Penulis Korea Selatan, Baek Se-hee (Sumber gambar: IG/ _baeksehee)

Baek Se-hee, Penulis I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, Wafat di Usia 35 Tahun

17 October 2025   |   20:10 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Kabar duka datang dari dunia sastra Korea Selatan. Penulis Baek Se-hee menghembuskan napas terakhirnya pada usia 35 tahun. Penulis buku berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki itu telah menginspirasi jutaan pembaca di seluruh dunia lewat tulisannya yang jujur dan penuh empati tentang perjuangan menghadapi depresi.

Dikutip dari berbagai sumber, Baek Se-hee adalah wanita kelahiran Goyang, Gyeonggi, Korea Selatan pada 1990. Anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah menunjukkan ketertarikannya dengan dunia sastra sejak kecil yang ditunjukkan dengan rajin membaca dan menulis.

Baca juga: Darurat Depresi di Asia Pasifik, Remaja Dewasa jadi Kelompok Paling Rentan

Saat menempuh pendidikan tinggi, sang penulis pun memilih belajar studi penulisan kreatif. Jurusan ini disebut-sebut diambilnya pada tahun ketiga kuliah, yang berarti bahwa dia sempat mengambil jurusan lain.

Setelah itu, dia bekerja di dunia penerbitan selama 5 tahun. Kehidupan sang penulis ternyata tidak semulus kebanyakan orang.

Dia ternyata mengalami distimia atau gangguan depresi persisten dalam waktu yang tidak sebentar, yakni 10 tahun. Depresi persisten yang dialaminya diperkirakan sudah muncul sejak remaja lantaran sifat pemalu atau penyendirinya kerap membuat sang penulis mudah jatuh ke dalam perasaan sedih atau murung sejak masa sekolah menengah atas (SMA).

Baek yang tidak ingin jatuh dalam gangguan depresi persisten pun berusaha dengan keras melawannya. Depresi ini kerap membuat seseorang merasakan perasaan sedih secara terus-menerus tanpa alasan yang jelas.

Sadar akan kondisi yang dialami, Baek pun mencari bantuan psikiater dan menjalani terapi selama beberapa tahun. Catatan-catatan nyata dari sesi terapi yang dijalani bersama psikiater pun menjadi dasarnya dalam menulis buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki.
 

Alasannya menulis buku tersebut lantaran ingin mengetahui penyebab diri merasa sedih. Padahal, dia seharusnya merasa senang karena harinya berjalan dengan baik.

Tidak hanya itu, tujuannya menulis buku pun berkembang. Dia ingin orang lain yang membaca bukunya sadar bahwa tidak masalah jika keadaan tidak baik-baik saja. Dengan begitu, mereka yang berada dalam kondisi tersebut dapat tetap bertahan.

Pikirannya yang jujur tentang banyak hal yang dilaluinya membuat buku itu mendapatkan sambutan hangat dari para pembacanya. Kehidupan Baek menjadi inspirasi banyak orang untuk bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup. Dia menunjukkan, saat terdapat keinginan meninggal akibat depresi, selalu ada hasrat kecil untuk bertahan hidup lewat hal sederhana, seperti makanan tteokbokki.

Kesuksesan I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki membuat nama Baek melambung, tidak hanya di Korea Selatan. Namun, namanya juga dikenal di belahan dunia lainnya. Banyak media besar menulis tentang profilnya.

Seperti dua sisi mata uang, ketenaran yang diperoleh juga memberikan beban terhadap kehidupannya. Orang-orang kerap berpikir bahwa Baek sudah sembuh hanya karena menulis buku tentang depresi. Padahal, di balik itu semua, dia juga masih berjuang untuk bertahan hidup setiap harinya.

Tidak hanya itu, banyak orang juga meminta nasihat atau curhat tentang depresi. Permintaan ini disyukurinya. Namun, dia merasa kewalahan mengingat Baek bukan seorang psikiater yang memberikan terapi.

Setelah kesuksesan I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, Baek pun menulis buku lainnya, seperti I Want To Die but I Want To Eat Tteokbokki 2. Buku-buku lainnya, seperti A Will from Barcelona, juga telah dibaca oleh banyak orang di banyak negara. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

3 Kiat Memilih Cat Untuk Hunian yang Estetis

BERIKUTNYA

Penipu Online Gunakan Film Demon Slayer untuk Curi Data Pribadi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga