Sempat Vakum, KMI 2025 Diharap Jadi Momentum Kebangkitan Industri Musik Nasional
09 October 2025 |
09:49 WIB
Setelah enam tahun vakum, Konferensi Musik Indonesia (KMI) akhirnya kembali digelar. Tahun 2025 menjadi penanda kebangkitan forum ini, yang kali ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan pada 8–11 Oktober di The Sultan Hotel & Residence, Jakarta dengan mengundang insan dari industri musik Tanah Air.
Tahun ini, KMI 2025 mengusung tema “Satu Nada Dasar”, sebuah metafora untuk menyatukan langkah berbagai pemangku kepentingan. Berlangsung semarak, acara ini mempertemukan lebih dari 700 peserta, mulai dari musisi, pencipta lagu, promotor, label rekaman, hingga regulator.
Baca juga: Hasil Konferensi Musik Indonesia Bakal Dorong Lahirnya Kebijakan Lintas Kementerian
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan bahwa musik Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Musik, menurutnya, bukan hanya ekspresi budaya masyarakat, tetapi juga kekuatan pemersatu dan penggerak ekonomi yang tak bisa diremehkan.
Potensi itu tercermin dari proyeksi pendapatan pasar musik digital Indonesia tahun 2025 yang mencapai US$231,64 juta, dan diperkirakan tumbuh dengan laju rata-rata 3,57 persen per tahun hingga menembus US$276 juta pada 2030.
Pertemuan lintas pelaku ini diharapkan menghasilkan networking yang nyata dan berkelanjutan. “Kami ingin ada Indonesian Waves, gelombang musik Indonesia yang dikenal di dunia internasional,” papar Fadli Zon saat membuka KMI 2025, Rabu (8/10/2025).
Namun, pertumbuhan digital, menurut Fadli, hanyalah satu sisi dari denyut industri musik nasional. Dia mengingatkan bahwa napas sejati musik tetap hidup di panggung-panggung nyata, di tangan para pekerja musik yang mencipta dan menampilkan karya dengan sepenuh hati.
Melalui forum ini, pemerintah juga ingin memastikan kebijakan musik berpihak pada pelaku, sekaligus memperluas kolaborasi lintas sektor sebagai penggerak ekonomi budaya. Selain itu, KMI 2025 diharapkan mampu memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Ekosistem ini dibangun dari bawah, oleh semangat para pelaku kreatif yang tidak pernah berhenti beradaptasi,” imbuhnya.
Pasar Musik dan Ekosistem Baru
Fadli mengungkapkan, KMI 2025 juga membuka peluang terbentuknya music market, yakni ruang yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai bidang, mulai dari promosi hingga produksi. Ide ini diharapkan menjadi tonggak baru untuk memperkuat rantai nilai industri musik nasional.
Tak hanya itu, Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya data dan regulasi yang adil untuk memperkuat fondasi industri musik. Menurutnya, sektor ini memiliki rantai ekonomi yang panjang, menyerap banyak tenaga kerja, dan menjadi bagian penting dari ekonomi budaya.
Dia mencontohkan potensi besar musik tradisi dan dangdut yang semakin diterima audiens global. Lagu-lagu daerah dan genre lokal, katanya, justru punya kekuatan khas yang dapat menjadi daya saing internasional jika dikelola dengan baik.
“Melalui Satu Nada Dasar, mari kita pastikan musik Indonesia terus hidup di panggung nasional, di ruang digital, dan di hati masyarakat dunia,” katanya.
Setali tiga uang, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa musik adalah ruang persatuan. Dia menuturkan, KMI 2025 juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan Glenn Fredly, sosok yang menggagas KMI pertama di Ambon pada 2018 dan Bandung pada 2019.
Semangat almarhum untuk memperjuangkan ekosistem musik yang sehat kini dihidupkan kembali melalui forum ini. “Seperti pesan Presiden Prabowo dan Menteri Fadli, membangun bangsa ini harus merangkul semua pihak. Kita berdialog dengan semua, demi Indonesia, demi merah putih,” ujarnya.
Kembalinya KMI setelah enam tahun menjadi tanda bahwa industri musik Indonesia belum kehilangan nadanya. Dari forum ini, diharapkan lahir langkah konkret untuk memastikan musik tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga kekuatan ekonomi dan budaya yang menggerakkan bangsa.
Baca juga: Konferensi Musik Indonesia Diharapkan Jadi Ajang Bersatunya Musisi Indonesi
Tahun ini, KMI 2025 mengusung tema “Satu Nada Dasar”, sebuah metafora untuk menyatukan langkah berbagai pemangku kepentingan. Berlangsung semarak, acara ini mempertemukan lebih dari 700 peserta, mulai dari musisi, pencipta lagu, promotor, label rekaman, hingga regulator.
Baca juga: Hasil Konferensi Musik Indonesia Bakal Dorong Lahirnya Kebijakan Lintas Kementerian
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan bahwa musik Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Musik, menurutnya, bukan hanya ekspresi budaya masyarakat, tetapi juga kekuatan pemersatu dan penggerak ekonomi yang tak bisa diremehkan.
Potensi itu tercermin dari proyeksi pendapatan pasar musik digital Indonesia tahun 2025 yang mencapai US$231,64 juta, dan diperkirakan tumbuh dengan laju rata-rata 3,57 persen per tahun hingga menembus US$276 juta pada 2030.
Pertemuan lintas pelaku ini diharapkan menghasilkan networking yang nyata dan berkelanjutan. “Kami ingin ada Indonesian Waves, gelombang musik Indonesia yang dikenal di dunia internasional,” papar Fadli Zon saat membuka KMI 2025, Rabu (8/10/2025).
Namun, pertumbuhan digital, menurut Fadli, hanyalah satu sisi dari denyut industri musik nasional. Dia mengingatkan bahwa napas sejati musik tetap hidup di panggung-panggung nyata, di tangan para pekerja musik yang mencipta dan menampilkan karya dengan sepenuh hati.
Melalui forum ini, pemerintah juga ingin memastikan kebijakan musik berpihak pada pelaku, sekaligus memperluas kolaborasi lintas sektor sebagai penggerak ekonomi budaya. Selain itu, KMI 2025 diharapkan mampu memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Ekosistem ini dibangun dari bawah, oleh semangat para pelaku kreatif yang tidak pernah berhenti beradaptasi,” imbuhnya.
Pasar Musik dan Ekosistem Baru
Fadli mengungkapkan, KMI 2025 juga membuka peluang terbentuknya music market, yakni ruang yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai bidang, mulai dari promosi hingga produksi. Ide ini diharapkan menjadi tonggak baru untuk memperkuat rantai nilai industri musik nasional.
Tak hanya itu, Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya data dan regulasi yang adil untuk memperkuat fondasi industri musik. Menurutnya, sektor ini memiliki rantai ekonomi yang panjang, menyerap banyak tenaga kerja, dan menjadi bagian penting dari ekonomi budaya.
Dia mencontohkan potensi besar musik tradisi dan dangdut yang semakin diterima audiens global. Lagu-lagu daerah dan genre lokal, katanya, justru punya kekuatan khas yang dapat menjadi daya saing internasional jika dikelola dengan baik.
“Melalui Satu Nada Dasar, mari kita pastikan musik Indonesia terus hidup di panggung nasional, di ruang digital, dan di hati masyarakat dunia,” katanya.
Setali tiga uang, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa musik adalah ruang persatuan. Dia menuturkan, KMI 2025 juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan Glenn Fredly, sosok yang menggagas KMI pertama di Ambon pada 2018 dan Bandung pada 2019.
Semangat almarhum untuk memperjuangkan ekosistem musik yang sehat kini dihidupkan kembali melalui forum ini. “Seperti pesan Presiden Prabowo dan Menteri Fadli, membangun bangsa ini harus merangkul semua pihak. Kita berdialog dengan semua, demi Indonesia, demi merah putih,” ujarnya.
Kembalinya KMI setelah enam tahun menjadi tanda bahwa industri musik Indonesia belum kehilangan nadanya. Dari forum ini, diharapkan lahir langkah konkret untuk memastikan musik tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga kekuatan ekonomi dan budaya yang menggerakkan bangsa.
Baca juga: Konferensi Musik Indonesia Diharapkan Jadi Ajang Bersatunya Musisi Indonesi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.