Pengunjung melihat karya yang ditampilkan dalam pameran seni rupa Tribute to Pramoedya Ananta Toer dengan tajuk Jejak Langkah dalam Pertarungan di Balai Budaja, Jakarta, Jumat (2/5/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Refleksikan Denyut Kota, Amuya Gallery Siap Hadirkan Pameran Otak-atik Jakarta

23 September 2025   |   19:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Jakarta adalah kota yang tak pernah tidur. Kota ini selalu menyimpan cerita di balik lalu lintas padat, gedung-gedung tinggi, dan kehidupan warganya yang dinamis. Hiruk-pikuk itu tak hanya melahirkan kegelisahan, tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi para perupa. 

Berangkat dari semangat itulah lahir sebuah pameran bertajuk Otak-Atik Jakarta. Seteleng yang dijadwalkan berlangsung di Amuya Gallery, Jakarta pada 1–12 Oktober 2025, itu bakal menjadi ruang temu antara seniman, masyarakat, dan kreativitas yang tumbuh di tengah urbanitas. 

Dikuratori oleh Dimas Aji Saka dan Dian Ardianto, pameran ini akan menampilkan sembilan perupa dari Kelompok Oret-oret Jakarta. Mereka di antaranya adalah Arief Eko Saputra, Deskamtoro Dwi Utomo, Dian Ardianto, Sri Hardana, Taufiq Rachman, dan Zamrud Setya Negara. 

Baca juga: Takeaway Art: Pameran Seni Rupa untuk Generasi Muda dengan Konsep Jual-Beli Langsung 

Tak berhenti di situ, ada pula undangan khusus bagi perupa yang merespons tema secara bebas. Tiga di antaranya adalah Agus Iswahyudi, Aviza ‘Cichat Azalia, dan Saepul Bahri. Kehadiran mereka memberi warna beragam pada pameran, mulai dari lukisan dengan media dan teknik berbeda, hingga karya tiga dimensi yang eksploratif. 

Bagi Zamrud, salah satu peserta, pameran ini memang dihelat sebagai ruang untuk merayakan keberanian dan kebersamaan, khususnya untuk merefleksikan kehidupan di Jakarta . “Pameran kreatif ini mempertemukan kami sebagai seniman, inovator, dan masyarakat untuk berbagi gagasan tentang kota Jakarta melalui karya orisinal,” ujarnya. 

Menurut Zamrud, tema pameran lahir dari keseharian kota. Suara dentingan alat, obrolan ringan tetangga, hingga tawa yang mengisi lorong-lorong permukiman menjadi inspirasi yang kemudian diterjemahkan ke kanvas dan instalasi. Dari hal sederhana hingga kompleks, karya-karya ini berusaha menangkap wajah Jakarta yang penuh paradoks.
 

Salah satu karya

Salah satu karya yang nantinya akan dipamerkan dalam pameran bertajuk Otak-Atik Jakarta pada 1–12 Oktober 2025, di Amuya Gallery, Jakarta. (sumber gambar: Amuya Gallery)

Setali tiga uang, perwakilan dari Amuya Gallery, Dimas Aji Saka melihat Jakarta sebagai laboratorium besar. Dinamika sosial, masalah keseharian, hingga keresahan warganya, kata dia, bisa menjadi bahan eksperimen artistik. “Karya-karya ini bukan hanya ekspresi pribadi, tapi juga ruang apresiasi bagi publik,” tambahnya. 

Amuya Gallery sendiri berharap pameran ini dapat memantik percakapan lebih luas tentang kota. Bahwa Jakarta bukan hanya ruang dengan problematika, melainkan juga lahan subur bagi kreativitas yang mampu menghubungkan orang-orang dari latar berbeda. 

Sementara itu, Dian Ardianto menekankan bahwa Otak-atik Jakarta adalah wadah untuk menampung mimpi-mimpi para perupa. “Setiap karya adalah wujud kebanggaan, harapan, sekaligus bukti bahwa kami mampu menghadirkan sesuatu yang bermakna tentang Jakarta melalui pengalaman mendalam masing-masing,” tuturnya. 

Selain pameran utama, acara ini juga membuka ruang interaksi publik. Berbagai workshop akan digelar sepanjang pameran, dengan jadwal yang diumumkan melalui akun Instagram @oratoretjkt. Program ini menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat untuk berbagi keterampilan sekaligus memperluas apresiasi seni. 

Peresmian pameran dijadwalkan pada Rabu, 1 Oktober 2025. Mr. Joel Haruma, kolektor sekaligus pecinta seni rupa, akan hadir membuka acara tersebut. Kehadirannya diharapkan menjadi simbol dukungan kolektor terhadap ruang-ruang alternatif bagi seni kontemporer.

Dengan segala keragaman gagasan dan karya yang ditampilkan, Otak-Atik Jakarta bukan hanya tentang seni. Dia adalah cermin kota dengan keresahan, mimpi, dan harapan yang hidup bersama warganya. Sebuah ajakan untuk menengok Jakarta dari kacamata yang lebih jujur sekaligus penuh imajinasi.

Bagi Genhype yang penasaran dengan pameran ini, kalian juga bisa menikmatinya dengan gratis alias cuma-cuma. Adapun untuk informasi lebih lengkap kalian juga bisa memantau laman media sosial Instagram Orat Oret Jakarta, yakni @oratoretjkt. 

Baca juga: Pameran Nada Merupa, Saat Musik dan Rupa Berpadu di Atas Kanvas 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Resensi Novel Ikhtiar yang Tak Benar-benar, Eksperimen Baru Penulis Nukila Amal

BERIKUTNYA

Aditya Mulya Bongkar Proses Kreatif dan Riset di Balik Naskah Film Si Paling Aktor

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga