Koleksi Julianto for IWAN TIRTA (Sumber Foto: PIFW 2025)

Wastra Batik dalam Siluet Kontemporer Karya Julianto sampai Parang Kencana di PIFW 2025

07 October 2025   |   17:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Para desainer dan rumah mode kenamaan Tanah Air kembali menegaskan kreativitasnya di ajang Plaza Indonesia Fashion Week 2025. Pada pekan mode yang berlangsung 28 September - 5 Oktober tersebut, mereka menghadirkan koleksi terbaru yang menafsirkan ulang kekayaan wastra batik ke dalam rancangan busana kontemporer yang modis dan berkarakter. 

Melalui eksplorasi motif, siluet, dan material, batik dimaknai lebih dari sekadar pakaian tradisional, tetapi juga pernyataan mode yang luas. Koleksi-koleksi ini bisa menjadi inspirasi berbusana yang relevan untuk berbagai kesempatan, mulai dari tampilan kasual hingga formal.

Pertama ada desainer muda berbakat Julianto yang meluncurkan koleksi terbarunya, bertajuk Jagad Rasa. Berkolaborasi dengan Iwan Tirta Private Collection, Jagad Rasa menggambarkan perjalanan batin manusia melalui kekuatan estetika batik klasik dan sentuhan kontemporer khasnya.

Baca Juga: Gaun Pernikahan Selena Gomez dan Benny Blanco yang Simpel nan Elegan

Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin sejak 2024, ketika keduanya memperkenalkan lini eksklusif evening gown 'Julianto for IWAN TIRTA' yang mendapat sambutan hangat dari publik.

"Jagad Rasa terdiri dari 30 koleksi eksklusif, dibagi menjadi 22 busana wanita (womenswear) dan 8 busana pria (menswear)," ujar Julianto.

 

Juli (Sumber Foto: PIFW 2025)

Julianto for IWAN TIRTA (Sumber Foto: PIFW 2025)



Materialnya menggunakan kain batik berbahan sutra tenun dengan sentuhan embroidery, laser cut, serta aplikasi payet yang menambah keanggunan tanpa mengaburkan keindahan motif batik itu sendiri.

"Dari sisi warna, banyak digunakan palet klasik khas batik seperti cokelat sogan, hitam, emas, dan putih," lanjutnya.

Motif-motif batik klasik ditransformasikan Julianto ke dalam siluet yang modern, refined, dan penuh keanggunan. Setiap helai wastra tampil sebagai puisi visual yang menterjemahkan rasa ke dalam bentuk dan menghadirkan interpretasi baru tanpa menghilangkan akar tradisinya.

Koleksi ini sekaligus menegaskan komitmen Iwan Tirta Private Collection untuk menjaga keberlanjutan batik Indonesia dengan menghadirkan interpretasi yang segar bagi generasi baru. Melalui Jagad Rasa, masyarakat diajak kembali untuk merasakan batik secara lebih intim. Bukan hanya sekadar busana, melainkan sebagai refleksi jiwa dan keindahan budaya Indonesia yang tak lekang waktu.

Tak ketinggalan, Batik Keris mempersembahkan koleksi batik terbarunya berjudul Kharisma Senjakala - Keindahan Senja. Setiap busananya terinspirasi dari momen pergantian antara siang dan malam, ketika senja mulai temaram

Koleksi ini menampilkan 34 looks, berupa rangkaian busana dengan potongan mengalir untuk menemani aktivitas wanita dari ruang kerja sampai acara malam yang santai. Menghadirkan keseimbangan antara busana siang dan malam yang selaras dengan ritme kehidupan modern.

Ada juga koleksi Batik Sarimbit (seragam keluarga) dengan nuansa kasual untuk outfit liburan yang santai seperti kemeja dan gaun. Set busananya didominasi motif Batik berwarna cerah, seperti oranye-cokelat muda dan putih.

 

Batik Keris

Batik Keris (Sumber Foto: PIFW 2025)


Setiap busana dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan cita rasa seni yang memadukan keahlian tradisional dengan sentuhan desain kontemporer. Sebuah penghargaan terhadap masa lalu sekaligus pandangan menuju masa depan, di mana budaya dan mode berpadu dengan penuh keyakinan.

Sebagai rumah mode batik terkemuka di Indonesia, Batik Keris terus melestarikan warisannya dengan menjaga tradisi melalui inovasi. Didirikan pada 1947, Batik Keris tumbuh berkat kepemimpinan Kasom Tjokrosaputro dan istrinya, yang menjadikan merek ini sebagai salah satu pelopor industri batik nasional.

Sejak dekade 1970-an, Batik Keris dikenal sebagai perintis yang memperkenalkan batik Indonesia ke kancah mode internasional. Melalui peragaan busana dan pameran budaya, mereka ikut menjaga dan merayakan seni warisan bangsa.

Di sisi lain, ada jenama bateeq yang menghadirkan koleksi terbarunya bersama aktor Ferry Salim. Bertajuk Langit Rawates, rangkaian busana ini menampilkan batik sebagai bahasa ekspresi modern yang dikemas dalam siluet kasual, elegan, dan sarat makna.

Mengangkat filosofi melting pot, Langit Rawates menjadi representasi pertemuan lintas budaya, usia, dan gaya hidup. Koleksi ini memadukan kekayaan motif batik klasik seperti Mega Mendung, Parang, dan Kawung.

Elemen ilustrasi berbentuk pot turut dihadirkan sebagai simbol ruang yang merangkul keberagaman dan keterbukaan.

“Kolaborasi ini berawal dari inisiatif kami untuk mengajak Ferry Salim, sosok yang kami nilai mewakili karakter pria Indonesia modern dengan gaya khas dan pandangan progresif terhadap budaya,” ujar Robert Gunawan, Brand Manager bateeq. 

Ferry Salim, yang terlibat langsung dalam proses kreatif koleksi ini, mengungkapkan keinginannya untuk membawa batik ke ranah yang lebih universal. 

“Saya ingin batik terasa relevan, bisa dipakai ke mana saja, oleh siapa saja, tanpa kehilangan jiwanya. Koleksi ini bukan hanya tentang gaya, tapi juga tentang makna,” ujarnya.


 

bateeq

bateeq X Ferry Salim (Sumber Foto: PIFW 2025)


Koleksi ini menghadirkan ragam motif batik otentik seprerti Mega Mendung, Parang, dan Kawung yang tenang dan membumi. Motif tersebut ditafsirkan ulang secara halus menjadi deretan busana kasual yang segar namun tetap menghormati akar tradisinya. 

Sementara dari sisi siluet dan styling, semangat inklusivitas diterjemahkan melalui potongan busana yang ringan dan mudah dipakai. Misalnya bermain dengan bentuk yang longgar, layering kasual, dan warna yang versatile. Tujuannya agar setiap orang dapat mengekspresikan dirinya dengan nyaman.

Hadir dalam palet warna netral hingga earthy tones, Langit Rawates menjadi refleksi perjalanan batik menuju ruang ekspresi yang lebih luas, di mana wastra diaplikasikan dalam gaya kontemporer. Koleksi ini memperlihatkan bagaimana batik terus hidup, bercerita, dan beradaptasi dalam lanskap gaya hidup masa kini.

Jenama lainnya yang menampilkan koleksinya di Plaza Indonesia Fashion Week 2025, ada Parang Kencana yang mempersembahkan koleksi SHIKI - A Dance of Season. Terinspirasi dari empat musim di Jepang, yakni Haru (musim semi), Natsu (musim panas), Aki (musim gugur), dan Fuyu (musim dingin), SHIKI menerjemahkan karakter setiap musim ke dalam ragam warna, tekstur, dan motif yang memukau. 

Melalui keanggunan batik yang tak lekang waktu, koleksi ini mengajak orang-orang menikmati perjalanan siklus alam, di mana keindahan terus berganti, namun elegansi tetap abadi.

Menggabungkan tradisi dan inovasi, SHIKI mengadaptasi motif kimono klasik Jepang melalui sentuhan keterampilan batik Indonesia. Ragam flora yang menjadi simbol sepanjang tahun, mulai dari krisan, bunga sakura, plum, bambu, anyelir, hingga kamelia tersusun dalam komposisi harmonis yang mencerminkan keseimbangan, keanggunan, dan keterkaitan antar musim.

 

Parang Kencana

Parang Kencana (Sumber Foto: PIFW 2025)


Presentasi mode dimulai dengan kemeriahan musim panas, menghadirkan kain katun dalam semburat warna cerah. Siluet kimono berpadu dengan rok sarung dan garis leher bergaya kebaya, memancarkan energi muda yang penuh semangat. 

Musim semi hadir dengan kain lembut dalam nuansa merah muda, menampilkan lengan lebar yang berayun lembut bagaikan kelopak bunga bermekaran.

Musim gugur menghadirkan palet warna hangat seperti amber, terracotta, dan cokelat bata, dengan siluet berlapis yang menggambarkan keindahan dedaunan berguguran. 

Musim dingin menutup siklus dengan nuansa biru malam pekat dan hitam arang, dibalut tekstur hangat dari bahan korduroi.

Parang Kencana berkolaborasi dengan dua perajin kreatif untuk menyempurnakan visi SHIKI. Mereka adalah Hutama Sari dan Marista Santividya.

Hutama Sari menciptakan aksesori eksklusif dengan keahlian seni logamnya, mulai dari hiasan kepala skulptural hingga gelang elegan terinspirasi oleh alam, tradisi, dan bentuk modern. Sementara Marista Santividya melengkapi koleksi dengan sepatu buatan tangan yang dihiasi motif batik khas Parang Kencana. Memadukan kenyamanan, seni, dan warisan budaya dalam setiap pasangnya.

Melalui SHIKI, Parang Kencana menghadirkan lebih dari sekadar koleksi mode. Ini adalah kisah tentang musim, budaya, dan seni yang saling terjalin.

Baca Juga: Menengok Koleksi Mahasiswa dan Alumni ESMOD Jakarta di Fashion Nation XIX

SEBELUMNYA

Hotel di Mandalika Penuh saat MotoGP 2025, Perputaran Ekonomi Mencapai Rp4,8 Triliun

BERIKUTNYA

Ponpes Al Khoziny Ambruk, Kenali Perbedaan Struktur Bangunan Satu Lantai & Bertingkat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga