Mengasuh Anak pada Era Digital Butuh Cara Berbeda, Begini Kata Psikolog
15 October 2025 |
16:30 WIB
Di tengah kemajuan era digital saat ini, orang tua perlu menyadari bahwa pola asuh masa kini tidak dapat disamakan dengan cara mendidik generasi terdahulu. Sebab, anak-anak Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya dipengaruhi oleh teknologi.
Sebagai generasi yang sejak lahir telah akrab dengan perangkat digital, mereka memerlukan pendekatan pengasuhan yang menyesuaikan dengan karakter dan kebutuhan khas mereka. Psikolog Keluarga dan Anak dari PION Clinician, Astrid WEN, menjelaskan bahwa Gen Alpha memiliki ciri khas yang unik.
Mereka akrab dengan gawai sejak usia dini, memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap teknologi, serta terbiasa dengan kecepatan informasi. Oleh karena itu, cara mereka belajar dan memproses sesuatu yang disampaikan orang tua pun berbeda.
“Anak-anak Gen Alpha tumbuh dengan pembelajaran visual dan pengalaman interaktif, sehingga kemampuan mereka dalam pemrosesan visual dan eksplorasinya sangat berkembang,” ujar Astrid.
Baca juga: Tips Mengasuh Anak Bagi Pekerja yang Libur Sehari dalam Seminggu
Namun, progres yang sebenarnya baik ini datang dengan tantangan tersendiri. Rentang perhatian yang pendek hingga penurunan kuantitas dan kualitas interaksi sosial tatap muka menjadi tantangan yang perlu diwaspadai dan disikapi lebih lanjut.
Dalam proses belajar, Gen Alpha juga dikenal lebih menyukai pendekatan yang melibatkan eksperimen, pengalaman langsung, dan storytelling yang interaktif. Gaya pembelajaran satu arah seperti ceramah atau hafalan di generasi mereka justru bisa dibilang menjadi kurang efektif.
"Oleh karena itu, pola asuh dan sistem pendidikan pun semestinya harus dirancang untuk memberikan ruang eksplorasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah," imbuhnya
Astrid juga menekankan bahwa Gen Alpha memiliki kecenderungan berpikir lebih luas karena paparan keberagaman sudah muncul akibat tontonan digital sejak dini.
Namun, perkembangan kognitif yang pesat ini tidak serta-merta diikuti oleh pertumbuhan emosional yang seimbang. “Empati dan regulasi emosi tidak otomatis tumbuh seiring dengan kemajuan berpikir mereka. Tanpa pendampingan, justru bisa menimbulkan ketimpangan dalam kemampuan sosial,” terangnya.
Dalam hal ini, peran keluarga sangat krusial. Orang tua bukan hanya sebagai pengasuh, tapi juga sebagai tempat anak belajar berinteraksi secara emosional. Interaksi yang hangat seperti bermain bersama, berdialog, dan mendengarkan menjadi kunci agar anak bisa memahami dan mengelola emosi mereka secara lebih mendalam.
Astrid menuturkan gaya pengasuhan yang direkomendasikan untuk anak-anak Gen Alpha adalah pola asuh positif dan demokratis. Pendekatan ini menyeimbangkan antara kehangatan, aturan yang jelas, serta ruang eksplorasi yang cukup bagi anak. Dengan cara ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, dan merasa dihargai.
Dalam praktiknya, orang tua bisa menerapkan pola ini dengan langkah-langkah sederhana namun bermakna, seperti mengajak anak berdialog saat menyusun aturan, memberikan pilihan terbatas agar anak belajar mengambil keputusan, dan menggunakan pendekatan reflektif alih-alih hukuman saat anak melakukan kesalahan.
Tak dimungkiri, penggunaan gawai menjadi bagian dari kehidupan anak-anak masa kini. Akan tetapi, kata Astrid yang terpenting bukan semata membatasi, tetapi mengajarkan literasi digital sejak dini. Anak perlu memahami manfaat dan risiko penggunaan teknologi, serta mengembangkan etika digital yang baik seiring pertumbuhan usia dan tanggung jawab mereka.
Penggunaan teknologi yang bijak, dengan pendampingan yang tepat, justru dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir anak. Dalam hal ini, orang tua perlu menjadi navigator digital, bukan hanya pembatas akses, tapi pemandu yang membantu anak memahami, mengeksplorasi, dan memanfaatkan teknologi secara sehat dan bijak.
Baca juga: Tantangan dan Peran Orang Tua Tunggal Saat Mengasuh Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebagai generasi yang sejak lahir telah akrab dengan perangkat digital, mereka memerlukan pendekatan pengasuhan yang menyesuaikan dengan karakter dan kebutuhan khas mereka. Psikolog Keluarga dan Anak dari PION Clinician, Astrid WEN, menjelaskan bahwa Gen Alpha memiliki ciri khas yang unik.
Mereka akrab dengan gawai sejak usia dini, memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap teknologi, serta terbiasa dengan kecepatan informasi. Oleh karena itu, cara mereka belajar dan memproses sesuatu yang disampaikan orang tua pun berbeda.
“Anak-anak Gen Alpha tumbuh dengan pembelajaran visual dan pengalaman interaktif, sehingga kemampuan mereka dalam pemrosesan visual dan eksplorasinya sangat berkembang,” ujar Astrid.
Baca juga: Tips Mengasuh Anak Bagi Pekerja yang Libur Sehari dalam Seminggu
Namun, progres yang sebenarnya baik ini datang dengan tantangan tersendiri. Rentang perhatian yang pendek hingga penurunan kuantitas dan kualitas interaksi sosial tatap muka menjadi tantangan yang perlu diwaspadai dan disikapi lebih lanjut.
Dalam proses belajar, Gen Alpha juga dikenal lebih menyukai pendekatan yang melibatkan eksperimen, pengalaman langsung, dan storytelling yang interaktif. Gaya pembelajaran satu arah seperti ceramah atau hafalan di generasi mereka justru bisa dibilang menjadi kurang efektif.
"Oleh karena itu, pola asuh dan sistem pendidikan pun semestinya harus dirancang untuk memberikan ruang eksplorasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah," imbuhnya

Pola asuh orang tua (Sumber gambar: Unsplash/Alexander Dummer)
Namun, perkembangan kognitif yang pesat ini tidak serta-merta diikuti oleh pertumbuhan emosional yang seimbang. “Empati dan regulasi emosi tidak otomatis tumbuh seiring dengan kemajuan berpikir mereka. Tanpa pendampingan, justru bisa menimbulkan ketimpangan dalam kemampuan sosial,” terangnya.
Dalam hal ini, peran keluarga sangat krusial. Orang tua bukan hanya sebagai pengasuh, tapi juga sebagai tempat anak belajar berinteraksi secara emosional. Interaksi yang hangat seperti bermain bersama, berdialog, dan mendengarkan menjadi kunci agar anak bisa memahami dan mengelola emosi mereka secara lebih mendalam.
Astrid menuturkan gaya pengasuhan yang direkomendasikan untuk anak-anak Gen Alpha adalah pola asuh positif dan demokratis. Pendekatan ini menyeimbangkan antara kehangatan, aturan yang jelas, serta ruang eksplorasi yang cukup bagi anak. Dengan cara ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, dan merasa dihargai.
Dalam praktiknya, orang tua bisa menerapkan pola ini dengan langkah-langkah sederhana namun bermakna, seperti mengajak anak berdialog saat menyusun aturan, memberikan pilihan terbatas agar anak belajar mengambil keputusan, dan menggunakan pendekatan reflektif alih-alih hukuman saat anak melakukan kesalahan.
Tak dimungkiri, penggunaan gawai menjadi bagian dari kehidupan anak-anak masa kini. Akan tetapi, kata Astrid yang terpenting bukan semata membatasi, tetapi mengajarkan literasi digital sejak dini. Anak perlu memahami manfaat dan risiko penggunaan teknologi, serta mengembangkan etika digital yang baik seiring pertumbuhan usia dan tanggung jawab mereka.
Penggunaan teknologi yang bijak, dengan pendampingan yang tepat, justru dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir anak. Dalam hal ini, orang tua perlu menjadi navigator digital, bukan hanya pembatas akses, tapi pemandu yang membantu anak memahami, mengeksplorasi, dan memanfaatkan teknologi secara sehat dan bijak.
Baca juga: Tantangan dan Peran Orang Tua Tunggal Saat Mengasuh Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.