Apakah Kekurangan Vitamin D Bisa Bikin Berat Badan Naik? Ini Penjelasan Ilmiahnya
19 October 2025 |
10:42 WIB
Kekurangan vitamin D selama ini sering dikaitkan dengan tulang rapuh dan daya tahan tubuh yang lemah. Tapi belakangan, muncul pertanyaan menarik: benarkah kadar vitamin D yang rendah juga bisa menyebabkan kenaikan berat badan?
Dilansir dari Healthline, sejumlah studi menemukan adanya hubungan antara defisiensi vitamin D dan berat badan yang lebih tinggi, meski arah hubungan ini belum sepenuhnya jelas. Dengan kata lain, belum diketahui pasti apakah kekurangan vitamin D menyebabkan berat badan naik — atau justru berat badan berlebih membuat kadar vitamin D menurun.
Vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, otak, dan sistem kekebalan tubuh. Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh bisa mengalami kelelahan, nyeri otot, bahkan pengeroposan tulang dalam jangka panjang. Kekurangan vitamin D juga bisa menurunkan metabolisme tubuh, yang secara tidak langsung memengaruhi keseimbangan energi dan berat badan.
Baca Juga: Simak Jenis & Durasi Olahraga yang Aman untuk Penderita Obesitas Menurut Dokter
Menurut ulasan riset Migliaccio S dkk. berjudul "Obesity and hypovitaminosis D: causality or casualty?" pada 2019, ada dua teori utama yang menjelaskan kaitan antara vitamin D dan berat badan. Pertama, vitamin D diduga dapat menghambat pembentukan sel lemak. Jadi, jika kadar vitamin D rendah, tubuh mungkin lebih mudah menimbun lemak baru. Kedua, orang dengan obesitas cenderung memiliki kadar vitamin D lebih rendah karena vitamin ini tersimpan di jaringan lemak, bukan langsung beredar di aliran darah.
Menariknya, riset terbaru pada 2024 juga menemukan bahwa tubuh orang dengan obesitas mungkin kurang efisien dalam mengubah sinar matahari menjadi vitamin D dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal. Artinya, untuk mencapai kadar vitamin D yang sama, orang dengan berat badan lebih tinggi mungkin membutuhkan paparan sinar matahari atau asupan yang lebih banyak.
Namun, sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa menambah konsumsi vitamin D secara langsung bisa menurunkan berat badan. Meski begitu, sebuah studi kecil tahun 2018 menunjukkan bahwa suplemen vitamin D dosis 50.000 IU per minggu selama enam minggu dapat menurunkan berat badan, lingkar pinggang, dan indeks massa tubuh (BMI) peserta penelitian.
Para ahli menilai bahwa hubungan vitamin D dan berat badan bersifat dua arah (bidirectional relationship) — di mana kadar vitamin D yang rendah bisa berkontribusi pada kenaikan berat badan, sementara berat badan yang tinggi juga bisa memperburuk kekurangan vitamin D. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanismenya secara pasti.
Walaupun belum terbukti ampuh untuk menurunkan berat badan, mencukupi kebutuhan vitamin D tetap penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Salah satu cara termudah adalah dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi selama 10–15 menit per hari. Namun, tetap perlu hati-hati dengan paparan sinar UV — gunakan tabir surya dan pelindung kulit seperlunya.
Selain dari matahari, vitamin D juga bisa diperoleh dari makanan seperti kuning telur, ikan berlemak (salmon, sarden, tuna), jamur, serta susu dan sereal yang difortifikasi. Bila diperlukan, kamu juga bisa mengonsumsi suplemen sesuai anjuran dokter. Dosis umum untuk orang dewasa adalah 600 IU atau 15 mikrogram per hari, tetapi kebutuhan bisa berbeda tergantung usia, berat badan, dan kondisi kesehatan.
Jika kamu curiga mengalami defisiensi vitamin D — misalnya sering merasa lelah, nyeri otot, atau berat badan naik tanpa sebab — sebaiknya segera memeriksakan kadar vitamin D melalui tes darah. Dokter dapat membantu menentukan apakah kamu perlu perubahan gaya hidup, suplemen, atau perawatan lanjutan.
Kesimpulannya, penelitian memang menunjukkan adanya hubungan potensial antara kekurangan vitamin D dan peningkatan berat badan, tetapi hubungan ini tidak sesederhana sebab-akibat. Terlepas dari kaitannya dengan berat badan, memastikan kadar vitamin D yang cukup adalah langkah penting untuk menjaga tubuh tetap sehat, bugar, dan berenergi setiap hari.
Baca Juga: Tren Diet Naik, Tapi Kesadaran Obesitas Masih Rendah
Dilansir dari Healthline, sejumlah studi menemukan adanya hubungan antara defisiensi vitamin D dan berat badan yang lebih tinggi, meski arah hubungan ini belum sepenuhnya jelas. Dengan kata lain, belum diketahui pasti apakah kekurangan vitamin D menyebabkan berat badan naik — atau justru berat badan berlebih membuat kadar vitamin D menurun.
Vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang, otak, dan sistem kekebalan tubuh. Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh bisa mengalami kelelahan, nyeri otot, bahkan pengeroposan tulang dalam jangka panjang. Kekurangan vitamin D juga bisa menurunkan metabolisme tubuh, yang secara tidak langsung memengaruhi keseimbangan energi dan berat badan.
Baca Juga: Simak Jenis & Durasi Olahraga yang Aman untuk Penderita Obesitas Menurut Dokter
Menurut ulasan riset Migliaccio S dkk. berjudul "Obesity and hypovitaminosis D: causality or casualty?" pada 2019, ada dua teori utama yang menjelaskan kaitan antara vitamin D dan berat badan. Pertama, vitamin D diduga dapat menghambat pembentukan sel lemak. Jadi, jika kadar vitamin D rendah, tubuh mungkin lebih mudah menimbun lemak baru. Kedua, orang dengan obesitas cenderung memiliki kadar vitamin D lebih rendah karena vitamin ini tersimpan di jaringan lemak, bukan langsung beredar di aliran darah.
Menariknya, riset terbaru pada 2024 juga menemukan bahwa tubuh orang dengan obesitas mungkin kurang efisien dalam mengubah sinar matahari menjadi vitamin D dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal. Artinya, untuk mencapai kadar vitamin D yang sama, orang dengan berat badan lebih tinggi mungkin membutuhkan paparan sinar matahari atau asupan yang lebih banyak.
Namun, sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa menambah konsumsi vitamin D secara langsung bisa menurunkan berat badan. Meski begitu, sebuah studi kecil tahun 2018 menunjukkan bahwa suplemen vitamin D dosis 50.000 IU per minggu selama enam minggu dapat menurunkan berat badan, lingkar pinggang, dan indeks massa tubuh (BMI) peserta penelitian.
Para ahli menilai bahwa hubungan vitamin D dan berat badan bersifat dua arah (bidirectional relationship) — di mana kadar vitamin D yang rendah bisa berkontribusi pada kenaikan berat badan, sementara berat badan yang tinggi juga bisa memperburuk kekurangan vitamin D. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanismenya secara pasti.
Walaupun belum terbukti ampuh untuk menurunkan berat badan, mencukupi kebutuhan vitamin D tetap penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Salah satu cara termudah adalah dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi selama 10–15 menit per hari. Namun, tetap perlu hati-hati dengan paparan sinar UV — gunakan tabir surya dan pelindung kulit seperlunya.
Selain dari matahari, vitamin D juga bisa diperoleh dari makanan seperti kuning telur, ikan berlemak (salmon, sarden, tuna), jamur, serta susu dan sereal yang difortifikasi. Bila diperlukan, kamu juga bisa mengonsumsi suplemen sesuai anjuran dokter. Dosis umum untuk orang dewasa adalah 600 IU atau 15 mikrogram per hari, tetapi kebutuhan bisa berbeda tergantung usia, berat badan, dan kondisi kesehatan.
Jika kamu curiga mengalami defisiensi vitamin D — misalnya sering merasa lelah, nyeri otot, atau berat badan naik tanpa sebab — sebaiknya segera memeriksakan kadar vitamin D melalui tes darah. Dokter dapat membantu menentukan apakah kamu perlu perubahan gaya hidup, suplemen, atau perawatan lanjutan.
Kesimpulannya, penelitian memang menunjukkan adanya hubungan potensial antara kekurangan vitamin D dan peningkatan berat badan, tetapi hubungan ini tidak sesederhana sebab-akibat. Terlepas dari kaitannya dengan berat badan, memastikan kadar vitamin D yang cukup adalah langkah penting untuk menjaga tubuh tetap sehat, bugar, dan berenergi setiap hari.
Baca Juga: Tren Diet Naik, Tapi Kesadaran Obesitas Masih Rendah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.