Madani Fest 2025 Dimulai, Tampilkan Film-Film yang Soroti Isu Kemanusiaan Global
08 October 2025 |
20:20 WIB
1
Like
Like
Like
Edisi kedelapan Madani International Film Festival (MIFF) 2025 resmi dibuka pada Rabu (8/10/2025) di Epicentrum XXI, Jakarta. Festival tahunan yang dikenal sebagai ruang pertemuan sinema dunia Islam ini kembali hadir dengan semangat merayakan keberagaman perspektif dan narasi kemanusiaan lintas budaya.
Pembukaan MIFF tahun ini ditandai dengan pemutaran film All That’s Left of You, karya sutradara Palestina-Amerika Cherien Dabis. Cherien Dabis bukan nama asing di dunia perfilman internasional. Sutradara sekaligus penulis naskah ini pernah meraih Directors' Fortnight FIPRESCI Prize di Festival Film Cannes dan memperoleh nominasi Primetime Emmy Awards 2022.
Baca juga: Madani Fest 2025 Dibuka dengan Film All That’s Left of You & Ditutup Banel & Adama
Melalui film terbarunya, dia kembali memperdalam tema tentang perspekstif Palestina dan eksistensi kemanusiaan di tengah genosida yang berkecamuk. Film yang diproduksi AMP Filmworks, Displaced Pictures, dan Doha Film Institute ini belakangan memang tengah mencuri perhatian, terutama setelah tayang perdana di Festival Film Sundance 2025 pada 25 Januari.
Pada bulan Juni, film tersebut juga masuk Kompetisi Resmi Festival Film Sydney 2025 dan meraih Penghargaan Penonton untuk Fitur Internasional Terbaik.
Tak berhenti di situ, All That’s Left of You terpilih mewakili Yordania dalam kategori Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-98. Film ini menjadi satu dari tiga karya bertema sejarah Palestina yang diajukan ke Oscar bersama Palestine 36 dan The Voice of Hind Rajab
Kini, film tersebut bertemu penontonnya di Indonesia melalui gelaran MIFF 2025. Dalam sambutan pembukaan, Direktur Festival MIFF 2025, Achmad Rifki, menyampaikan bahwa pemilihan film ini bukan hanya karena prestasinya di berbagai festival dunia, melainkan juga karena resonansi pesannya yang selaras dengan semangat MIFF.
"Di tengah genosida dan krisis kemanusiaan di Palestina, film ini jadi begitu penting," ungkapnya dalam pembukaan MIFF 2025.
Secara umum, Rifki mengatakan tema yang diangkat tahun ini adalah Misykat (Ceruk Cahaya). Lewat tema tersebut, MIFF mencoba menghadirkan refleksi mendalam atas kondisi dunia Muslim di tengah gelombang konflik dan kemanusiaan yang kian gelap.
Tema ini juga menjadi upaya untuk menyoroti tragedi kemanusiaan, termasuk genosida yang terus berlangsung terhadap rakyat Palestina, sembari menyerukan pentingnya cahaya empati dan solidaritas. Sebab, festival perlu hadir untuk menjadi wadah dari ruang-ruang tersebut lebih terdengar.
"Di tengah awan gelap yang menggelayut saat ini, kita bukan hanya perlu memberi cahaya, tapi memberi wadah dan mengarahkannya. Seluruh film yang tayang di festival telah dikurasi untuk menjadi wadah cahaya, untuk bersama mengarahkannya ke titik yang lebih terang," tegasnya.
Sementara itu, festival board Garin Nugroho mengatakan film sejatinya adalah gambar hidup. Oleh karena itu, film semestinya tak hanya menjadi ruang untuk hiburan semata.
Lebih dari itu, film juga bisa berfungsi sebagai potret dan refleksi dari situasi kehidupan saat ini. Garin mengatakan MIFF mencoba menempatkan diri sebagai wadah bagi ruang-ruang tersebut.
Oleh karena itu, film-film yang diputar di festival ini tak sekadar karya yang populer dan sedang dibicarakan. Namun, justru yang hadir adalah film-film yang dikurasi sedemikian rupa agar yang penting juga bisa punya ruang untuk muncul dan akhirnya dibicarakan.
Madani International Film Festival (MIFF) 2025 akan berlangsung selama lima hari penuh, dari 8 hingga 12 Oktober 2025. Rangkaian pemutaran film digelar di sejumlah lokasi di Jakarta, antara lain Taman Ismail Marzuki, Universitas Bina Nusantara (Binus), Epicentrum XXI, dan Metropole XXI.
Selama penyelenggaraan, festival menayangkan 95 film dari 24 negara, mencakup ragam perspektif dan bentuk sinema kontemporer dunia Islam. Dari deretan film tersebut, 15 karya terpilih sebagai finalis Madani Shorts Film Competition, disaring dari lebih dari 1.700 film yang dikirim sineas berbagai negara.
Kelima belas film itu akan dinilai oleh tiga juri internasional—Philip Cheah (Singapura), Sajid Farda (Inggris), dan Natalie Stuart (Australia)—untuk menentukan empat karya terbaik.
MIFF 2025 juga akan menghadirkan program Focus Country yang bertajuk Sahel Plateau. Program ini akan menyoroti kawasan Sahel sebagai wilayah dengan sejarah panjang peradaban Islam dan jejak perjuangan dekolonisasi. Lima film pilihan dari Burkina Faso, Senegal, Mali, dan Nigeria akan menampilkan keragaman narasi serta dinamika sosial budaya di wilayah tersebut.
Selain pemutaran film, festival ini memperkaya pengalaman penonton dengan kelas pakar, diskusi publik, dan serangkaian pertunjukan budaya. Sebanyak 15 program siap digelar dengan menghadirkan nama-nama seperti Panji Sakti, Almamosca, Habib Husein Ja’far Al Hadar, hingga komedian Malaysia Rizal van Geyzel.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sinema madani Indonesia, MIFF 2025 juga menampilkan Program Retrospektif Garin Nugroho. Program ini akan menayangkan sejumlah karya penting sang maestro, seperti Mata Tertutup, Serambi, Rindu Kami Padamu, Tepuk Tangan, dan Nyanyi Sunyi dalam Rantang.
Festival kemudian akan ditutup dengan penayangan Banel & Adama (2023), karya debut sutradara Ramata-Toulaye Sy, hasil produksi bersama Prancis, Senegal, Mali, dan Qatar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pembukaan MIFF tahun ini ditandai dengan pemutaran film All That’s Left of You, karya sutradara Palestina-Amerika Cherien Dabis. Cherien Dabis bukan nama asing di dunia perfilman internasional. Sutradara sekaligus penulis naskah ini pernah meraih Directors' Fortnight FIPRESCI Prize di Festival Film Cannes dan memperoleh nominasi Primetime Emmy Awards 2022.
Baca juga: Madani Fest 2025 Dibuka dengan Film All That’s Left of You & Ditutup Banel & Adama
Melalui film terbarunya, dia kembali memperdalam tema tentang perspekstif Palestina dan eksistensi kemanusiaan di tengah genosida yang berkecamuk. Film yang diproduksi AMP Filmworks, Displaced Pictures, dan Doha Film Institute ini belakangan memang tengah mencuri perhatian, terutama setelah tayang perdana di Festival Film Sundance 2025 pada 25 Januari.
Pada bulan Juni, film tersebut juga masuk Kompetisi Resmi Festival Film Sydney 2025 dan meraih Penghargaan Penonton untuk Fitur Internasional Terbaik.
Tak berhenti di situ, All That’s Left of You terpilih mewakili Yordania dalam kategori Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-98. Film ini menjadi satu dari tiga karya bertema sejarah Palestina yang diajukan ke Oscar bersama Palestine 36 dan The Voice of Hind Rajab
Kini, film tersebut bertemu penontonnya di Indonesia melalui gelaran MIFF 2025. Dalam sambutan pembukaan, Direktur Festival MIFF 2025, Achmad Rifki, menyampaikan bahwa pemilihan film ini bukan hanya karena prestasinya di berbagai festival dunia, melainkan juga karena resonansi pesannya yang selaras dengan semangat MIFF.
"Di tengah genosida dan krisis kemanusiaan di Palestina, film ini jadi begitu penting," ungkapnya dalam pembukaan MIFF 2025.
Secara umum, Rifki mengatakan tema yang diangkat tahun ini adalah Misykat (Ceruk Cahaya). Lewat tema tersebut, MIFF mencoba menghadirkan refleksi mendalam atas kondisi dunia Muslim di tengah gelombang konflik dan kemanusiaan yang kian gelap.
Tema ini juga menjadi upaya untuk menyoroti tragedi kemanusiaan, termasuk genosida yang terus berlangsung terhadap rakyat Palestina, sembari menyerukan pentingnya cahaya empati dan solidaritas. Sebab, festival perlu hadir untuk menjadi wadah dari ruang-ruang tersebut lebih terdengar.
"Di tengah awan gelap yang menggelayut saat ini, kita bukan hanya perlu memberi cahaya, tapi memberi wadah dan mengarahkannya. Seluruh film yang tayang di festival telah dikurasi untuk menjadi wadah cahaya, untuk bersama mengarahkannya ke titik yang lebih terang," tegasnya.

Festival Board MIFF, Garin Nugroho (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sementara itu, festival board Garin Nugroho mengatakan film sejatinya adalah gambar hidup. Oleh karena itu, film semestinya tak hanya menjadi ruang untuk hiburan semata.
Lebih dari itu, film juga bisa berfungsi sebagai potret dan refleksi dari situasi kehidupan saat ini. Garin mengatakan MIFF mencoba menempatkan diri sebagai wadah bagi ruang-ruang tersebut.
Oleh karena itu, film-film yang diputar di festival ini tak sekadar karya yang populer dan sedang dibicarakan. Namun, justru yang hadir adalah film-film yang dikurasi sedemikian rupa agar yang penting juga bisa punya ruang untuk muncul dan akhirnya dibicarakan.
Madani International Film Festival (MIFF) 2025 akan berlangsung selama lima hari penuh, dari 8 hingga 12 Oktober 2025. Rangkaian pemutaran film digelar di sejumlah lokasi di Jakarta, antara lain Taman Ismail Marzuki, Universitas Bina Nusantara (Binus), Epicentrum XXI, dan Metropole XXI.
Selama penyelenggaraan, festival menayangkan 95 film dari 24 negara, mencakup ragam perspektif dan bentuk sinema kontemporer dunia Islam. Dari deretan film tersebut, 15 karya terpilih sebagai finalis Madani Shorts Film Competition, disaring dari lebih dari 1.700 film yang dikirim sineas berbagai negara.
Kelima belas film itu akan dinilai oleh tiga juri internasional—Philip Cheah (Singapura), Sajid Farda (Inggris), dan Natalie Stuart (Australia)—untuk menentukan empat karya terbaik.
MIFF 2025 juga akan menghadirkan program Focus Country yang bertajuk Sahel Plateau. Program ini akan menyoroti kawasan Sahel sebagai wilayah dengan sejarah panjang peradaban Islam dan jejak perjuangan dekolonisasi. Lima film pilihan dari Burkina Faso, Senegal, Mali, dan Nigeria akan menampilkan keragaman narasi serta dinamika sosial budaya di wilayah tersebut.
Selain pemutaran film, festival ini memperkaya pengalaman penonton dengan kelas pakar, diskusi publik, dan serangkaian pertunjukan budaya. Sebanyak 15 program siap digelar dengan menghadirkan nama-nama seperti Panji Sakti, Almamosca, Habib Husein Ja’far Al Hadar, hingga komedian Malaysia Rizal van Geyzel.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sinema madani Indonesia, MIFF 2025 juga menampilkan Program Retrospektif Garin Nugroho. Program ini akan menayangkan sejumlah karya penting sang maestro, seperti Mata Tertutup, Serambi, Rindu Kami Padamu, Tepuk Tangan, dan Nyanyi Sunyi dalam Rantang.
Festival kemudian akan ditutup dengan penayangan Banel & Adama (2023), karya debut sutradara Ramata-Toulaye Sy, hasil produksi bersama Prancis, Senegal, Mali, dan Qatar.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.