Tren Diet Naik, Tapi Kesadaran Obesitas Masih Rendah
16 October 2025 |
08:33 WIB
1
Like
Like
Like
Isu obesitas belakangan menjadi topik yang gampang ditemui di berbagai perbincangan di media sosial. Kesadaran publik untuk terhindar dari risiko obesitas memang meningkat. Tak sedikit di antara mereka yang kemudian mencoba produk pendukung diet agar proses penurunan berat badan lebih terarah dan aman.
VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengungkapkan bahwa konsultasi daring dengan spesialis gizi klinis terkait manajemen berat badan meningkat pesat sepanjang 2025 di platformnya. Selain itu, tingginya minat publik untuk mengatasi obesitas juga tercermin dari kenaikan produk kesehatan terkait manajemen berat badan.
Baca juga: Hari Alpukat Sedunia: Manfaat Alpukat untuk Diet dan Kesehatan Jantung
Dalam survei Perilaku Pengguna Halodoc dalam Manajemen Berat Badan, tercatat adanya kenaikan hingga 55 persen (year-on-year) untuk pembelian produk weight management selama kuartal pertama hingga ketiga tahun 2025.
Menariknya, sebanyak 72 persen dari pembeli tersebut adalah perempuan, dengan rentang usia antara 25 hingga 49 tahun. Angka ini, katanya, memperlihatkan bahwa kelompok usia produktif menjadi segmen paling aktif dalam upaya menjaga kesehatan dan bentuk tubuh mereka.
Namun, terkait dengan jumlah perempuan yang lebih banyak membeli produk diet, Hasim menilai fenomena ini bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, ada kemungkinan awareness perempuan terhadap isu obesitas memang lebih besar. Oleh karena itu, keinginan untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat pun tercermin dengan jumlah yang lebih besar dibanding laki-laki.
Kedua, fenomena ini juga bisa dibaca karena secara prevalensi, jumlah obesitas perempuan memang lebih besar dibanding laki-laki. "Tentu ini masih perlu analisis lebih dalam untuk menjawab fenomena ini. Namun, memang, bisa jadi ini merefleksikan keadaan umum saja, jumlah obesitas perempuan memang tercatat lebih besar," ungkapnya dalam konferensi pers peluncuran Halofit: Solusi Klinik Obesitas Digital dengan Program Klinis dan Menyeluruh, Rabu, (15/10/2025).
Meskipun minat masyarakat untuk membeli produk kesehatan yang berkaitan dengan manajemen berat badan terus meningkat, tingkat kesadaran terhadap isu obesitas masih tergolong rendah. Studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) yang dilakukan oleh Novo Nordisk di kawasan Asia Pasifik (APAC) menunjukkan bahwa pembahasan mengenai berat badan masih sangat terbatas.
Hanya sekitar 30 persen individu dengan obesitas yang pernah berdiskusi dengan tenaga profesional kesehatan mengenai kondisi berat badannya dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) memperlihatkan bahwa angka obesitas nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, prevalensi obesitas tercatat sebesar 21,8 persen, dan naik menjadi 23,4 persen pada 2023. Dengan tren tersebut, diperkirakan lebih dari 68 juta orang dewasa di Indonesia akan hidup dengan obesitas pada tahun 2025.
Temuan serupa juga terlihat dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Kementerian Kesehatan pada Juni 2025. Dari data tersebut, diketahui bahwa lebih dari 50 persen perempuan dan 25 persen laki-laki di Indonesia mengalami obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di area perut yang berisiko tinggi memicu penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara peningkatan konsumsi produk pengelola berat badan dan tingkat kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi secara medis. Dengan kata lain, banyak orang sudah mengambil langkah untuk menurunkan berat badan, tetapi belum sepenuhnya memahami pentingnya pendampingan dan penanganan profesional dalam proses tersebut.
Bukan sekadar Obat
Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, Waluyo Dwi Cahyono, menegaskan bahwa keberhasilan penurunan berat badan tidak semata-mata ditentukan oleh penggunaan obat. Menurutnya, diperlukan intervensi yang menyeluruh melalui berbagai program yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
“Yang terpenting, proses ini tetap harus berada di bawah pengawasan dokter agar hasilnya aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa obesitas merupakan kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis lain seperti diabetes, hipertensi, jantung, dan stroke.
Mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Obesitas 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, pendekatan terbaik dalam penanganan obesitas adalah dilakukan secara terpadu, yakni dengan menggabungkan perubahan gaya hidup, dukungan perilaku, terapi medis, serta pemantauan rutin oleh dokter.
Waluyo menekankan pentingnya pendampingan menyeluruh bagi pasien obesitas, mulai dari asesmen kondisi tubuh hingga edukasi tentang gaya hidup sehat. Di sisi lain, Waluyo juga menyoroti masih banyaknya informasi keliru seputar penanganan obesitas yang beredar di masyarakat.
Salah satu yang paling sering ditemui, katanya, adalah anggapan bahwa diet tanpa mengonsumsi karbohidrat merupakan cara efektif untuk menurunkan berat badan. Menurutnya, pandangan tersebut sangatlah keliru.
Menurutnya, karbohidrat memiliki peran penting bagi tubuh, terutama sebagai sumber utama energi bagi otak. Hal ini karena glukosa yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi otak berasal dari karbohidrat, bukan dari protein.
“Jadi, diet yang sama sekali tanpa karbohidrat itu juga salah, glukosa yang bisa masuk ke dalam otak itu satu-satunya dari karbohidrat. Yang perlu diatur kan sebenarnya porsinya," ungkapnya.
Dokter Waluyo menegaskan bahwa kunci utama dalam menjalani diet adalah menyesuaikan asupan kalori dengan kebutuhan tubuh. Kemudian, katanya, seseorang juga perlu lebih bijak dalam memilih makanan, termasuk dengan mengurangi konsumsi makanan manis dan berminyak yang dapat memicu penumpukan lemak.
Lebih lanjut, Waluyo juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan komposisi gizi dalam pola makan sehari-hari. Sebab, tubuh tetap memerlukan asupan lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin agar proses metabolisme berjalan optimal dan kesehatan tubuh tetap terjaga selama menjalani program diet.
Baca juga: Apakah Detox Juice & Infused Water Ampuh Membantu Diet? Begini Kata Ahli Nutrisi
VP Consultation & Diagnostics Halodoc, Ignasius Hasim, mengungkapkan bahwa konsultasi daring dengan spesialis gizi klinis terkait manajemen berat badan meningkat pesat sepanjang 2025 di platformnya. Selain itu, tingginya minat publik untuk mengatasi obesitas juga tercermin dari kenaikan produk kesehatan terkait manajemen berat badan.
Baca juga: Hari Alpukat Sedunia: Manfaat Alpukat untuk Diet dan Kesehatan Jantung
Dalam survei Perilaku Pengguna Halodoc dalam Manajemen Berat Badan, tercatat adanya kenaikan hingga 55 persen (year-on-year) untuk pembelian produk weight management selama kuartal pertama hingga ketiga tahun 2025.
Menariknya, sebanyak 72 persen dari pembeli tersebut adalah perempuan, dengan rentang usia antara 25 hingga 49 tahun. Angka ini, katanya, memperlihatkan bahwa kelompok usia produktif menjadi segmen paling aktif dalam upaya menjaga kesehatan dan bentuk tubuh mereka.
Namun, terkait dengan jumlah perempuan yang lebih banyak membeli produk diet, Hasim menilai fenomena ini bisa dilihat dari beberapa sisi. Pertama, ada kemungkinan awareness perempuan terhadap isu obesitas memang lebih besar. Oleh karena itu, keinginan untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat pun tercermin dengan jumlah yang lebih besar dibanding laki-laki.
Kedua, fenomena ini juga bisa dibaca karena secara prevalensi, jumlah obesitas perempuan memang lebih besar dibanding laki-laki. "Tentu ini masih perlu analisis lebih dalam untuk menjawab fenomena ini. Namun, memang, bisa jadi ini merefleksikan keadaan umum saja, jumlah obesitas perempuan memang tercatat lebih besar," ungkapnya dalam konferensi pers peluncuran Halofit: Solusi Klinik Obesitas Digital dengan Program Klinis dan Menyeluruh, Rabu, (15/10/2025).
Meskipun minat masyarakat untuk membeli produk kesehatan yang berkaitan dengan manajemen berat badan terus meningkat, tingkat kesadaran terhadap isu obesitas masih tergolong rendah. Studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) yang dilakukan oleh Novo Nordisk di kawasan Asia Pasifik (APAC) menunjukkan bahwa pembahasan mengenai berat badan masih sangat terbatas.
Hanya sekitar 30 persen individu dengan obesitas yang pernah berdiskusi dengan tenaga profesional kesehatan mengenai kondisi berat badannya dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) memperlihatkan bahwa angka obesitas nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, prevalensi obesitas tercatat sebesar 21,8 persen, dan naik menjadi 23,4 persen pada 2023. Dengan tren tersebut, diperkirakan lebih dari 68 juta orang dewasa di Indonesia akan hidup dengan obesitas pada tahun 2025.
Temuan serupa juga terlihat dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Kementerian Kesehatan pada Juni 2025. Dari data tersebut, diketahui bahwa lebih dari 50 persen perempuan dan 25 persen laki-laki di Indonesia mengalami obesitas sentral, yaitu penumpukan lemak di area perut yang berisiko tinggi memicu penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi.
Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara peningkatan konsumsi produk pengelola berat badan dan tingkat kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi secara medis. Dengan kata lain, banyak orang sudah mengambil langkah untuk menurunkan berat badan, tetapi belum sepenuhnya memahami pentingnya pendampingan dan penanganan profesional dalam proses tersebut.
Bukan sekadar Obat
Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi Metabolik dan Diabetes, Waluyo Dwi Cahyono, menegaskan bahwa keberhasilan penurunan berat badan tidak semata-mata ditentukan oleh penggunaan obat. Menurutnya, diperlukan intervensi yang menyeluruh melalui berbagai program yang disesuaikan dengan kondisi pasien.
“Yang terpenting, proses ini tetap harus berada di bawah pengawasan dokter agar hasilnya aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa obesitas merupakan kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis lain seperti diabetes, hipertensi, jantung, dan stroke.
Mengacu pada Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Obesitas 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI, pendekatan terbaik dalam penanganan obesitas adalah dilakukan secara terpadu, yakni dengan menggabungkan perubahan gaya hidup, dukungan perilaku, terapi medis, serta pemantauan rutin oleh dokter.
Waluyo menekankan pentingnya pendampingan menyeluruh bagi pasien obesitas, mulai dari asesmen kondisi tubuh hingga edukasi tentang gaya hidup sehat. Di sisi lain, Waluyo juga menyoroti masih banyaknya informasi keliru seputar penanganan obesitas yang beredar di masyarakat.
Salah satu yang paling sering ditemui, katanya, adalah anggapan bahwa diet tanpa mengonsumsi karbohidrat merupakan cara efektif untuk menurunkan berat badan. Menurutnya, pandangan tersebut sangatlah keliru.
Menurutnya, karbohidrat memiliki peran penting bagi tubuh, terutama sebagai sumber utama energi bagi otak. Hal ini karena glukosa yang dibutuhkan untuk menunjang fungsi otak berasal dari karbohidrat, bukan dari protein.
“Jadi, diet yang sama sekali tanpa karbohidrat itu juga salah, glukosa yang bisa masuk ke dalam otak itu satu-satunya dari karbohidrat. Yang perlu diatur kan sebenarnya porsinya," ungkapnya.
Dokter Waluyo menegaskan bahwa kunci utama dalam menjalani diet adalah menyesuaikan asupan kalori dengan kebutuhan tubuh. Kemudian, katanya, seseorang juga perlu lebih bijak dalam memilih makanan, termasuk dengan mengurangi konsumsi makanan manis dan berminyak yang dapat memicu penumpukan lemak.
Lebih lanjut, Waluyo juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan komposisi gizi dalam pola makan sehari-hari. Sebab, tubuh tetap memerlukan asupan lengkap yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin agar proses metabolisme berjalan optimal dan kesehatan tubuh tetap terjaga selama menjalani program diet.
Baca juga: Apakah Detox Juice & Infused Water Ampuh Membantu Diet? Begini Kata Ahli Nutrisi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.