Pameran KukuruYUK! Hadir di Museum Batik Indonesia, Angkat Filosofi Ayam dalam Batik Nusantara
20 October 2025 |
16:08 WIB
Museum Batik Indonesia resmi membuka pameran kontemporer bertajuk KukuruYUK!: Ragam Motif Ayam dalam Batik Indonesia pada hari ini, Senin, 20 Oktober 2025, dan akan berlangsung sampai akhir Desember 2025. Pameran ini menampilkan koleksi batik yang menyoroti simbol dan filosofi ayam dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Kurator Museum Batik Indonesia Swa Setyawan Adinegoro mengatakan bahwa ide untuk mengadakan pameran dengan mengusung ayam sebagai tema besar berawal ketika tim melakukan eksplorasi koleksi Museum Batik Indonesia.
“Kami ingin menggali hewan-hewan apa saja yang ada di dalam batik,” ujarnya di Jakarta, Senin, 20 Oktober 2025.
Baca Juga: Wastra Batik dalam Siluet Kontemporer Karya Julianto sampai Parang Kencana di PIFW 2025
Dalam prosesnya, tim menemukan bahwa ada banyak dan beragam motif yang mengandung unsur ayam sehingga cukup untuk dijadikan satu tema pameran. Temuan itu memperlihatkan betapa dekatnya sosok ayam dengan kehidupan masyarakat Indonesia serta bagaimana hewan sederhana ini diolah menjadi simbol dalam berbagai konteks budaya.
Motif ayam hadir di banyak daerah dengan makna yang berbeda-beda. Di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, motif ayam tersemat sebagai simbol kasih sayang seorang ibu, terutama dalam upacara mitoni, yakni ketika seorang perempuan mengandung tujuh bulan.
Sementara itu, di daerah pesisir, motif ini kerap menghiasi kain sarung dan kain panjang. Pada masa kemerdekaan, ayam menjadi inspirasi bagi salah satu motif batik ikonik Indonesia yang turut dipamerkan.
Ayam juga menjadi hewan unik dalam batik karena hampir selurh bagian tubuhnya dapat dijadikan motif. Dari kaki, bulu, sampai organ dalam hewan ini pernah diadaptasi atau inspirasi menjadi pola yang menarik.
“Ini adalah satu hal yang belum kami temukan dalam hewan lain yang digambarkan di batik,” ujarnya.
Dia menambahkan, pameran KukuruYUK! juga disusun dengan mempertimbangkan karakter pengunjung Museum Batik Indonesia, yang pada umumnya kerap datang bersama keluarga dan anak-anak. Narasi dan tampilan visual yang tersaji pun dirancang agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Namun, tetap memiliki kedalaman makna bagi penikmat dan pengamat batik.
Dalam pameran temporer ini, ada 26 koleksi yang dapat dilihat oleh pengunjung. Dari total tersebut, 24 di antaranya adalah milik Museum Batik Indonesia. Sementara itu, 2 lainnya merupakan pinjaman dari pihak lain.
Dia menuturkan, ayam bukan hewan yang besar seperti gajah; bukan hewan garang atau ganas seperti harimau; dan bukan Binatang yang anggun seperti angsa. Ayam adalah makhluk yang bentunyak sangat sederhana.
Meskipun begitu, kesederhanaan itu bisa menginspirasi banyak orang, sehingga tercipta banyak motif yang dikenal seperti saat ini. Jadi, dia mengungkapkan bahwa pengelola berharap pameran ini dapat bermanfaat bagi para pengunjung.
Baca Juga: Sejarah dan Cara Merayakan Hari Batik Nasional 2 Oktober
Kurator Museum Batik Indonesia Swa Setyawan Adinegoro mengatakan bahwa ide untuk mengadakan pameran dengan mengusung ayam sebagai tema besar berawal ketika tim melakukan eksplorasi koleksi Museum Batik Indonesia.
“Kami ingin menggali hewan-hewan apa saja yang ada di dalam batik,” ujarnya di Jakarta, Senin, 20 Oktober 2025.
Baca Juga: Wastra Batik dalam Siluet Kontemporer Karya Julianto sampai Parang Kencana di PIFW 2025
Dalam prosesnya, tim menemukan bahwa ada banyak dan beragam motif yang mengandung unsur ayam sehingga cukup untuk dijadikan satu tema pameran. Temuan itu memperlihatkan betapa dekatnya sosok ayam dengan kehidupan masyarakat Indonesia serta bagaimana hewan sederhana ini diolah menjadi simbol dalam berbagai konteks budaya.
Motif ayam hadir di banyak daerah dengan makna yang berbeda-beda. Di wilayah Yogyakarta dan Surakarta, motif ayam tersemat sebagai simbol kasih sayang seorang ibu, terutama dalam upacara mitoni, yakni ketika seorang perempuan mengandung tujuh bulan.
Sementara itu, di daerah pesisir, motif ini kerap menghiasi kain sarung dan kain panjang. Pada masa kemerdekaan, ayam menjadi inspirasi bagi salah satu motif batik ikonik Indonesia yang turut dipamerkan.
Ayam juga menjadi hewan unik dalam batik karena hampir selurh bagian tubuhnya dapat dijadikan motif. Dari kaki, bulu, sampai organ dalam hewan ini pernah diadaptasi atau inspirasi menjadi pola yang menarik.
“Ini adalah satu hal yang belum kami temukan dalam hewan lain yang digambarkan di batik,” ujarnya.
Dia menambahkan, pameran KukuruYUK! juga disusun dengan mempertimbangkan karakter pengunjung Museum Batik Indonesia, yang pada umumnya kerap datang bersama keluarga dan anak-anak. Narasi dan tampilan visual yang tersaji pun dirancang agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Namun, tetap memiliki kedalaman makna bagi penikmat dan pengamat batik.
Dalam pameran temporer ini, ada 26 koleksi yang dapat dilihat oleh pengunjung. Dari total tersebut, 24 di antaranya adalah milik Museum Batik Indonesia. Sementara itu, 2 lainnya merupakan pinjaman dari pihak lain.
Dia menuturkan, ayam bukan hewan yang besar seperti gajah; bukan hewan garang atau ganas seperti harimau; dan bukan Binatang yang anggun seperti angsa. Ayam adalah makhluk yang bentunyak sangat sederhana.
Meskipun begitu, kesederhanaan itu bisa menginspirasi banyak orang, sehingga tercipta banyak motif yang dikenal seperti saat ini. Jadi, dia mengungkapkan bahwa pengelola berharap pameran ini dapat bermanfaat bagi para pengunjung.
Baca Juga: Sejarah dan Cara Merayakan Hari Batik Nasional 2 Oktober
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.