Ilustrasi bekerja (S gambarumber: Freepik)

Perusahaan Lebih Pilih Solusi AI, Gen Z Hadapi Krisis Lapangan Kerja

11 October 2025   |   16:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Generasi Z kini menghadapi tantangan besar di dunia kerja global. Laporan terbaru yang dirilis The Guardian menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan besar memilih untuk berinvestasi pada kecerdasan buatan (AI) dibanding merekrut tenaga kerja baru.

Fenomena ini menandai perubahan signifikan dalam strategi bisnis modern, yang tidak hanya berdampak pada efisiensi perusahaan tetapi juga pada masa depan generasi muda yang baru memasuki dunia kerja.

Laporan tersebut mengutip hasil riset British Standards Institution (BSI) yang melibatkan lebih dari 850 pemimpin bisnis dari tujuh negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Australia, China, dan Jepang.

Hasil survei memperlihatkan bahwa sekitar 41 persen responden menyatakan penerapan AI memungkinkan mereka mengurangi jumlah karyawan. Bahkan, 31 persen mengaku lebih memilih solusi AI dibanding merekrut tenaga manusia baru untuk posisi tertentu.  

Baca juga: Banyak Gen Z Lakukan Quiet Covering di Tempat Kerja, Apa Itu? 

Kondisi ini membuat peluang kerja bagi Gen Z semakin terbatas, terutama pada posisi entry level yang biasanya menjadi pintu pertama menuju karier profesional. Sebagian besar perusahaan memprediksi bahwa pekerjaan dasar dapat dengan mudah digantikan oleh sistem otomatis.

Sekitar seperempat dari pemimpin bisnis yang disurvei memperkirakan peran entry level akan semakin berkurang seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menangani tugas-tugas administratif, penelitian, hingga pembuatan laporan.

Sekitar 39 persen perusahaan bahkan telah menghapus atau mengurangi posisi awal akibat efisiensi yang diciptakan teknologi. Situasi ini menciptakan kekhawatiran baru di kalangan anak muda yang baru lulus, karena lapangan kerja yang biasanya tersedia kini mulai menyusut.

AI menjadi pedang bermata dua: di satu sisi membawa kemajuan dan efisiensi, tetapi di sisi lain mengancam peluang kerja manusia, terutama bagi mereka yang baru mulai meniti karier. 
 

Optimisme di Tengah Kondisi Serba AI 

Meski demikian, tidak semua pihak pesimis terhadap masa depan tenaga kerja muda. Sekitar 53 persen responden penelitian mengaku tetap optimistis bahwa manfaat jangka panjang AI akan melampaui dampak negatifnya terhadap ketenagakerjaan. Bagi mereka, kehadiran AI justru membuka ruang bagi pekerjaan baru yang lebih kompleks dan berbasis kreativitas manusia.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda, termasuk di Indonesia. Dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat, Gen Z perlu membekali diri dengan keterampilan yang sulit digantikan mesin. Keahlian seperti berpikir kritis, kemampuan komunikasi, kreativitas, serta pemahaman teknologi menjadi modal utama agar tetap relevan di pasar kerja modern.

Selain itu, lembaga pendidikan dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan ini. Program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan literasi digital perlu diperkuat agar lulusan baru tidak tertinggal dari perkembangan industri. Dunia kerja masa depan membutuhkan generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki empati dan kemampuan adaptasi tinggi. 

Perubahan besar yang dibawa AI memang tak bisa dihindari, tetapi bukan berarti generasi muda harus takut. Justru di tengah transformasi ini, mereka memiliki kesempatan untuk menciptakan nilai baru yang tak tergantikan oleh mesin. Masa depan dunia kerja mungkin akan berbeda, tapi ruang untuk kreativitas manusia tetap akan selalu ada. 

Baca juga: Hypereport: 80 Tahun Merdeka & Pekerjaan Rumah Sektor Ketenagakerjaan yang Harus Diselesaikan 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Membangun Jakarta Kota Sinema dengan Investasi Sosial

BERIKUTNYA

Asrul Sani dan Tafsir Baru Spiritualitas Haji dalam Sinema Indonesia 1960-an

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga