Mengenal Coffee Rave, Tren Pesta Tanpa Alkohol Tapi Minum Kopi
07 October 2025 |
21:29 WIB
Pergi ke klub atau bar, berdansa dan menenggak minuman beralkohol tak dipungkiri masih menjadi salah satu pilihan hiburan bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, hiburan ini mungkin sulit dinikmati oleh sebagian orang karena cenderung mahal hingga mengancam kesehatan karena dianggap sebagai gaya hidup yang buruk.
Namun, satu konsep hiburan baru kini tengah populer di berbagai negara termasuk Indonesia yakni Coffee Rave. Istilah ini terdiri dari dua kata yakni 'coffee' yang berarti kopi, dan 'rave' yang berarti acara pesta dansa anak-anak muda yang diiringi musik elektronik (electronic dance music) di sebuah ruangan ataupun area udara terbuka.
Dikutip dari Times of India, tren Coffee Rave merujuk pada acara pesta dansa di siang hari yang diadakan di dalam kedai kopi. Sesuai namanya, di pesta ini bukan alkohol yang disuguhkan melainkan kopi sebagai minuman utamanya.
Baca juga: New Wave, Kebangkitan Specialty Kopi Indonesia di Ranah Global
Di acara Coffee Rave biasanya orang-orang datang untuk berjoget dan berdansa mengikuti alunan musik elektronik yang menghentak dengan pakaian kasual, ditemani DJ yang memutar lagu-lagu. Sementara barista menyajikan berbagai minuman kopi seperti cappuccino, americano, dan sebagainya, alih-alih minuman beralkohol seperti koktail.
Berbeda dengan klub atau bar yang biasanya 'tersembunyi' dan cenderung tertutup, Coffee Rave justru dibuat sebagai ruang yang inklusif, aman, dan penuh semangat bagi siapa pun yang ingin berpesta tanpa perlu berhadapan dengan kekacauan klub malam.
Bahkan, di beberapa acara Coffee Rave, ada juga yang membuatnya dengan konsep seperti olahraga. Orang-orang datang mengenakan pakaian sporty, lalu menikmati alunan musik elektronik dari DJ yang juga menggunakan pakaian olahraga. Orang-orang pun berjoget dan menganggap pesta sebagai bagian dari melakukan aktivitas fisik.
Melansir dari The Hollywood Reporter, Coffee Rave bermula dari pesta kopi bernama Daybreaker yang pertama diadakan di sebuah kafe di Union Square, New York, pada Desember 2013. Sejak itu, pesta kopi pun telah menjadi tren di seluruh dunia, seperti di Amsterdam, Los Angeles, Paris, dan London.
Tren Coffee Rave pun semakin populer karena banyak orang yang mengabadikan momen dan membagikannya di media sosial saat mereka sedang berjoget sembari menikmati kopi dan kudapan. Akhirnya, banyak orang yang tertarik untuk mencari info hingga ikut dalam acara pestanya.
Di India, tren Coffee Rave muncul tak hanya lantaran keinginan adanya pesta yang lebih 'sehat', tetapi juga bentuk pemberontakan terhadap hiburan malam yang cenderung ramai, mahal dan didominasi oleh budaya minum yang cenderung tidak aman.
"Mereka ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, sesuatu yang bermakna. Itulah yang ditawarkan acara-acara ini. Rasa memiliki itu lah yang menjadi kejutan terbesar dan bagian yang paling memuaskan," kata Trisha Jain dari Cafe Manana di Chennai, India.
Tren Coffee Rave muncul di tengah semakin banyaknya orang yang sadar akan pentingnya gaya hidup sehat. Kesadaran itu membuat mereka mulai lebih bijak dan seimbang dalam melakukan berbagai aktivitas termasuk untuk urusan hiburan.
Ada beberapa faktor yang disinyalir menjadi pendorong munculnya tren Coffee Rave, mulai dari meningkatnya kesadaran soal kesehatan fisik dan mental, munculnya minat party tanpa mabuk, menghindari hal negatif di klub malam seperti aktivitas hingga larut malam, biaya tinggi, dan penggunaan obat-obatan terlarang.
Coffee Rave menawarkan sesuatu yang tidak ada dalam pesta di klub pada umumnya, yakni rasa kebersamaan yang terasa ringan tanpa harus merasa lelah pada malam hari. Acara ini dibuat untuk mereka yang ingin berpesta pada siang atau sore hari saat tidak bekerja, suka berolahraga, pencinta musik, hingga mereka yang hanya ingin menikmati pesta tanpa alkohol.
Di sisi lain, tren Coffee Rave juga terjadi karena adanya pergeseran generasi. Orang-orang yang pergi ke klub malam tahun 80-an hingga 90-an kini berusia 40-an atau 50-an. Hal ini membuat mereka ingin tetap berpesta namun di tempat yang lebih nyaman.
Bukan karena tidak punya energi, melainkan mereka mulai memiliki rutinitas yang berbeda sehingga harus menyesuaikan, seperti bangun pagi, sarapan, mengantar anak ke sekolah, lalu baru lah pergi ke pesta bersama teman-teman mendengarkan permainan DJ yang mereka suka. Dengan begitu, mereka sudah bisa berkumpul dengan keluarga di rumah pukul 4 atau 5 sore.
"Dulu ada masa ketika saya pergi ke pesta dansa sangat menikmati DJ atau lagu tertentu lalu kesulitan mengingat keesokan paginya karena mabuk. Percaya atau tidak, sekarang saya lebih suka melakukan ini dalam keadaan sadar. Anda ingat musiknya, daftar lagunya, orang-orang yang Anda ajak bicara," kata seorang pengunjung Coffee Rave.
Selain itu, Coffee Rave juga diminati karena bisa menjadi alternatif pesta yang lebih ramah kantong. Mereka tidak harus membeli minuman beralkohol yang relatif mahal, melainkan kopi yang memiliki kandungan kafein sekaligus telah menjadi simbol budaya global yang kuat.
"Kenapa harus buang-buang uang untuk minuman keras kalau bisa beli musik? Dengan setengah harga, saya bisa beli tiga kali lipat minuman. Dan kalau mau bayar untuk pengalaman musik, lebih baik ingat saja," kata seorang mahasiswa di Delhi.
Di negara yang kehidupan malamnya selalu dibarengi dengan aturan moral, masalah keamanan dan ekspektasi masyarakat, Coffee Rave menawarkan jalan tengah. Di mana kemeriahannya bukan pada minumannya, melainkan pada keseruan atmosfer dan kebersamaannya.
Baca juga: Tren Industri Kopi Gelombang Keempat, Ketika Narasi Budaya Hadir dalam Secangkir Kopi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, satu konsep hiburan baru kini tengah populer di berbagai negara termasuk Indonesia yakni Coffee Rave. Istilah ini terdiri dari dua kata yakni 'coffee' yang berarti kopi, dan 'rave' yang berarti acara pesta dansa anak-anak muda yang diiringi musik elektronik (electronic dance music) di sebuah ruangan ataupun area udara terbuka.
Dikutip dari Times of India, tren Coffee Rave merujuk pada acara pesta dansa di siang hari yang diadakan di dalam kedai kopi. Sesuai namanya, di pesta ini bukan alkohol yang disuguhkan melainkan kopi sebagai minuman utamanya.
Baca juga: New Wave, Kebangkitan Specialty Kopi Indonesia di Ranah Global
Di acara Coffee Rave biasanya orang-orang datang untuk berjoget dan berdansa mengikuti alunan musik elektronik yang menghentak dengan pakaian kasual, ditemani DJ yang memutar lagu-lagu. Sementara barista menyajikan berbagai minuman kopi seperti cappuccino, americano, dan sebagainya, alih-alih minuman beralkohol seperti koktail.
Berbeda dengan klub atau bar yang biasanya 'tersembunyi' dan cenderung tertutup, Coffee Rave justru dibuat sebagai ruang yang inklusif, aman, dan penuh semangat bagi siapa pun yang ingin berpesta tanpa perlu berhadapan dengan kekacauan klub malam.
Bahkan, di beberapa acara Coffee Rave, ada juga yang membuatnya dengan konsep seperti olahraga. Orang-orang datang mengenakan pakaian sporty, lalu menikmati alunan musik elektronik dari DJ yang juga menggunakan pakaian olahraga. Orang-orang pun berjoget dan menganggap pesta sebagai bagian dari melakukan aktivitas fisik.
@maricrisag saturday morning hits different when it starts like this ♀️✨ 6am run and post-run coffee rave with Philips and @Technogym! thank you for the invite @Philips Personal Care PH #GroomLikeAPro #fyp #foryou #coffeeparty #saturdaymorning #running #saturdayrun #activegirl #activelifestyle #healthy #runtok ♬ gimme gimme gimme BOBW party - Best of Both Worlds Party
Melansir dari The Hollywood Reporter, Coffee Rave bermula dari pesta kopi bernama Daybreaker yang pertama diadakan di sebuah kafe di Union Square, New York, pada Desember 2013. Sejak itu, pesta kopi pun telah menjadi tren di seluruh dunia, seperti di Amsterdam, Los Angeles, Paris, dan London.
Tren Coffee Rave pun semakin populer karena banyak orang yang mengabadikan momen dan membagikannya di media sosial saat mereka sedang berjoget sembari menikmati kopi dan kudapan. Akhirnya, banyak orang yang tertarik untuk mencari info hingga ikut dalam acara pestanya.
Di India, tren Coffee Rave muncul tak hanya lantaran keinginan adanya pesta yang lebih 'sehat', tetapi juga bentuk pemberontakan terhadap hiburan malam yang cenderung ramai, mahal dan didominasi oleh budaya minum yang cenderung tidak aman.
"Mereka ingin merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, sesuatu yang bermakna. Itulah yang ditawarkan acara-acara ini. Rasa memiliki itu lah yang menjadi kejutan terbesar dan bagian yang paling memuaskan," kata Trisha Jain dari Cafe Manana di Chennai, India.
@lloydcoffee.eatery Sunday morning hits different when it starts like this You were more than 200 at Lloyd Coffee Eatery - Boulevard de l’impératrice this Sunday for our Morning Party in collab with the amazing matcha run club — and the energy was unreal Let’s do it again soon? #coffeeparty #coffeerave #coffeeshop ♬ son original - Lloyd Coffee Eatery
Faktor Munculnya Tren Coffee Rave
Tren Coffee Rave muncul di tengah semakin banyaknya orang yang sadar akan pentingnya gaya hidup sehat. Kesadaran itu membuat mereka mulai lebih bijak dan seimbang dalam melakukan berbagai aktivitas termasuk untuk urusan hiburan. Ada beberapa faktor yang disinyalir menjadi pendorong munculnya tren Coffee Rave, mulai dari meningkatnya kesadaran soal kesehatan fisik dan mental, munculnya minat party tanpa mabuk, menghindari hal negatif di klub malam seperti aktivitas hingga larut malam, biaya tinggi, dan penggunaan obat-obatan terlarang.
Coffee Rave menawarkan sesuatu yang tidak ada dalam pesta di klub pada umumnya, yakni rasa kebersamaan yang terasa ringan tanpa harus merasa lelah pada malam hari. Acara ini dibuat untuk mereka yang ingin berpesta pada siang atau sore hari saat tidak bekerja, suka berolahraga, pencinta musik, hingga mereka yang hanya ingin menikmati pesta tanpa alkohol.
Di sisi lain, tren Coffee Rave juga terjadi karena adanya pergeseran generasi. Orang-orang yang pergi ke klub malam tahun 80-an hingga 90-an kini berusia 40-an atau 50-an. Hal ini membuat mereka ingin tetap berpesta namun di tempat yang lebih nyaman.
Bukan karena tidak punya energi, melainkan mereka mulai memiliki rutinitas yang berbeda sehingga harus menyesuaikan, seperti bangun pagi, sarapan, mengantar anak ke sekolah, lalu baru lah pergi ke pesta bersama teman-teman mendengarkan permainan DJ yang mereka suka. Dengan begitu, mereka sudah bisa berkumpul dengan keluarga di rumah pukul 4 atau 5 sore.
"Dulu ada masa ketika saya pergi ke pesta dansa sangat menikmati DJ atau lagu tertentu lalu kesulitan mengingat keesokan paginya karena mabuk. Percaya atau tidak, sekarang saya lebih suka melakukan ini dalam keadaan sadar. Anda ingat musiknya, daftar lagunya, orang-orang yang Anda ajak bicara," kata seorang pengunjung Coffee Rave.
Selain itu, Coffee Rave juga diminati karena bisa menjadi alternatif pesta yang lebih ramah kantong. Mereka tidak harus membeli minuman beralkohol yang relatif mahal, melainkan kopi yang memiliki kandungan kafein sekaligus telah menjadi simbol budaya global yang kuat.
"Kenapa harus buang-buang uang untuk minuman keras kalau bisa beli musik? Dengan setengah harga, saya bisa beli tiga kali lipat minuman. Dan kalau mau bayar untuk pengalaman musik, lebih baik ingat saja," kata seorang mahasiswa di Delhi.
Di negara yang kehidupan malamnya selalu dibarengi dengan aturan moral, masalah keamanan dan ekspektasi masyarakat, Coffee Rave menawarkan jalan tengah. Di mana kemeriahannya bukan pada minumannya, melainkan pada keseruan atmosfer dan kebersamaannya.
Baca juga: Tren Industri Kopi Gelombang Keempat, Ketika Narasi Budaya Hadir dalam Secangkir Kopi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.