Madani Fest 2025 Dibuka dengan Film All That’s Left of You & Ditutup Banel & Adama
07 October 2025 |
22:39 WIB
Pesta film Madani International Film Festival (MIFF) 2025 akan kembali digelar akhir tahun ini. Menjadi perhelatan yang ke-8, MIFF akan diadakan selama lima hari, yakni pada 8–12 Oktober 2025 di Taman Ismail Marzuki, Universitas Bina Nusantara (Binus), Epicentrum XXI, dan Metropole XXI, Jakarta.
Mengangkat tema Misykat (Ceruk Cahaya), MIFF 2025 akan menyoroti berbagai isu di dunia Muslim dengan mengangkat kondisi dunia yang tengah mengalami kegelapan kemanusiaan akibat konflik dan perang. Termasuk genosida Israel atas rakyat Palestina, yang tak kunjung mendapatkan penyelesaian.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, MIFF 2025 kali ini juga telah menyiapkan dua film spesial yang masing-masing akan tayang sebagai pembuka (opening) dan penutup (closing) festival. Kedua film tersebut telah dikurasi oleh pihak penyelenggara dan dinilai patut menjadi bahan diskusi lanjutan bagi para pembuat dan penikmat film.
Baca juga: Jumbo Berkompetisi di Sharjah International Film Festival for Children & Youth
Tahun ini, MIFF 2025 akan dibuka dengan film All That’s Left of You (2025), drama apik besutan Cherien Dabis tentang keluarga di Palestina. Adapun, penutup festival adalah Banel & Adama (2023), karya debut sutradara Ramata-Toulaye Sy, hasil produksi bersama Prancis, Senegal, Mali, dan Qatar.
Direktur Festival MIFF 2025, Ahmad Rifki, mengatakan bahwa tahun ini pihaknya akan memutar 95 film dari sekitar 24 negara yang disajikan selama lima hari festival. Di antara film-film yang ditayangkan, terdapat 15 film finalis Madani Shorts Film Competition, dipilih di antara 1.711 film yang diajukan para sineas dari berbagai negara.
Selama festival, sebanyak 15 film finalis juga akan diputar dan dinilai oleh tiga juri internasional, yaitu Philip Cheah (Singapura), Sajid Farda (Inggris), dan Natalie Stuart (Australia), untuk menentukan empat pemenang. Madani Fest 2025 secara khusus juga akan mengangkat Dataran Sahel (Sahel Plateau) sebagai Focus Country tahun ini.
“Seluruh program-program Madani 2025 ini juga menjadi spirit dan wadah cahaya (misykat) untuk bersama mengarahkannya pada titik terang. Selain memutar film, kami juga mengadakan empat belas pertunjukan, empat puluh lima diskusi, dan lima lokakarya yang berkolaborasi dengan tiga puluh satu komunitas,” katanya saat konferensi pers di Teater Kecil, TIM, Jakarta, Selasa, (7/10/2025).
Setali tiga uang, sutradara Garin Nugroho melalui pesan video juga mengungkapkan bahwa tema Misykat mengajak publik untuk memusatkan pandangan—sebagaimana sebuah senter penerang—pada kehidupan yang lebih baik. Garin, yang juga anggota Board Madani, tahun ini menampilkan sejumlah karyanya dalam program Retrospeksi Madani Fest 2025.
Dikurasi oleh pengamat budaya pop dan kritikus film Hikmat Darmawan, film-film Garin seperti Mata Tertutup, Serambi, Rindu Kami Padamu, Tepuk Tangan, dan yang terbaru, Nyanyi Sunyi Dalam Rantang, akan diputar dalam festival kali ini. “Sudah selayaknya kita memberi terang pada kehidupan dengan film-film yang dipilih dalam festival ini,” ujar Garin.
Inayah Wahid, anggota Board Madani, mengatakan bahwa MIFF 2025 diharapkan bisa menjadi salah satu ruang budaya yang dapat menginspirasi transformasi kebudayaan. Menurutnya, kondisi dunia saat ini memerlukan perubahan kebudayaan yang masif untuk membawa nilai-nilai keagungan manusia, dan Madani Fest harus menjadi bagian dari upaya tersebut.
Kendati menghadirkan karya-karya dari dunia Muslim, Madani Fest juga diharapkan menjadi ruang aman bagi inklusi berbagai kalangan yang beragam untuk dapat menjadi diri mereka sendiri. Madani Fest juga merupakan cahaya kecil yang dapat bersatu dengan cahaya-cahaya lain hingga menjadi terang yang lebih besar.
“Saya berharap MIFF 2025 juga dapat menjadi ruang penuh oksigen untuk mengatasi kesesakan yang barangkali sedang dirasakan banyak orang, ruang penyembuhan bagi luka-luka yang barangkali belum tersembuhkan,” kata Inayah Wahid.
Sinopsis All That’s Left of You (2025)
Film garapan Cherien Dabis ini menelusuri perjalanan tiga generasi keluarga Palestina yang terikat oleh trauma, kehilangan, dan harapan. Cerita dimulai dengan Noor, seorang remaja yang terjebak dalam bentrokan di Tepi Barat, sebelum kisah beralih ke masa lalu keluarganya yang dimulai pada tahun 1948, saat Sharif, kakeknya, dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya di Jaffa.
Melalui narasi yang berpindah lintas waktu, film ini menyoroti bagaimana luka akibat pengusiran, penjara, dan pendudukan terus menurunkan jejak emosional dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah kekerasan dan kehilangan, All That’s Left of You menjadi refleksi tentang identitas dan daya tahan manusia yang tetap tumbuh meski di tanah yang terus dilanda konflik.
Sinopsis Banel & Adama (2023)
Berlatar di desa terpencil Senegal utara, film debut Ramata-Toulaye Sy ini menceritakan kisah cinta dua jiwa muda, Banel dan Adama, yang bermimpi hidup bebas dari belenggu tradisi. Cinta mereka tumbuh di tengah masyarakat yang konservatif, namun keinginan Adama untuk menolak peran sebagai kepala desa memicu ketegangan dan kecaman dari komunitasnya.
Ketika kemarau panjang melanda dan ternak mati, masyarakat mulai menuding Banel sebagai sumber malapetaka. Film ini berkembang menjadi alegori puitis tentang benturan antara cinta, kebebasan, dan adat, menggambarkan bagaimana mimpi pribadi bisa hancur di bawah beratnya kepercayaan dan takdir kolektif.
Baca juga: Review Film Rangga & Cinta: Kisah Nostalgia Romansa Remaja dalam Balutan Musikal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Mengangkat tema Misykat (Ceruk Cahaya), MIFF 2025 akan menyoroti berbagai isu di dunia Muslim dengan mengangkat kondisi dunia yang tengah mengalami kegelapan kemanusiaan akibat konflik dan perang. Termasuk genosida Israel atas rakyat Palestina, yang tak kunjung mendapatkan penyelesaian.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, MIFF 2025 kali ini juga telah menyiapkan dua film spesial yang masing-masing akan tayang sebagai pembuka (opening) dan penutup (closing) festival. Kedua film tersebut telah dikurasi oleh pihak penyelenggara dan dinilai patut menjadi bahan diskusi lanjutan bagi para pembuat dan penikmat film.
Baca juga: Jumbo Berkompetisi di Sharjah International Film Festival for Children & Youth
Tahun ini, MIFF 2025 akan dibuka dengan film All That’s Left of You (2025), drama apik besutan Cherien Dabis tentang keluarga di Palestina. Adapun, penutup festival adalah Banel & Adama (2023), karya debut sutradara Ramata-Toulaye Sy, hasil produksi bersama Prancis, Senegal, Mali, dan Qatar.
Direktur Festival MIFF 2025, Ahmad Rifki, mengatakan bahwa tahun ini pihaknya akan memutar 95 film dari sekitar 24 negara yang disajikan selama lima hari festival. Di antara film-film yang ditayangkan, terdapat 15 film finalis Madani Shorts Film Competition, dipilih di antara 1.711 film yang diajukan para sineas dari berbagai negara.
Selama festival, sebanyak 15 film finalis juga akan diputar dan dinilai oleh tiga juri internasional, yaitu Philip Cheah (Singapura), Sajid Farda (Inggris), dan Natalie Stuart (Australia), untuk menentukan empat pemenang. Madani Fest 2025 secara khusus juga akan mengangkat Dataran Sahel (Sahel Plateau) sebagai Focus Country tahun ini.
“Seluruh program-program Madani 2025 ini juga menjadi spirit dan wadah cahaya (misykat) untuk bersama mengarahkannya pada titik terang. Selain memutar film, kami juga mengadakan empat belas pertunjukan, empat puluh lima diskusi, dan lima lokakarya yang berkolaborasi dengan tiga puluh satu komunitas,” katanya saat konferensi pers di Teater Kecil, TIM, Jakarta, Selasa, (7/10/2025).
Setali tiga uang, sutradara Garin Nugroho melalui pesan video juga mengungkapkan bahwa tema Misykat mengajak publik untuk memusatkan pandangan—sebagaimana sebuah senter penerang—pada kehidupan yang lebih baik. Garin, yang juga anggota Board Madani, tahun ini menampilkan sejumlah karyanya dalam program Retrospeksi Madani Fest 2025.
Dikurasi oleh pengamat budaya pop dan kritikus film Hikmat Darmawan, film-film Garin seperti Mata Tertutup, Serambi, Rindu Kami Padamu, Tepuk Tangan, dan yang terbaru, Nyanyi Sunyi Dalam Rantang, akan diputar dalam festival kali ini. “Sudah selayaknya kita memberi terang pada kehidupan dengan film-film yang dipilih dalam festival ini,” ujar Garin.
Inayah Wahid, anggota Board Madani, mengatakan bahwa MIFF 2025 diharapkan bisa menjadi salah satu ruang budaya yang dapat menginspirasi transformasi kebudayaan. Menurutnya, kondisi dunia saat ini memerlukan perubahan kebudayaan yang masif untuk membawa nilai-nilai keagungan manusia, dan Madani Fest harus menjadi bagian dari upaya tersebut.
Kendati menghadirkan karya-karya dari dunia Muslim, Madani Fest juga diharapkan menjadi ruang aman bagi inklusi berbagai kalangan yang beragam untuk dapat menjadi diri mereka sendiri. Madani Fest juga merupakan cahaya kecil yang dapat bersatu dengan cahaya-cahaya lain hingga menjadi terang yang lebih besar.
“Saya berharap MIFF 2025 juga dapat menjadi ruang penuh oksigen untuk mengatasi kesesakan yang barangkali sedang dirasakan banyak orang, ruang penyembuhan bagi luka-luka yang barangkali belum tersembuhkan,” kata Inayah Wahid.
Sinopsis All That’s Left of You (2025)
Film garapan Cherien Dabis ini menelusuri perjalanan tiga generasi keluarga Palestina yang terikat oleh trauma, kehilangan, dan harapan. Cerita dimulai dengan Noor, seorang remaja yang terjebak dalam bentrokan di Tepi Barat, sebelum kisah beralih ke masa lalu keluarganya yang dimulai pada tahun 1948, saat Sharif, kakeknya, dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya di Jaffa.
Melalui narasi yang berpindah lintas waktu, film ini menyoroti bagaimana luka akibat pengusiran, penjara, dan pendudukan terus menurunkan jejak emosional dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah kekerasan dan kehilangan, All That’s Left of You menjadi refleksi tentang identitas dan daya tahan manusia yang tetap tumbuh meski di tanah yang terus dilanda konflik.
Sinopsis Banel & Adama (2023)
Berlatar di desa terpencil Senegal utara, film debut Ramata-Toulaye Sy ini menceritakan kisah cinta dua jiwa muda, Banel dan Adama, yang bermimpi hidup bebas dari belenggu tradisi. Cinta mereka tumbuh di tengah masyarakat yang konservatif, namun keinginan Adama untuk menolak peran sebagai kepala desa memicu ketegangan dan kecaman dari komunitasnya.
Ketika kemarau panjang melanda dan ternak mati, masyarakat mulai menuding Banel sebagai sumber malapetaka. Film ini berkembang menjadi alegori puitis tentang benturan antara cinta, kebebasan, dan adat, menggambarkan bagaimana mimpi pribadi bisa hancur di bawah beratnya kepercayaan dan takdir kolektif.
Baca juga: Review Film Rangga & Cinta: Kisah Nostalgia Romansa Remaja dalam Balutan Musikal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.