Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro Diperpanjang hingga 15 Oktober 2025

06 October 2025   |   19:14 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Genhype yang belum sempat menyaksikan pameran bertajuk Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro sebaiknya segera berkunjung ke Galeri Nasional Indonesia. Museum Cagar dan Budaya unit Galeri Nasional Indonesia memperpanjangnya sampai 15 Oktober 2025.

Bayu Genia Krishbie, Penanggung Jawab Unit Galeri Nasional Indonesia, mengatakan alasan perpanjangan waktu pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro sampai 15 Oktober 2025 adalah lantaran antusiasme tinggi dari masyarakat.

Baca juga: 200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala

“Karena masih banyak masyarakat yang menanyakan tentang pameran Nyala,” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Senin, 6 Oktober 2025.

Dia mengatakan, banyak masyarakat masih bertanya tentang keberlangsungan pameran melalui sambungan telepon dan media sosial. Mereka yang bertanya berasal dari berbagai kalangan, terutama siswa sekolah.

Selain itu, beberapa waktu lalu, Galeri Nasional Indonesia juga sempat tutup karena kondisi Jakarta yang kurang kondusif, sehingga perpanjangan pameran untuk memberikan kesempatan masyarakat yang belum sempat berkunjung ke Galeri Nasional Indonesia.

Untuk diketahui, pada awalnya, pameran ini berlangsung sampai 15 September 2025 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Nyala adalah pameran seni dan sejarah yang mengangkat kembali makna perjuangan Diponegoro melalui perspektif visual, artistik, dan interdisipliner.

Selain itu, penyelenggaraannya juga dalam rangka menyambut peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus mengenang dua abad meletusnya peristiwa bersejarah Perang Diponegoro (1825–1830).

Selain menampilkan sosok Diponegoro secara literal, pameran ini juga menelusuri narasi tersembunyi seperti tokoh-tokoh non-sentral, pengalaman rakyat biasa, suara perempuan, hingga kisah sosiokultural yang terbentuk di sekitar peristiwa tersebut dan pengaruhnya hingga kini.

Adapun, jumlah karya yang terdapat dalam pameran ini mencapai 33 dan berasal dari 26 perupa dari berbagai daerah di Indonesia dengan bentuk lukisan, patung, instalasi, sketsa, dan sebagainya. Kemudian, ada juga karya dengan augmented reality, video, dan instalasi imersif.

Sementara itu, seniman yang karyanya dipajang adalah Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Aliansyah Caniago, Arafura, Ugo Untoro, Jompet Kuswidananto, Irene Agrivina, dan sebagainya.

Salah satu karya yang ada dalam pameran ini adalah lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) dari Raden Saleh. Karya ini menegaskan keberanian Sang Pangeran dengan sorot mata menantang, detail batik Jawa, hingga sindiran cerdas pada kolonialisme.

Setelah seratus tahun lebih tersimpan di Belanda, karya bersejarah ini akhirnya kembali ke Indonesia pada 1978. Pada saat ini, karya tersebut juga dapat dinikmati oleh para pencinta seni di dalam negeri ketika berkunjung ke pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro.

Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Katarak Bukan Hanya Penyakit Lansia, Kini Penanganannya Semakin Mudah

BERIKUTNYA

Album KPop Demon Hunters Jadi Soundtrack Netflix Pertama Puncaki Billboard 200

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga