanjut hingga November
Risiko kanker kulit juga meningkat ketika kulit terbakar akibat paparan sinar matahari. Arini mengungkapkan, lima kali kulit terbakar sinar matahari sudah meningkatkan risiko dua kali lipat kanker kulit.
Kemudian, cuaca ekstrem dapat mempengaruhi lapisan ozon di atmosfer, yang bertanggung jawab untuk menyaring sebagian sinar UV berbahaya. Penurunan lapisan ozon ini dapat meningkatkan paparan UV di permukaan Bumi dan pada selanjutnya meningkatkan risiko kanker kulit.
Perubahan iklim global juga dapat mengakibatkan perubahan cuaca ekstrem, termasuk peningkatan suhu yang berpotensi memperpanjang musim panas. Ini dapat meningkatkan paparan sinar matahari dan risiko kanker kulit pada populasi yang terpapar secara berlebihan.
Kendati demikian, Arini menyampaikan, dengan menjaga barrier kulit, melindungi kulit dari sinar matahari, dan menggunakan produk perawatan yang tepat, masyarakat dapat membantu kulit tetap sehat dan terawat, meskipun di tengah cuaca yang ekstrem.
Melindungi Kulit dari Paparan Panas Sinar Matahari
Nah, untuk melindungi kulit, Arini mengimbau masyarakat menggunakan tabir surya secara teratur. Tabir surya dengan perlindungan UVA dan UVB yang memadai harus digunakan setiap hari, bahkan saat cuaca mendung atau hujan. “Paparan sinar UV masih dapat terjadi di bawah awan dan dapat menyebabkan kerusakan kulit,” jelasnya.Langkah berikutnya, gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh saat berada di luar ruangan. Pilih pakaian dengan bahan yang ringan dan longgar untuk memberikan perlindungan dari sinar matahari tanpa membuat merasa terlalu panas.
Dia juga menyarankan untuk menggunakan topi dan kacamata hitam. Topi dengan tepi lebar dapat membantu melindungi wajah, kepala, dan leher dari paparan langsung sinar matahari. Sementara kacamata hitam dengan perlindungan UV juga penting untuk melindungi mata dan kulit di sekitar mata.
Hindari pula paparan langsung matahari pada jam-jam terik. Jika memungkinkan, cari tempat teduh atau gunakan payung saat berada di luar ruangan. Tidak kalah penting, gunakan pelembap secara teratur untuk menjaga kelembapan kulit. Hal ini sangat penting terutama setelah mandi atau setelah beraktivitas di bawah cuaca panas.
Hindari penggunaan sabun yang terlalu keras. Sabun yang mengandung bahan kimia keras dapat mengeringkan kulit. Pilihlah sabun yang lembut dan bebas pewangi untuk membersihkan kulit tanpa menghilangkan kelembapannya.
Asupan juga perlu diperhatikan. Konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dan nutrisi penting lainnya, seperti buah-buahan, sayuran, dan omega-3, dapat membantu menjaga kesehatan kulit dari dalam. “Pastikan untuk minum air dalam jumlah yang cukup setiap hari untuk menjaga hidrasi kulit dan mencegah dehidrasi,” ujar Arini.
Penyebab Suhu Panas di Sejumlah Wilayah Indonesia
Adapun, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan bahwa penyebab utama suhu panas hingga mencapai 37,6°C di sejumlah wilayah Indonesia disebabkan posisi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober berada di selatan ekuator.Faktor lainnya adalah penguatan angin timuran atau Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan hangat sehingga pembentukan awan minim serta radiasi matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal.
“Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia,” tutur Guswanto.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengungkapkan, data BMKG mencatat pengamatan suhu maksimum mencapai di atas 35°C menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah yang paling berdampak suhu tinggi meliputi sebagian besar Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta beberapa wilayah Papua.
Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat sebesar 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Kemudian, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT) pada 13 Oktober 2025.
Lebih lanjut, suhu kembali meningkat pada 14 Oktober 2025, berkisar antara 34–37°C. Beberapa wilayah seperti Kalimantan, Papua, Jawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan suhu maksimum 35–37°C. Wilayah Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua) juga menunjukkan peningkatan suhu hingga 37,6°C.
“Konsistensi tingginya suhu maksimum di banyak wilayah menunjukkan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” katanya.
Baca juga: Bukan Sekadar Panas: Perubahan Iklim Picu Ledakan Kasus DBD dan TB
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.