Bikin Penasaran, Cek 4 Instalasi Seni yang Jadi Sorotan di Art Jakarta 2025
Tahun ini, sebanyak 75 galeri terkurasi menyajikan koleksi terbaik mereka. Fokus utama tetap pada seni kontemporer Asia Tenggara, namun kehadiran galeri dari berbagai negara membuatnya menjadi titik temu penting antara seniman, kolektor, galeri, dan para pencinta seni dari seluruh dunia.
Baca juga: Menilik Konsep Unik VIP Lounge DESIGN:JAKARTA di Art Jakarta 2025
Selama pameran berlangsung, pengunjung dapat menikmati berbagai bentuk karya seni, mulai dari patung, instalasi, hingga karya dua dimensi. Seperti tahun sebelumnya, Art Jakarta 2025 menempati Hall B3, C3, dan C1 di JIEXPO, sehingga memberikan ruang yang cukup luas untuk eksplorasi karya.
Resmi dibuka mulai Jumat, 3 Oktober 2025, pameran ini bisa dikunjungi hingga Minggu, 5 Oktober 2025. Tentu, gelaran Art Jakarta 2025 tak boleh dilewatkan pekan ini. Terlebih, karya-karya yang dipamerkan kali ini membawa tema dan narasi yang beragam.
Dihimpun Hypeabis.id selama pembukaan pameran, berikut adalah 4 karya instalasi yang mencuri perhatian, dan layak dikunjungi oleh Genhype:
1. Bayi Perahu – Iwan Yusuf

Menteri Kebudayaan Fadli Zon berdiri di samping karya Iwan Yusuf berjudul Bayi Perahu, dan menikmati senarai karya seni di Art Jakarta 2025. (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
Perahu Karet mengimajinasikan perahu layar yang tampak elastis, memanjang terkena hembusan angin. Keunikannya terletak pada ilusi visual, yakni lukisan tersebut seolah bergerak sekaligus diam, dengan distorsi yang tetap indah secara estetis.
Sementara itu, Bayi Perahu menghadirkan replika perahu berdimensi 200x160 cm, dibuat dari kayu dan pelat baja sebagai rangka dasar. Keistimewaannya justru muncul dari jaring yang direnda sedemikian rupa, hingga membentuk wajah anak-anak yang sedang bermain di pantai.
2. Ombak Belum Tidur – Ipeh Nur

Seniman Ipeh Nur berpose di depan karyanya berjudul Ombak Belum Tidur di Art Jakarta Spot (sumber foto: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Karya instalasi Ombak Belum Tidur menjadi salah satu yang paling banyak menyedot perhatian publik. Dipresentasikan dalam program AJ Spot, karya ini sebelumnya juga masuk jajaran penting di Future Generation Art Prize 2024 di Ukraina.
Terinspirasi dari mitos Nyai Roro Kidul, Ipeh mengaitkan karyanya dengan mitigasi kebencanaan, khususnya ancaman gempa megathrust. Menurutnya, meski tidak berbasis ilmiah, mitos di Nusantara sering menjadi cara masyarakat memahami dan memberi makna pada peristiwa besar, termasuk bencana.
Lewat karya ini, Ipeh mengajak publik mempertanyakan ulang cerita-cerita yang diterima begitu saja. “Mungkin ini bahasa lain orang-orang dulu, cara mereka memetaforkan atau menyimbolkan sebuah peristiwa penting atau kebencanaan,” jelasnya.
3. Object Permanence (Intro) – Aditya Novali

Instalasi karya Aditya Novali berjudul Object Permanence (Intro) di Art Jakarta 2025 (sumber foto: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Dipresentasikan oleh ROH Projects, karya Object Permanence mengeksplorasi hubungan antara benda warisan dengan memori, garis keturunan, dan sejarah keluarga. Dari jauh, dia tampak seperti monumen; namun dari dekat terlihat sebagai tumpukan loker bergaya art deco.
Bentuk vertikalnya menggunakan material logam-kayu bercermin, menciptakan kesan bahwa memori diproyeksikan ke ruang kontemporer. Seolah ada jembatan antara masa lalu dengan masa kini yang terus bergerak.
Karya ini juga sangat personal bagi Aditya. Terinspirasi dari lemari tua warisan neneknya, bentuk itu kemudian ia gandakan sebagai menara yang menjulang, menjelma tubuh yang menyimpan sekaligus melestarikan jejak lintas generasi.
4. Of Other Tomorrows Never Known – Natasha Tontey

Penunjung menonton karya instalasi berjudul Of Other Tomorrows Never Know, dari Natasha Tontey, di Art Jakarta 2025 (sumber gambarL Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Instalasi Natasha Tontey menghadirkan fiksi spekulatif yang berakar pada kosmologi Minahasa. Dibuat pada 2023, karyanya mengeksplorasi hubungan generasi masa kini dengan leluhur, melalui spiritualitas, materi, hingga teknologi.
Berformat video berdurasi 15 menit, kisahnya mengikuti Makatana, tokoh mitologi penguasa kosmik sekaligus penjaga tanah. Roh di sini dipahami bukan hanya mitos, melainkan sistem pengetahuan yang membentuk keseimbangan antara manusia dan non-manusia.
Lebih jauh, Natasha juga menyelipkan kritik pascakolonial dan neoliberalisme yang masih membayangi Indonesia. Roh-roh yang muncul digambarkan sebagai penyembuh, penasihat, sekaligus pengingat atas kesalahan masa lalu dan masa kini.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.