Niaga dan Nostalgia: Menyusuri Wajah Dagang Jakarta dalam Pameran Lo Jual Gua Beli
16 October 2025 |
16:30 WIB
Iklan menggunakan ejaan van Ophuysen, itu terpampang jelas: Djoewal Barang-Barang Tiongkok, dan Euro Laen. Di bawahnya, potongan brosur dikolase menjadi informasi yang berjejal. Ada yang mengiklankan obat batuk, lampu minyak, hingga minuman anggur cap Ikan Mas.
Senarai brosur pertokoan di kawasan Glodok itu diambil dari majalah-majalah yang sudah berkalang tanah. Ada Pandji Poestaka, Djawa Baroe, serta buku peringatan Slawi Slamet, medio 1942–1945, atau pada masa pendudukan pemerintah fasis Jepang di Tanah Air.
Baca juga: Food Monster Mangmoel Hadir dalam Duo Pameran Edible Dreams & Playful Bites
Berjudul Jual Berbagai Macam Keperluan (2025) karya Adi “Dhigelz” Setiawan ini menjadi salah satu yang mencolok dalam pameran Lo Jual Gua Beli di Emiria Soenasa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Karya ini barangkali dapat menjadi titik tolok untuk menelusuri Jakarta sebagai kota dagang.
Sejak abad ke-12, Jakarta yang kala itu dikenal dengan nama Sunda Kelapa telah menjadi kota dagang yang sibuk. Kapal-kapal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah bahkan sudah membawa barang-barang seperti porselen, sutra, dan wewangian untuk ditukar dengan rempah-rempah.
Momen itu pun berlanjut hingga hari ini. Setelah lebih dari empat abad, Jakarta terus bersalin rupa. Toko-toko beralih menjadi lokapasar, sistem barter berubah menjadi jual beli dalam genggaman. Jakarta pun masih menjadi penyumbang ekonomi tertinggi nasional sebesar 16,61 persen.
Hematnya, pameran arsip yang mengungkai sejarah panjang Jakarta sebagai kota dagang ini mencoba menarik benang merah tersebut. Pengunjung diajak menyusuri bagaimana kota bertransformasi dari sebuah pelabuhan kecil yang penuh malaria hingga menjadi pusat perekonomian nasional dan global.
Simak saja repro arsip koleksi Rijksmuseum dari Andresa Beeckman sekitar 1662 bertajuk Kastil Batavia Dilihat dari Tepi Kali Besar. Lukisan ini menampilkan pemandangan markas VOC dengan kerumunan para pedagang Eropa-Asia yang melakukan transaksi jual beli di bawah rindang pohon kelapa.
Pada fase yang lebih modern, kita juga disuguhi arsip lain saat Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, mengunjungi Pasar Tanah Abang. Sayangnya, arsip ini tidak diberi deskripsi yang jelas, entah sedang meresmikan pembangunan atau meninjau kondisi pasar yang didirikan oleh Yustinus Vinck pada 1735.
Dari segi tata letak, pameran ini dibagi menjadi tujuh bagian yang menggambarkan Jakarta tumbuh lewat logika pasar, daya tarik iklan, dan imajinasi konsumsi. Namun, ini juga tak lepas dari kritik, hampir seluruh bagian dijejali tulisan panjang yang tentu membuat pengunjung hanya tertarik melihat gambar.
Baca juga: Refleksikan Denyut Kota, Amuya Gallery Siap Hadirkan Pameran Otak-atik Jakarta
Kurator Rifandi S. Nugroho menulis, sejak zaman baheula Jakarta memang telah menjadi kota dagang. Perdagangan ini, paparnya, juga turut membentuk wajah dan irama kota. Di setiap masa, ruang-ruang tersebut juga berubah, kadang menjadi tempat transaksi, panggung gaya hidup, atau arena negosiasi antara identitas dan kekuasaan.
“Denyut niaganya nggak pernah mati, terus berdetak di antara pelabuhan, pasar, toko, mal, sampai layar gawai kita hari ini. Di sini orang datang buat mencari rezeki, atau sekadar nongkrong sambil melihat dunia lewat etalase dan reklame,” katanya.
Pameran Lo Jual Gua Beli merupakan bagian dari Festival Pustakarsa 2025 yang menggabungkan tiga kegiatan besar. Selain pameran ini, Genhype juga bisa mengunjungi Festival Literasi Jakarta dan Festival Sastra PDS HB Jassin, yang semuanya dihelat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Senarai brosur pertokoan di kawasan Glodok itu diambil dari majalah-majalah yang sudah berkalang tanah. Ada Pandji Poestaka, Djawa Baroe, serta buku peringatan Slawi Slamet, medio 1942–1945, atau pada masa pendudukan pemerintah fasis Jepang di Tanah Air.
Baca juga: Food Monster Mangmoel Hadir dalam Duo Pameran Edible Dreams & Playful Bites
Berjudul Jual Berbagai Macam Keperluan (2025) karya Adi “Dhigelz” Setiawan ini menjadi salah satu yang mencolok dalam pameran Lo Jual Gua Beli di Emiria Soenasa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Karya ini barangkali dapat menjadi titik tolok untuk menelusuri Jakarta sebagai kota dagang.
Sejak abad ke-12, Jakarta yang kala itu dikenal dengan nama Sunda Kelapa telah menjadi kota dagang yang sibuk. Kapal-kapal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah bahkan sudah membawa barang-barang seperti porselen, sutra, dan wewangian untuk ditukar dengan rempah-rempah.
Momen itu pun berlanjut hingga hari ini. Setelah lebih dari empat abad, Jakarta terus bersalin rupa. Toko-toko beralih menjadi lokapasar, sistem barter berubah menjadi jual beli dalam genggaman. Jakarta pun masih menjadi penyumbang ekonomi tertinggi nasional sebesar 16,61 persen.

Karya Adi “Dhigelz” Setiawan berjudul Jual Berbagai Macam Keperluan (kiri) di Galeri Emiria Soenasa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, (15/10/25). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Hematnya, pameran arsip yang mengungkai sejarah panjang Jakarta sebagai kota dagang ini mencoba menarik benang merah tersebut. Pengunjung diajak menyusuri bagaimana kota bertransformasi dari sebuah pelabuhan kecil yang penuh malaria hingga menjadi pusat perekonomian nasional dan global.
Simak saja repro arsip koleksi Rijksmuseum dari Andresa Beeckman sekitar 1662 bertajuk Kastil Batavia Dilihat dari Tepi Kali Besar. Lukisan ini menampilkan pemandangan markas VOC dengan kerumunan para pedagang Eropa-Asia yang melakukan transaksi jual beli di bawah rindang pohon kelapa.
Pada fase yang lebih modern, kita juga disuguhi arsip lain saat Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, mengunjungi Pasar Tanah Abang. Sayangnya, arsip ini tidak diberi deskripsi yang jelas, entah sedang meresmikan pembangunan atau meninjau kondisi pasar yang didirikan oleh Yustinus Vinck pada 1735.
Dari segi tata letak, pameran ini dibagi menjadi tujuh bagian yang menggambarkan Jakarta tumbuh lewat logika pasar, daya tarik iklan, dan imajinasi konsumsi. Namun, ini juga tak lepas dari kritik, hampir seluruh bagian dijejali tulisan panjang yang tentu membuat pengunjung hanya tertarik melihat gambar.
Baca juga: Refleksikan Denyut Kota, Amuya Gallery Siap Hadirkan Pameran Otak-atik Jakarta
Kurator Rifandi S. Nugroho menulis, sejak zaman baheula Jakarta memang telah menjadi kota dagang. Perdagangan ini, paparnya, juga turut membentuk wajah dan irama kota. Di setiap masa, ruang-ruang tersebut juga berubah, kadang menjadi tempat transaksi, panggung gaya hidup, atau arena negosiasi antara identitas dan kekuasaan.
“Denyut niaganya nggak pernah mati, terus berdetak di antara pelabuhan, pasar, toko, mal, sampai layar gawai kita hari ini. Di sini orang datang buat mencari rezeki, atau sekadar nongkrong sambil melihat dunia lewat etalase dan reklame,” katanya.
Pameran Lo Jual Gua Beli merupakan bagian dari Festival Pustakarsa 2025 yang menggabungkan tiga kegiatan besar. Selain pameran ini, Genhype juga bisa mengunjungi Festival Literasi Jakarta dan Festival Sastra PDS HB Jassin, yang semuanya dihelat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.