Cosmas Gozali (Sumber gambar: Dok. Pribadi)

Profil Arsitek Cosmas Gozali, Saat Karya Diapresiasi, Capek & Lelah Hilang Semua

29 October 2022   |   16:46 WIB

Cosmas D. Gozali adalah salah satu arsitek ternama di Indonesia. Berbagai rancangannya telah berdiri kokoh di Jakarta, serta sejumlah kota besar lainnya. Tentu, pencapaian Cosmas tidak diraih dalam semalaman. Dia telah memupuknya sejak lama. 

Kecintaan Cosmas terhadap dunia arsitek sudah dimulai sejak masa anak-anak. Pada 1970-an, saat diajak ayahnya berkeliling Jakarta menggunakan mobil, dia selalu memperhatikan gedung-gedung tua di Ibu Kota. Bahkan, Cosmas sampai mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil sangking penasarannya dengan bangunan-bangunan tersebut. 

Dia merasa gedung-gedung dan rumah-rumah tua peninggalan kolonial itu seperti sedang memanggil-manggilnya. "Hati saya berdebar tiap kali melihat gedung-gedung itu. Mereka seakan-akan memanggil saya," tuturnya. 

Berangkat dari memori masa kecil tersebut, Cosmas pun berkeinginan untuk menjadi perancang bangunan. Namun, keinginan tersebut tidak serta merta mendapat restu orang tua. Sebab bagi mereka, karier arsitek kurang prospektif. Sebaliknya, mereka justru menginginkan Cosmas berkarier di dunia IT, karena dianggap masa depannya lebih cerah dibandingkan arsitek. 

Kendati demikian, Cosmas tidak bergeser sedikit pun pada keinginan awalnya, menjadi seorang arsitek. Bagi Cosmas, dengan menjadi arsitek dia dapat meluapkan imajinasinya tentang ruang. Sementara di ranah IT, hal tersebut tidak bisa didapatkan karena bersinggungan dengan angka-angka. 

Lebih dari itu, dia merasa ada panggilan jiwa di dunia arsitek. "Saya putuskan jadi arsitek. Andaikata saya melalui kehidupan berat, tetapi itulah jalan hidup saya sebagai arsitek," tuturnya.

Setelah mendapat restu dari orang tua memilih karier arsitek, Cosmas bertekad bekerja berkali-kali lipat untuk membuktikan kepada orang tua, sekaligus dirinya bahwa keputusannya tersebut tepat. Dia percaya apa pun profesinya, ketika dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan mendapat hasilnya. 

"Entah kapan karena waktu yang mengatur tuhan. Tetapi kita pasti mencapainya."

Demi mewujudkan cita-citanya tersebut. Cosmas kemudian mendaftar ke kampus di Jerman dan Austria. Hasilnya, Cosmas diterima kedua kampus tersebut. Namun dia lebih memilih Technische Universitat Wien, Vienna Austria karena di sana lebih sedikit orang Indonesianya.  Dia khawatir ketika banyak orang Indonesia kuliahnya tidak fokus lantaran lebih banyak bergaul. 

Kuliah di negeri orang, Cosmas hanya dibiayai orang tua di tahun pertama. Selebihnya dia mencari uang dengan bekerja di sela-sela perkuliahannya. Bekerja paruh waktu hingga tengah malam menjadi kebiasaan Cosmas saat kuliah. 

Tetapi mengajarkan les menjadi pekerjaan pertama sekaligus paling mengesankan baginya.  Saat ada ujian mata kuliah ilmu ukur ruang, dia berhasil melewati ujian itu sekali. Padahal mata kuliah tersebut terkenal paling sulit. Butuh dua hingga tiga kali ujian bagi para mahasiswa untuk lolos mata kuliah itu. Mahasiswa-mahasiswa pun meminta Cosmas mengajarkan mata kuliah tersebut. 

Namun, teman Cosmas lainnya menyarankan agar hal tersebut dijadikan pekerjaan untuk pemasukan. Cosmas menuruti saran temannya itu. Dia mengajar les dari apartemen ke apartemen dengan siswanya sebagian merupakan senior Cosmas di kampus. 

"Di sana lah saya terbuka. Saya katakan kita ini [orang Indonesia] tidak kalah. Percaya diri saya tumbuh. Ternyata orang-orang barat yang selama ini diagungkan, yang bodoh juga banyak," ujarnya seraya tertawa. 
 

Kembali ke Indonesia

Pada 1992, Cosmas balik kampung ke Tanah Air. Dia melihat ketika itu memang sudah waktunya pulang karena ada peluang berkarier sebagai arsitek, mengingat ekonomi Indonesia sedang tumbuh. Semasa kuliah, Cosmas sudah menyimpan keinginan membangun Indonesia. 

Bersama rekannya di Indonesia, Cosmas kemudian mendirikan perusahaan konsultan arsitek PT. Archindo Ciptakreatif.  "Kami langsung pergi ke notaris bentuk perusahaan," tuturnya.

Pembangunan gudang tukang sepeda di Roxy Mas menjadi proyek pertama Cosmas bersama perusahaannya tersebut. Cosmas menuturkan saat itu profesi arsitek belum dihargai. Kontraktor, imbuhnya, justru lebih berharga dari arsitek. Namun Cosmas enggan menyerah menghadapi kondisi tersebut. 

"Mau dihantam, dimaki orang, dibohongin kontraktor sama tukang bangunan kami tetap berikan yang terbaik. Anggap saja itu pil pahit yang harus ditelan," ujarnya. 

Setelah bertahun-tahun berpartner dengan rekannya, Cosmas memutuskan bersolo karier. Pada 2005, dia mendirikan Atelier Cosmas Gozali atau PT Arya Cipta Garaha hingga sekarang. Dengan perusahaannya ini, Cosmas memiliki visi membawanya maju ke level internasional. Dia juga memiliki impian perusahannya dapat go public supaya dapat bertahan lebih lama. 

Belajar dari pengusaha-pengusaha di industri kreatif, nama mereka tetap dikenal kendati orangnya sudah meninggal dunia. Mengenai hal itu, Cosmas ingin menjadi seperti Christian Dior yaitu memberikan legacy untuk perusahaannya walau nanti sudah tak lagi dikendalikannya. 

"Target kami bisa menguasai pasar lokal sebanyak mungkin. Tentu juga saya ingin perusahaan ini diapresiasi secara internasional. Makanya saya kerap ikut acara-acara internasional dan memberikan hasil terbaik kepada klien," tuturnya. 

Dalam menghadapi klien, Cosmas tidak sembarangan menerima mereka. Bagi dia, klien yang datang kepadanya sudah mempunyai tingkat kecocokan 80 persen. Biasanya Cosmas akan bertanya terlebih dahulu kepada calon klien dari mana mereka tahu informasi tentang namanya. 

Cosmas mengatakan bila klien itu sudah cocok dengan karya-karyanya, mereka langsung setuju teken kontrak. Namun bagi yang belum tahu, Cosmas akan mengenalkannya terlebih dahulu proyek-proyeknya. Sehingga, klien tersebut memiliki bayangan tentang konsultan arsitek yang hendak diajak bekerja sama. 

"Kalau dari awal [klien] sudah tidak cocok, tidak bisa dipaksakan." 

Di dalam perusahaan, Cosmas juga memompa para arsitektur muda yang bekerja dengannya untuk lebih giat lagi. Guna mendorong kinerja para bawahannya, Cosmas memberi tantangan seperti membuat instalasi seni. Dengan membangun instalasi seni mereka bisa dengan cepat dapat melihat hasil kerja mereka. 

Lain halnya dengan proyek arsitektur yang butuh waktu bertahun-tahun untuk selesai. Begitu bangunannya sudah selesai, kadang arsitek tersebut sudah tidak lagi bekerja di kantor lamanya. Cosmas menilai kepuasan batin itu merupakan kunci untuk memberikan semangat bekerja para arsitek muda. 

"Mereka yang mengalami hal itu memiliki kebanggaan tersendiri. Apalagi diapresiasi publik. Capek dan lelah hilang semua," tuturnya. 

Selain memberi tantangan itu, Cosmas berusaha melibatkan tim dalam proyek-proyek arsitekturnya. Walau ide berasal darinya, dia tetap melemparkannya ke tim.  Cosmas tidak mau melihat anak buahnya bekerja sendiri karena arsitektur tidak dapat dikerjakan perorangan. 

Di dalam tim itu, mereka akan digilir menjadi kepala tim dan anggota. Cosmas menuturkan hal tersebut dilakukan supaya mereka dapat mengerti manajemen sekaligus ikut berpikir menggodok ide. 

Pasalnya Cosmas tak ingin anak buahnya seperti mesin yang hanya mengikuti perintah atasannya saja. Selain itu dia juga akan memberikan masukan-masukan kepada hasil kerja timnya. 

"Saya tidak mau konsep itu sekadar copas. Bahayanya generasi sekarang adalah copas," tuturnya. 

Cosmas tak lupa berpesan kepada arsitek-arsitek muda untuk membekali diri dengan keterampilan lebih. Sebab, ujarnya, di Indonesia seorang arsitek dituntut bekerja multitasking. Sehingga bila arsitek tersebut hanya mampu menguasai satu bidang pekerjaan maka akan sulit bersaing. Berbeda dengan di luar negeri, arsitek hanya mengerjakan bidang yang terkait dengannya. 

"Kalau di sini kan sudah seperti borongan apa saja harus bisa," tuturnya. 
 

Modern & Futuristik

Dalam berkarya, arsitek yang pernah meraih Ikatan Arsitek Indonesia Award 2002 itu mengakui gayanya cenderung modern dan futuristik. Tetapi Cosmas memastikan bukan gaya yang dia ciptakan, tetapi jiwa dalam sebuah bangunan. Diibaratkannya gaya arsitektur itu seperti baju, yang terpenting adalah konsep tentang ruang. 

"Kalau konsep ruangnya bagus, gaya yang dipakai apa pun sesuai."

Sementara putih menjadi warna yang biasa digunakan Cosmas ketika berkarya. Cosmas berpendapat saat bangunan diberi cat putih, maka warna lain itu bisa muncul dari alam seperti pancaran sinar matahari maupun penghuninya sendiri. Buat Cosmas, putih itu ibarat kanvas kosong yang memberikan keleluasaaan bagi penghuni untuk mewarnainya. 

Meskipun demikian, Cosmas tak lupa terhadap arsitektural lokal. Tetapi Cosmas enggan menduplikasi lokalitas tersebut dalam bangunannya. Dia lebih mengambil esensi atau kejiwaan dari arsitektural lokal tersebut. Prinsip karyanya adalah mengglobalisasikan lokalitas. 

"Saya kembangkan arsitektur Indonesia dalam gaya saya," tuturnya.

Berada di puncak karier, Cosmas merasa masih terus harus berjuang menuju keberhasilan. Buat dia keberhasilan itu ketika mampu menggerakkan suatu bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Dalam arsitektur, dia ingin arsitek-arsitek Indonesia mendunia. 

Dia memiliki cita-cita suatu saat orang Indonesia mengenalnya bukan lewat bangunan, tetapi gerakkan mengubah nasib arsitek Indonesia di mata dunia. "Itulah pencapaian hidup saya. Bukan cuma buat bangunan yang jadi monumen. Saya berprinsip jangan menyerah, lakukan hal terbaik, dan jujur." 
SEBELUMNYA

Kiprah Perjalanan Karier Arsitek Budi Pradono, 'Awalnya Ingin Menjadi Seniman Cuma Gagal'

BERIKUTNYA

Rekomendasi 5 Anime Tayang Oktober 2022 yang Wajib Kalian Tonton

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: