Masih Percaya Olahraga Lari Itu Susah? Ini 4 Mitos yang Harus Genhype Lupakan
13 October 2025 |
20:00 WIB
Lari menjadi salah satu olahraga yang semakin populer dalam beberapa waktu terakhir, terutama di kalangan masyarakat urban yang mencari cara praktis untuk tetap bugar. Namun, di balik tren tersebut, masih banyak beredar berbagai mitos seputar lari yang membuat sebagian orang ragu untuk memulai.
Martina Harianda Mutis, Sports Brand Marketing General Manager MAP Active, menegaskan bahwa olahraga lari bukanlah aktivitas eksklusif bagi atlet atau pelari berpengalaman saja, melainkan terbuka untuk semua orang—termasuk pemula.
Baca juga: Begini Cara Menjaga Heart Rate dan Pace saat Berlari ala Dokter Tirta
Ia menjelaskan bahwa melalui berbagai inisiatif dan kampanye, perusahaan ingin membangun persepsi bahwa lari adalah olahraga yang inklusif, mudah diakses, dan bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat siapa pun.
“Kami percaya, ke depannya olahraga lari akan semakin melesat dan komunitasnya akan terus tumbuh,” kata Martina dalam siaran pers yang dikutip pada Senin, (13/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa kunci untuk mewujudkan hal tersebut adalah mengubah stereotip dan mitos seputar olahraga lari yang sering membuat orang enggan untuk mencoba. Menurutnya, lari seharusnya menjadi pengalaman yang terjangkau, bermanfaat, dan menyenangkan bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang atau kemampuan fisik.
Saat ini, berdasarkan riset konsumen yang dilakukan New Balance, sekitar 70 persen generasi produktif—yakni Gen Z dan Milenial—di seluruh dunia tercatat berlari setidaknya sekali dalam seminggu, meskipun dengan intensitas dan tujuan yang beragam.
Dari angka tersebut, sekitar 20 persen di antaranya memiliki target latihan yang spesifik, seperti pencapaian jarak atau waktu tertentu. Sementara 50 persen lainnya berlari demi menjaga kesehatan dan kebugaran secara umum.
Berikut empat mitos populer yang masih sering ditemui seputar olahraga lari:
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa tidak semua orang bisa berlari. Padahal, untuk disebut pelari, seseorang tidak perlu menempuh jarak jauh, berlari cepat, atau memiliki kemampuan atletik tertentu.
Lari adalah olahraga yang sangat inklusif, baik dari segi gender maupun usia, karena intensitas dan jaraknya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Bahkan, kini muncul tren stroller run, orang tua yang berlari sambil mendorong kereta bayi, membuktikan bahwa siapa pun bisa ikut berlari.
Rasa lelah, pusing, atau nyeri otot yang muncul di awal merupakan hal wajar karena tubuh sedang beradaptasi. Itu bukan tanda bahwa seseorang “tidak bisa lari”, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang belajar menyesuaikan diri.
Bagi pemula, kuncinya adalah membangun kebiasaan terlebih dahulu dengan berlari 1–2 kali seminggu tanpa terlalu fokus pada jarak atau kecepatan. Setelah tubuh mulai terbiasa, barulah perhatikan form dan teknik berlari untuk hasil yang lebih nyaman dan efisien.
Ada banyak indikator kemajuan yang lebih penting untuk diperhatikan, seperti detak jantung yang semakin stabil, peningkatan kapasitas VOâ‚‚ (kemampuan tubuh menyerap oksigen), jarak yang semakin jauh, durasi latihan yang lebih lama, hingga waktu pemulihan yang makin singkat.
Artinya, setiap langkah yang lebih ringan dan setiap napas yang lebih teratur juga merupakan bentuk progres yang patut diapresiasi.
Sepatu memang menjadi investasi utama, tetapi harganya bisa disesuaikan dengan bujet yang dimiliki, tidak harus selalu versi premium. Selain itu, jalur lari atau running track juga mudah ditemukan di ruang publik dan bisa diakses secara gratis.
Dengan kata lain, yang paling penting bukanlah peralatannya, melainkan konsistensi dan semangat untuk bergerak.
Ada juga anggapan bahwa banyak orang berlari hanya karena FOMO atau takut ketinggalan tren. Namun, faktanya, alasan apa pun untuk memulai tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Sebuah studi dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) menunjukkan bahwa berlari satu kali seminggu saja dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 47 persen dibandingkan mereka yang tidak berlari sama sekali.
Jadi, meskipun seseorang mulai berlari karena ajakan teman atau sekadar ingin terlihat keren di media sosial, tubuh tetap memperoleh manfaat nyata. Yang terpenting, teruslah berlari, entah karena tren, kesehatan, atau sekadar ingin merasa hidup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Martina Harianda Mutis, Sports Brand Marketing General Manager MAP Active, menegaskan bahwa olahraga lari bukanlah aktivitas eksklusif bagi atlet atau pelari berpengalaman saja, melainkan terbuka untuk semua orang—termasuk pemula.
Baca juga: Begini Cara Menjaga Heart Rate dan Pace saat Berlari ala Dokter Tirta
Ia menjelaskan bahwa melalui berbagai inisiatif dan kampanye, perusahaan ingin membangun persepsi bahwa lari adalah olahraga yang inklusif, mudah diakses, dan bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat siapa pun.
“Kami percaya, ke depannya olahraga lari akan semakin melesat dan komunitasnya akan terus tumbuh,” kata Martina dalam siaran pers yang dikutip pada Senin, (13/10/2025).
Ia menjelaskan bahwa kunci untuk mewujudkan hal tersebut adalah mengubah stereotip dan mitos seputar olahraga lari yang sering membuat orang enggan untuk mencoba. Menurutnya, lari seharusnya menjadi pengalaman yang terjangkau, bermanfaat, dan menyenangkan bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang atau kemampuan fisik.
Saat ini, berdasarkan riset konsumen yang dilakukan New Balance, sekitar 70 persen generasi produktif—yakni Gen Z dan Milenial—di seluruh dunia tercatat berlari setidaknya sekali dalam seminggu, meskipun dengan intensitas dan tujuan yang beragam.
Dari angka tersebut, sekitar 20 persen di antaranya memiliki target latihan yang spesifik, seperti pencapaian jarak atau waktu tertentu. Sementara 50 persen lainnya berlari demi menjaga kesehatan dan kebugaran secara umum.
Berikut empat mitos populer yang masih sering ditemui seputar olahraga lari:
1. Semua Orang Bisa Mulai dari Langkah Pertama
Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa tidak semua orang bisa berlari. Padahal, untuk disebut pelari, seseorang tidak perlu menempuh jarak jauh, berlari cepat, atau memiliki kemampuan atletik tertentu.Lari adalah olahraga yang sangat inklusif, baik dari segi gender maupun usia, karena intensitas dan jaraknya bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Bahkan, kini muncul tren stroller run, orang tua yang berlari sambil mendorong kereta bayi, membuktikan bahwa siapa pun bisa ikut berlari.
Rasa lelah, pusing, atau nyeri otot yang muncul di awal merupakan hal wajar karena tubuh sedang beradaptasi. Itu bukan tanda bahwa seseorang “tidak bisa lari”, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang belajar menyesuaikan diri.
Bagi pemula, kuncinya adalah membangun kebiasaan terlebih dahulu dengan berlari 1–2 kali seminggu tanpa terlalu fokus pada jarak atau kecepatan. Setelah tubuh mulai terbiasa, barulah perhatikan form dan teknik berlari untuk hasil yang lebih nyaman dan efisien.
2. Lari Bukan Sekadar Mengejar Kecepatan
Banyak orang masih berpikir bahwa lari identik dengan pace atau kecepatan. Padahal, keberhasilan dalam lari tidak hanya diukur dari seberapa cepat seseorang menempuh satu kilometer.Ada banyak indikator kemajuan yang lebih penting untuk diperhatikan, seperti detak jantung yang semakin stabil, peningkatan kapasitas VOâ‚‚ (kemampuan tubuh menyerap oksigen), jarak yang semakin jauh, durasi latihan yang lebih lama, hingga waktu pemulihan yang makin singkat.
Artinya, setiap langkah yang lebih ringan dan setiap napas yang lebih teratur juga merupakan bentuk progres yang patut diapresiasi.
3. Tidak Perlu Mahal untuk Mulai Berlari
Mitos lain yang sering beredar adalah bahwa lari merupakan olahraga mahal. Faktanya, lari justru termasuk olahraga dengan kebutuhan perlengkapan paling minimal dibandingkan cabang olahraga lain.Sepatu memang menjadi investasi utama, tetapi harganya bisa disesuaikan dengan bujet yang dimiliki, tidak harus selalu versi premium. Selain itu, jalur lari atau running track juga mudah ditemukan di ruang publik dan bisa diakses secara gratis.
Dengan kata lain, yang paling penting bukanlah peralatannya, melainkan konsistensi dan semangat untuk bergerak.
4. Tak Masalah Mulai karena Tren, Asal Konsisten
Ada juga anggapan bahwa banyak orang berlari hanya karena FOMO atau takut ketinggalan tren. Namun, faktanya, alasan apa pun untuk memulai tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.Sebuah studi dalam Journal of the American College of Cardiology (JACC) menunjukkan bahwa berlari satu kali seminggu saja dapat menurunkan risiko penyakit jantung hingga 47 persen dibandingkan mereka yang tidak berlari sama sekali.
Jadi, meskipun seseorang mulai berlari karena ajakan teman atau sekadar ingin terlihat keren di media sosial, tubuh tetap memperoleh manfaat nyata. Yang terpenting, teruslah berlari, entah karena tren, kesehatan, atau sekadar ingin merasa hidup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.