Ilustrasi pertunjukan musik (Sumber gambar: Unsplash/Tony Pham)

Konferensi Musik Indonesia Diharapkan Jadi Ajang Bersatunya Musisi Indonesia

23 September 2025   |   14:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Musisi sekaligus ahli hukum, Kadri Mohamad, menyambut baik rencana Kementerian Kebudayaan yang akan menggelar Konferensi Musik Indonesia (KMI). Dia menilai, di tengah banyaknya persoalan industri musik, forum ini dapat menjadi ruang penting untuk membahas dan mencari solusi atas berbagai tantangan dalam ekosistem musik nasional.

Kadri mengatakan sejak isu hak cipta hingga polemik organisasi, perbedaan pandangan kerap kali membuat pelaku musik terpecah ke dalam kelompok-kelompok yang saling berseberangan. Namun, dalam pengamatan Kadri, fenomena ini sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Dia menyebut perdebatan sengit antarmusisi ini sudah menjadi siklus yang seolah tak pernah berhenti. Masalahnya, tak sedikit dari perbedaan pandangan itu hanya menjadi debat kusir belaka, tanpa ada perbaikan yang lebih menyeluruh di ekosistem musik.

Baca Juga: RUU Hak Cipta 2025 Akan Atur Royalti Musik Digital Lewat Sistem Satu Pintu

 
Musisi sekaligus ahli hukum, Kadri Mohamad (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
"Sudah sejak 2011 saya sering terlibat untuk menengahi kasus para musisi. Ya, kalau saya melihat, para musisi ini kayaknya kebanyakan berjiwa 'aplha', ya jadi mereka selalu ingin menang atau berjiwa pemimpin," ungkapnya kepada Hypeabis.id.

Kadri memandang Konferensi Musik Indonesia sebagai ruang penting yang dapat menampung perbedaan pendapat di kalangan musisi. Dengan adanya forum ini, perdebatan yang biasanya berujung konflik bisa dialihkan menjadi diskusi produktif.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa KMI seharusnya berperan sebagai wadah untuk melahirkan solusi konkret. Bukan hanya menampung aspirasi, tetapi juga merumuskan langkah bersama demi kemajuan musik Indonesia.

"Kita butuh sejak lama sebenarnya konferensi-konferensi seperti ini, terutama untuk mengurai berbagai permasalahan yang ada di industri musik," imbuhnya.

Kadri mengingatkan agar Konferensi Musik Indonesia tidak hanya berhenti pada pembahasan teknis pasal-pasal hukum. Menurutnya, forum ini harus menghasilkan langkah nyata, seperti merancang sistem distribusi royalti yang transparan dan adil, sehingga dapat memberi manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan musik.

Dia juga menekankan pentingnya menjadikan KMI sebagai sarana persatuan. Dengan wadah ini, para musisi diharapkan bisa mengalihkan energi dari perselisihan menuju kerja sama demi membangun ekosistem musik yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Kuncinya adalah keguyuban. Kalau musisi bersatu, mereka bisa fokus mencari solusi bersama,” jelasnya.

Di luar persoalan royalti, Kadri menilai konferensi musik juga perlu menyoroti isu lain yang tak kalah krusial. Menurutnya, musik selalu memiliki hubungan erat dengan budaya, sehingga menjaga keberlangsungan musik tradisi di tengah derasnya industri modern menjadi agenda yang patut diperhatikan.

Dia menambahkan, musik juga punya posisi strategis dalam ekosistem ekonomi kreatif. Mulai dari penjualan merchandise, kolaborasi dengan sektor lain, hingga peluang usaha turunan, seluruhnya bisa berkembang jika konsep yang matang.

Kadri juga menyoroti potensi sinergi antara musik dan pariwisata. Festival musik, kata dia, terbukti mampu menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Melalui konferensi, peluang ini dapat dirancang lebih terarah agar memberi dampak yang lebih besar.

Pada akhirnya, Kadri Mohamad menekankan bahwa Konferensi Musik Indonesia harus menjadi sarana penyatuan visi. Ia berharap para musisi dapat mengedepankan kekompakan demi memperkuat posisi musik Indonesia.

Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025 akan digelar di Jakarta pada 8–11 Oktober dengan tema utama “Satu Nada Dasar”. Acara ini dirancang sebagai ajang kolaborasi strategis yang mempertemukan musisi, pencipta lagu, pelaku industri profesional, sektor kreatif, hingga regulator untuk bersama-sama merumuskan visi dan solusi konkret bagi masa depan musik nasional.

Melalui dialog, kerja sama, serta perumusan visi kolektif, konferensi ini ditargetkan menghasilkan rekomendasi strategis, kejelasan kebijakan, dan langkah nyata demi kemajuan industri musik yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, serta mencerminkan identitas budaya Indonesia.

Salah satu program utamanya adalah Gelar Wicara, yang akan membahas beragam isu penting dalam industri musik dengan melibatkan para pelaku dan regulator terkait. Diharapkan, hasil pertemuan ini mampu menyatukan visi sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang selama ini dihadapi dunia musik Tanah Air.

Lebih jauh, KMI 2025 dimaksudkan sebagai pijakan awal untuk memperkuat fondasi industri musik, membuka potensi ekonomi yang lebih luas demi kesejahteraan jutaan pekerja kreatif, sekaligus meneguhkan kedaulatan budaya Indonesia di tingkat global.

Baca Juga: Konferensi Musik Indonesia 2025 Siap Digelar, Jadi Ruang Dialog Kebijakan Strategis Kemenbud

SEBELUMNYA

Robotik Medis Bisa Kurangi Risiko Bedah Otak yang Kompleks

BERIKUTNYA

10 Contoh Prompt Gemini AI untuk Ubah Latar Belakang Foto Jadi Unik dan Estetik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga