Visualisasi fatty liver. (Sumber gambar: Freepik)

Apa Itu Fatty Liver? Terlalu Banyak Minum Alkohol Jadi Salah Satu Penyebabnya

03 October 2025   |   13:13 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Lemak berlebih tentu memberi dampak buruk bagi kondisi tubuh, terlebih jika molekul organik itu menumpuk di bagian organ hati. Jika tidak dikenali dan deteksi sejak dini, risiko kesehatan serius bisa menghampiri karena gejalanya tidak terlihat pada masa awal.

Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Lianda Siregar,  menerangkan perlemakan hati atau fatty liver disease merupakan kondisi ketika terdapat penumpukan lemak berlebih, terutama trigliserida, di dalam sel-sel hati.

Penyakit organ hati ini dapat terjadi pada setiap orang, meskipun lebih banyak dialami oleh mereka yang berusia di atas 30 tahun.  Dari data epidemiologi, perlemakan hati terjadi pada 10-35 persen populasi umum, dan mencapai 40-90 persen pada penderita obesitas.

“Penumpukan lemak berlebih di hati sering dikaitkan dengan obesitas atau alkohol,” ujarnya dikutip Hypeabis.id

Baca juga: Kenali Penyebab Penyakit Liver yang Diderita Ameer Azzikra 

Tidak bisa dimungkiri, asupan makanan yang banyak mengandung lemak, tinggi karbohidrat, serta konsumsi alkohol yang berlebihan (alkoholik) menjadi faktor pencetus terbanyak untuk kondisi ini. Adapun penyebab perlemakan hati dapat dikategorikan sesuai jenisnya. 

Pertama, ada Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) yang merupakan jenis perlemakan hati akibat konsumsi alkohol berlebihan secara rutin. Lianda mengatakan, saat alkohol berlebih masuk ke dalam tubuh, hati harus bekerja lebih keras untuk memecah alkohol. 

Proses pemecahan alkohol ini dapat mengganggu metabolisme sel-sel pada jaringan hati. “Dalam jangka panjang hal ini akan menurunkan kemampuan hati untuk memecah lemak, dan justru meningkatkan fungsi hati dalam menyimpan lemak,” jelasnya.

Kelompok penyebab kedua yakni Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Perlemakan hati juga dapat terjadi tanpa adanya konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. 

Meskipun penyebab pasti kondisi ini lebih sulit diketahui, tetapi biasanya NAFLD dipengaruhi oleh sindrom metabolik dan beberapa kondisi medis lainnya. Kondisi medis tersebut bisa berupa obesitas atau berat badan berlebih, berat badan yang turun secara drastis, diabetes. 

Kemudian, kadar kolesterol, terutama trigliserida, yang tinggi. Lalu, hiperglikemia, hipertensi, hepatitis kronis, terutama hepatitis C. Selanjutnya, malnutrisi, konsumsi obat-obatan tertentu dalam waktu yang lama atau dengan dosis yang tinggi. Perlemakan hati jenis NAFLD terbagi menjadi beberapa derajat, dimulai dari derajat ringan yang disebut steatosis (penumpukan lemak di hati). 

“Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi Non Alcoholic Steatohepatitis (NASH) di mana terjadi peradangan dan kematian sel hati yang memicu terbentuknya fibrosis (jaringan parut),” tambah Lianda. 

Seiring waktu, fibrosis dapat berlanjut menjadi sirosis hati yang menyebabkan kerusakan hati permanen, penurunan fungsi, bahkan dapat berkembang menjadi kanker hati jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, kondisi perlemakan hati sebaiknya dideteksi dan ditangani sedini mungkin. 
 
Pada tahap awal, penyakit pada organ hati biasanya tidak menunjukkan gejala spesifik. Akan tetapi, Lianda menyebut terdapat gejala umum yang patut diwasapadai, di antaranya, kelelahan yang berlebihan bahkan setelah beristirahat dengan cukup, nyeri atau ketidaknyamanan di perut, pembesaran organ hati, mual dan penurunan nafsu makan hingga menyebabkan penurunan berat badan, kulit dan mata menguning (jaundice), serta atal-gatal pada kulit.
 
Jika mengalami gejala-gejala tersebut, Lianda menyarankan segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat sebelum kondisi memburuk. Sementara sebagai upaya pencegahan, bisa melakukan deteksi dini dengan FibroScan. 

FibroScan merupakan teknologi medis terkini yang digunakan untuk menilai kekakuan organ hati, serta mendeteksi kemungkinan adanya fibrosis atau sirosis. Pemeriksaan dengan alat ini mampu memberikan gambaran kondisi hati dalam hitungan menit secara aman dan akurat.
 
Sementara itu, bagi pasien fatty liver, Lianda menyampaikan ada beberapa langkah-langkah yang wajib diikuti untuk mengatasinya. Apa saja? Berikut diantaranya. 
 

1. Menerapkan gaya hidup sehat 

Perubahan ke gaya hidup lebih sehat mutlak diperlukan. Diet yang disarankan adalah rendah lemak dan karbohidrat, tetapi tinggi protein. Olahraga teratur setidaknya 30 menit sehari, juga sangat dianjurkan bersamaan dengan diet. 
 

2. Menghentikan konsumsi alkohol 

Alkohol harus dihindari, baik untuk perlemakan hati terkait alkohol maupun tidak. Konsumsi alkohol dapat memperlambat dan mempersulit pengobatan fatty liver disease
 

3. Menjaga berat badan ideal 

Obesitas adalah salah satu faktor penyebab perlemakan hati. Pasien biasanya akan diminta untuk menurunkan berat badan dan menjaga berat badan ideal. Penurunan berat badan sebanyak 3–5 persen dapat menurunkan kadar lemak di dalam hati. 
 

4. Konsumsi suplemen 

Beberapa suplemen, seperti vitamin E dan temulawak diduga dapat memperbaiki kondisi perlemakan hati. 
 

5. Transplantasi hati 

Jika perlemakan hati terlambat dideteksi dan sudah terjadi komplikasi, organ hati tidak dapat kembali berfungsi normal. Pada kondisi ini, dokter dapat melakukan cangkok hati atau transplantasi hati. 

Baca juga: Waspada! Minuman Beralkohol Bikin Otak Menyusut 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Tingkat Kekambuhan Kanker Ovarium Tinggi, Maintenance Therapy Jadi Solusi

BERIKUTNYA

10 Prompt ChatGPT Untuk Mencari Jurnal & Referensi Ilmiah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga