Pengunjung menikmati karya Ipeh Nur berjudul Ombak Belum Tidur di Art Jakarta 2025 (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Ombak yang Belum Tidur: Ipeh Nur, Mitologi, dan Jejak Bencana di Art Jakarta 2025

03 October 2025   |   19:32 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Tenda berbentuk tanggul beton berukuran 4 x 2,5 meter itu selalu ramai dimasuki pengunjung. Letaknya di persimpangan jalan dengan warna oker dan lukisan sureal di sekelilingnya membuat banyak orang penasaran untuk tak hanya sekadar melihat, tapi turut masuk.

Begitu melangkah masuk, pengunjung disuguhi video berdurasi 11 menit. Narasinya luas, namun premis utamanya menarasikan hubungan antara mitos Nyai Roro Kidul dengan mitigasi kebencanaan dari ancaman megathrust di Nusantara.

Baca juga: Art Jakarta 2025 Resmi Dibuka, Perkuat The Cultural and Creative Industry Indonesia

Berjudul Ombak Belum Tidur, instalasi karya Ipeh Nur ini menjadi salah satu karya yang paling banyak diperbincangkan di gelaran Art Jakarta 2025. Dipresentasikan dalam program AJ Spot, karya ini sebelumnya juga masuk jajaran penting di Future Generation Art Prize 2024 di Ukraina.

Future Generation Art Prize sendiri merupakan penghargaan seni kontemporer dua tahunan yang digelar Victor Pinchuk Foundation. Agenda ini menjadi salah satu panggung bergengsi bagi seniman muda dunia untuk mendorong inovasi, eksperimentasi, sekaligus memperluas eksposur global mereka.

Ipeh menjadi salah satu penerima penghargaan khusus dalam perhelatan itu. Karyanya dianggap istimewa karena tidak hanya menyodorkan visual, tetapi juga membangun pengalaman imersif. Juri menilai karyanya berhasil memanfaatkan metafora untuk membangun kembali ruang batin manusia, serta mengundang pengunjung masuk dalam dunia kisah yang dia ciptakan.

Kini, karya tersebut dibawa oleh Ara Contemporary ke tengah bursa seni rupa terbesar di Indonesia. Melalui mitologi, Ipeh menghadirkan sebuah pengingat bahwa cerita masa lalu, meski sering dianggap fiktif, sesungguhnya membawa pengetahuan alternatif yang tidak bisa diremehkan.

“Karya ini terinspirasi dari ingatan terhadap kakekku atas perjalanan spiritualnya di Laut Selatan. Dari sana aku mulai mempertanyakan ulang dan menemukan bukti penelitian geologis. Umur tsunami purba di selatan Jawa ternyata sama dengan kisah kemunculan Nyai Roro Kidul,” kata Ipeh saat ditemui Hypeabis.id.

 

Seniman Ipeh Nur berpose di depan karyanya berjudul Ombak Belum Tidur di Art Jakarta Spot (sumber gambarL Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Seniman Ipeh Nur berpose di depan karyanya berjudul Ombak Belum Tidur di Art Jakarta Spot (sumber gambarL Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

 

Dalam kajian antropologi, mitologi dan kebencanaan memang memiliki keterkaitan erat. Di Indonesia, dengan tradisi tutur yang kuat, banyak mitos berakar pada ingatan kolektif tentang bencana besar. Dari letusan gunung, banjir purba, hingga tsunami, kisah-kisah itu diwariskan sebagai simbol.

Dalam kasus karya ini, Nyai Roro Kidul hadir sebagai representasi kekuatan alam yang tidak terduga. Samudra Hindia selatan Jawa yang rawan tsunami dipersonifikasikan sebagai Sang Ratu Laut Selatan, sosok yang murka sekaligus berkuasa atas manusia di sekitarnya.

Ipeh menjelaskan bahwa dia ingin mempertanyakan ulang cerita yang selama ini diterima begitu saja. “Mungkin ini bahasa lain orang-orang dulu, cara mereka memetaforkan atau menyimbolkan sebuah peristiwa penting atau kebencanaan,” ujarnya.

Video dalam instalasinya berangkat dari memori tentang sang kakek, lalu berkembang menjadi perjalanan ke pesisir selatan Jawa. Dari Parangkusumo hingga Pantai Sadeng, dia merekam jejak ritual seperti labuhan dan sedekah laut, yang masih dilakukan masyarakat setempat sebagai bentuk harmoni dengan laut.

Menariknya, dalam periode yang sama dia juga menggarap karya tentang pesisir utara Jawa. Di sana, pengalaman spiritual terasa berbeda, yakni utara lebih religius karena menjadi gerbang masuk pengaruh luar dan Islamisasi, sedangkan selatan lebih kental dengan spiritualitas dan mitologi laut.

Perbedaan itu justru memperkaya refleksinya. Menurutnya, yang menghubungkan kedua wilayah adalah ketertarikan pada mitos dan bencana. Keduanya menyimpan cara unik masyarakat dalam memahami lingkungan, baik melalui teks agama maupun kisah kosmologis.

Ipeh menyebut dirinya tertarik dengan istilah geomitologi, yakni pendekatan ilmiah yang mencoba menafsirkan peristiwa kebencanaan melalui mitos dan tradisi tutur. Baginya, ini adalah jembatan antara ilmu pengetahuan modern dan cara leluhur menyampaikan pengalaman hidup.

Dia mencontohkan kisah Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Legenda tentang Sangkuriang mungkin fiksi, tetapi di dalamnya ada jejak letusan gunung purba dan perubahan lanskap alam. Dengan metafora, orang dulu mengarsipkan pengalaman traumatis dalam bentuk cerita.
 

aha

Salah satu karya Ipeh Nur dari hasil risetnya di pantai Utara Jawa di Art Jakarta 2025 (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
 

Mitos, menurutnya, adalah bentuk pengetahuan alternatif. Dia mungkin tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi menyimpan kearifan tentang bagaimana manusia memahami, merespons, dan bertahan menghadapi bencana.

Dengan demikian, Ombak Belum Tidur bukan hanya karya seni visual, melainkan ruang refleksi. Karya ini mengajak publik untuk melihat mitos bukan sekadar dongeng, melainkan bagian dari memori kolektif tentang bencana yang pernah terjadi.

Melalui proses berkarya, Ipeh menghadirkan percakapan baru tentang hubungan manusia dengan alam. Karyanya mengingatkan bahwa mitologi tidak mati, dia terus hidup dalam pengalaman sehari-hari, sekaligus menjadi arsip kultural dari trauma dan ketahanan masyarakat.

Pada akhirnya, karya ini menegaskan bahwa seni dapat berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dia membuka ruang untuk menafsirkan ulang kisah lama, sembari menyadarkan publik tentang ancaman bencana yang nyata.

Seperti judulnya, ombak memang belum tidur, bencana katastrof bisa datang kapan saja. Sementara itu, mitos, dengan segala simbol dan metaforanya, membantu manusia untuk tetap waspada, sekaligus berdamai dengan ketidakpastian alam.

Baca juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Optimistis Ekonomi Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Art Jakarta 2025 Resmi Dibuka, Perkuat The Cultural and Creative Industry Indonesia

BERIKUTNYA

Romcom di Tengah Dominasi Horor, Masihkah Punya Tempat di Bioskop?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga