Budi Pradono Luncurkan Buku Omah Tanah di Art Jakarta 2025, Arsitektur Berkelanjutan dari Material Tradisional
04 October 2025 |
16:50 WIB
1
Like
Like
Like
Arsitek senior Budi Pradono kembali membuat kejutan bagi publik seni lewat proyeknya yang paling anyar. Terbaru, pendiri Budi Pradono Architect itu meluncurkan buku dari hasil riset dan proyek berjudul Omah Tanah pada Sabtu, 4 Oktober 2025 di Art Jakarta 2025.
Buku ini menceritakan senarai pemikiran dan idealisme sang arsitek dalam mewujudkan bangunan yang merespon potensi lingkungan sekitarnya. Secara umum, dia menyibak proses cerita tentang perjalanan mewujudkan Omah Tanah di Pantai Loji, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.
“Buku ini saya hadirkan sebagai refleksi, semacam ekokritik bagi arsitek. Sebab arsitek tidak bisa hanya mengandalkan proyek dari klien, tetapi harus berpikir lebih besar tentang keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat,” papar Budi Pradono, sat ditemui Hypeabis.id usai acara peluncuran buku di Art Jakarta 2025.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Cek 4 Instalasi Seni yang Jadi Sorotan di Art Jakarta 2025
Dia menekankan bahwa Omah Tanah tidak lahir begitu saja. Sejak 20 tahun lalu, ketika kembali dari Belanda, dia sudah bereksperimen dengan material tanah di proyek Kayu Manis Restoran di Bali.
Meski saat itu teknologi yang digunakan masih merupakan campuran besar dari riset di Tiongkok, percobaan itu menjadi titik mula. “Risetnya tidak berhenti, saya belajar dari Suiguan hingga Fujian, melihat dinding tanah setebal dua meter yang bisa bertahan lama,” ujarnya.
Proses panjang itu kemudian berbuah pengakuan. Sebelum Omah Tanah rampung, pemerintah melalui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memberi penghargaan Good Design pada riset dinding tanahnya pada 2023.
Penghargaan tersebut, menurutnya, bukan hanya pencapaian pribadi. Dia membayangkan hasil riset ini bisa berdampak luas pada masyarakat dan menjadi metode gotong royong yang dapat dilakukan di banyak tempat.
“Setiap kelurahan bisa membuat dinding tanah sendiri dengan metode ini. Itu artinya arsitektur tidak hanya jadi domain profesional, tapi bisa dikerjakan bersama,” tegas Budi.
Dalam bukunya, dia juga melontarkan kritik pada praktik arsitektur kontemporer. Menurutnya, arsitek terlalu bergantung pada data, padahal data industri di Indonesia justru banyak yang tidak mendukung keberlanjutan.
Dia mencontohkan industri bata yang masih bergantung pada pembakaran kayu hutan. Aktivitas itu berlangsung setiap malam, menggerus hutan hanya demi produksi genteng atau bata, tanpa mempertimbangkan dampak ekologis.
Tanah, bagi Budi, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Dengan teknologi pengeras tanah yang terus berkembang, dinding bisa dipres tanpa perlu melalui pembakaran yang merusak alam.
Material tanah juga relatif mudah dijangkau. Jika tanah di sekitar lokasi sesuai, maka pondasi dan dinding bisa langsung dibuat tanpa harus mengambil dari daerah jauh sehingga jejak karbon lebih rendah.
Selain itu, dia menyoroti bagaimana tanah sesungguhnya sudah menjadi bagian dari tradisi Nusantara. Di Lombok dan Bali Aga, rumah-rumah pada masa lalu menggunakan dinding tanah dengan kerangka bambu sebagai struktur utamanya.
Budi bahkan mengaitkan risetnya dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Menurutnya, dinding tanah bisa menjadi solusi material yang lebih hemat, berkelanjutan, dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Jawa.
“Sekarang harga material di IKN mahal sekali karena semua harus dikirim dari Jawa. Bayangkan kalau dinding tanah bisa jadi solusi lokal, tentu luar biasa,” ungkapnya.
Buku Omah Tanah terbagi dalam sejumlah bab yang menyoroti perjalanan riset, mulai dari Afrika, China, hingga eksperimen di Jawa Barat. Di dalamnya, dia juga menyinggung kearifan lokal seperti penggunaan rumput atau kotoran kerbau sebagai perekat alami.
Peluncuran buku ini menjadi penanda penting dalam perjalanan karier Budi Pradono. Dia tidak hanya mencatatkan hasil riset panjangnya, tetapi juga menyampaikan gagasan tentang arsitektur yang berpihak pada lingkungan dan melibatkan masyarakat.
Baca Juga: Ombak yang Belum Tidur: Ipeh Nur, Mitologi, dan Jejak Bencana di Art Jakarta 2025
Buku ini menceritakan senarai pemikiran dan idealisme sang arsitek dalam mewujudkan bangunan yang merespon potensi lingkungan sekitarnya. Secara umum, dia menyibak proses cerita tentang perjalanan mewujudkan Omah Tanah di Pantai Loji, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.
“Buku ini saya hadirkan sebagai refleksi, semacam ekokritik bagi arsitek. Sebab arsitek tidak bisa hanya mengandalkan proyek dari klien, tetapi harus berpikir lebih besar tentang keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat,” papar Budi Pradono, sat ditemui Hypeabis.id usai acara peluncuran buku di Art Jakarta 2025.
Baca Juga: Bikin Penasaran, Cek 4 Instalasi Seni yang Jadi Sorotan di Art Jakarta 2025
Dia menekankan bahwa Omah Tanah tidak lahir begitu saja. Sejak 20 tahun lalu, ketika kembali dari Belanda, dia sudah bereksperimen dengan material tanah di proyek Kayu Manis Restoran di Bali.
Meski saat itu teknologi yang digunakan masih merupakan campuran besar dari riset di Tiongkok, percobaan itu menjadi titik mula. “Risetnya tidak berhenti, saya belajar dari Suiguan hingga Fujian, melihat dinding tanah setebal dua meter yang bisa bertahan lama,” ujarnya.
Proses panjang itu kemudian berbuah pengakuan. Sebelum Omah Tanah rampung, pemerintah melalui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memberi penghargaan Good Design pada riset dinding tanahnya pada 2023.
Penghargaan tersebut, menurutnya, bukan hanya pencapaian pribadi. Dia membayangkan hasil riset ini bisa berdampak luas pada masyarakat dan menjadi metode gotong royong yang dapat dilakukan di banyak tempat.
“Setiap kelurahan bisa membuat dinding tanah sendiri dengan metode ini. Itu artinya arsitektur tidak hanya jadi domain profesional, tapi bisa dikerjakan bersama,” tegas Budi.
Dalam bukunya, dia juga melontarkan kritik pada praktik arsitektur kontemporer. Menurutnya, arsitek terlalu bergantung pada data, padahal data industri di Indonesia justru banyak yang tidak mendukung keberlanjutan.
Dia mencontohkan industri bata yang masih bergantung pada pembakaran kayu hutan. Aktivitas itu berlangsung setiap malam, menggerus hutan hanya demi produksi genteng atau bata, tanpa mempertimbangkan dampak ekologis.
Tanah, bagi Budi, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Dengan teknologi pengeras tanah yang terus berkembang, dinding bisa dipres tanpa perlu melalui pembakaran yang merusak alam.
Material tanah juga relatif mudah dijangkau. Jika tanah di sekitar lokasi sesuai, maka pondasi dan dinding bisa langsung dibuat tanpa harus mengambil dari daerah jauh sehingga jejak karbon lebih rendah.
Selain itu, dia menyoroti bagaimana tanah sesungguhnya sudah menjadi bagian dari tradisi Nusantara. Di Lombok dan Bali Aga, rumah-rumah pada masa lalu menggunakan dinding tanah dengan kerangka bambu sebagai struktur utamanya.
Budi bahkan mengaitkan risetnya dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara. Menurutnya, dinding tanah bisa menjadi solusi material yang lebih hemat, berkelanjutan, dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Jawa.
“Sekarang harga material di IKN mahal sekali karena semua harus dikirim dari Jawa. Bayangkan kalau dinding tanah bisa jadi solusi lokal, tentu luar biasa,” ungkapnya.
Buku Omah Tanah terbagi dalam sejumlah bab yang menyoroti perjalanan riset, mulai dari Afrika, China, hingga eksperimen di Jawa Barat. Di dalamnya, dia juga menyinggung kearifan lokal seperti penggunaan rumput atau kotoran kerbau sebagai perekat alami.
Peluncuran buku ini menjadi penanda penting dalam perjalanan karier Budi Pradono. Dia tidak hanya mencatatkan hasil riset panjangnya, tetapi juga menyampaikan gagasan tentang arsitektur yang berpihak pada lingkungan dan melibatkan masyarakat.
Baca Juga: Ombak yang Belum Tidur: Ipeh Nur, Mitologi, dan Jejak Bencana di Art Jakarta 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.