Waspadai Kanker Hati, Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah dengan Gaya Hidup Sehat
24 June 2025 |
14:00 WIB
Kanker hati merupakan salah satu penyakit mematikan yang menjadi perhatian serius di dunia medis, termasuk di Indonesia. Penyakit ini dikenal sebagai pembunuh diam-diam karena seringkali tidak menunjukkan gejala hingga mencapai stadium lanjut.
Ketika sudah berada di tahap ini, kemungkinan untuk sembuh menjadi sangat kecil. Namun, risiko terkena kanker hati dapat dikurangi secara signifikan melalui deteksi dini dan perubahan gaya hidup.
Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat kematian akibat kanker hati di Indonesia mencapai 23.383 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang mencatat 19.721 kematian.
Baca juga: Begini Proses Sinar UV Merusak Sel Kulit Hingga Menimbulkan Kanker
Dengan angka kematian standar sebesar 7,9 per 100.000 penduduk, kanker hati merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia, menduduki peringkat kelima sebagai kanker yang paling sering terjadi dan peringkat keempat sebagai penyebab utama kematian akibat kanker.
Menurut Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, kanker hati dibagi menjadi dua jenis utama: kanker hati primer dan sekunder.
Jenis primer yang paling umum adalah karsinoma hepatoseluler (HCC), yang berasal dari hepatosit atau sel utama dalam hati. Sementara itu, kanker hati sekunder adalah kanker yang menyebar ke hati dari organ lain seperti usus besar, paru-paru, atau payudara.
Ada beberapa faktor risiko utama yang dapat memicu kanker hati, seperti infeksi Hepatitis B dan C, sirosis hati, serta konsumsi alkohol. Selain itu, kasus fatty liver atau perlemakan hati yang kini makin umum juga berpotensi menjadi penyebab.
"Kematian pasien kanker hati seringkali disebabkan oleh sirosis hati (pengerasan hati) karena dapat menyebabkan gagal hati dan pendarahan internal yang berujung pada kematian," katanya.
Selain itu, paparan aflatoksin-senyawa beracun dari jamur yang ditemukan dalam makanan seperti jagung dan kacang-kacangan yang disimpan dalam kondisi lembab-juga merupakan faktor risiko yang signifikan.
"Jika makanan memiliki jamur putih yang terlihat, meskipun dapat dibersihkan, aflatoksin masih dapat tertinggal. Risiko kanker hati dari senyawa ini bersifat kumulatif," jelas Dr Foo.
Deteksi dini merupakan sebuah tantangan karena gejala kanker hati sering kali baru muncul ketika sudah pada stadium lanjut. Gejala biasanya meliputi kelelahan yang ekstrem, mual, nyeri pada perut kanan atas, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan secara drastis, pembesaran perut, serta kulit dan mata yang menguning (penyakit kuning).
Untuk kelompok berisiko tinggi, seperti pembawa virus hepatitis B atau pasien sirosis, disarankan untuk menjalani ultrasonografi abdomen dan tes darah secara teratur setiap enam bulan. Tes diagnostik lainnya termasuk CT scan atau MRI dengan kontras, serta tes penanda tumor seperti alfa-fetoprotein (AFP) dan PIVKA-II.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan bahwa diagnosis kanker hati dapat dilakukan tanpa biopsi jika hasil pencitraan dan laboratorium menunjukkan pola kanker hati yang khas, meskipun biopsi tetap direkomendasikan pada kasus-kasus tertentu.
Pengobatan kanker hati sangat tergantung pada stadium penyakit dan kondisi umum pasien. Beberapa metode pengobatan yang tersedia meliputi:
"Pendekatan ini sekarang menjadi standar dalam pengobatan kanker hati karena setiap pasien memiliki tantangan yang berbeda," kata Dr Foo.
Pencegahan tetap menjadi strategi utama dalam mengurangi insiden kanker hati. Vaksinasi Hepatitis B telah terbukti efektif dalam mengurangi insiden kanker hati di negara-negara dengan prevalensi tinggi seperti Taiwan. Berbagai pendekatan gaya hidup yang terbukti menurunkan risiko kanker hati. Di antaranya:
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketika sudah berada di tahap ini, kemungkinan untuk sembuh menjadi sangat kecil. Namun, risiko terkena kanker hati dapat dikurangi secara signifikan melalui deteksi dini dan perubahan gaya hidup.
Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat kematian akibat kanker hati di Indonesia mencapai 23.383 kasus, meningkat dibandingkan tahun 2020 yang mencatat 19.721 kematian.
Baca juga: Begini Proses Sinar UV Merusak Sel Kulit Hingga Menimbulkan Kanker
Dengan angka kematian standar sebesar 7,9 per 100.000 penduduk, kanker hati merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia, menduduki peringkat kelima sebagai kanker yang paling sering terjadi dan peringkat keempat sebagai penyebab utama kematian akibat kanker.
Menurut Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, kanker hati dibagi menjadi dua jenis utama: kanker hati primer dan sekunder.
Jenis primer yang paling umum adalah karsinoma hepatoseluler (HCC), yang berasal dari hepatosit atau sel utama dalam hati. Sementara itu, kanker hati sekunder adalah kanker yang menyebar ke hati dari organ lain seperti usus besar, paru-paru, atau payudara.

Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Singapura (sumber foto: David Zulkarnaen)
Ada beberapa faktor risiko utama yang dapat memicu kanker hati, seperti infeksi Hepatitis B dan C, sirosis hati, serta konsumsi alkohol. Selain itu, kasus fatty liver atau perlemakan hati yang kini makin umum juga berpotensi menjadi penyebab.
"Kematian pasien kanker hati seringkali disebabkan oleh sirosis hati (pengerasan hati) karena dapat menyebabkan gagal hati dan pendarahan internal yang berujung pada kematian," katanya.
Selain itu, paparan aflatoksin-senyawa beracun dari jamur yang ditemukan dalam makanan seperti jagung dan kacang-kacangan yang disimpan dalam kondisi lembab-juga merupakan faktor risiko yang signifikan.
"Jika makanan memiliki jamur putih yang terlihat, meskipun dapat dibersihkan, aflatoksin masih dapat tertinggal. Risiko kanker hati dari senyawa ini bersifat kumulatif," jelas Dr Foo.
Deteksi dini merupakan sebuah tantangan karena gejala kanker hati sering kali baru muncul ketika sudah pada stadium lanjut. Gejala biasanya meliputi kelelahan yang ekstrem, mual, nyeri pada perut kanan atas, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan secara drastis, pembesaran perut, serta kulit dan mata yang menguning (penyakit kuning).
Untuk kelompok berisiko tinggi, seperti pembawa virus hepatitis B atau pasien sirosis, disarankan untuk menjalani ultrasonografi abdomen dan tes darah secara teratur setiap enam bulan. Tes diagnostik lainnya termasuk CT scan atau MRI dengan kontras, serta tes penanda tumor seperti alfa-fetoprotein (AFP) dan PIVKA-II.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan bahwa diagnosis kanker hati dapat dilakukan tanpa biopsi jika hasil pencitraan dan laboratorium menunjukkan pola kanker hati yang khas, meskipun biopsi tetap direkomendasikan pada kasus-kasus tertentu.
Pilihan Perawatan
Pengobatan kanker hati sangat tergantung pada stadium penyakit dan kondisi umum pasien. Beberapa metode pengobatan yang tersedia meliputi:
- Tahap awal: Operasi pengangkatan tumor atau transplantasi hati yang dapat meningkatkan harapan hidup.
- Tahap menengah: Transarterial Chemoembolisasi (TACE), dengan menyuntikkan obat secara langsung ke dalam tumor.Terapi radiasi yang terlokalisasi seperti Terapi Radiasi Internal Selektif (SIRT) atau Radioembolisasi Transarterial (TARE).
- Tahap lanjutan:Terapi sistemik seperti imunoterapi dan terapi yang ditargetkan, yang dapat memperpanjang usia dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
"Pendekatan ini sekarang menjadi standar dalam pengobatan kanker hati karena setiap pasien memiliki tantangan yang berbeda," kata Dr Foo.
Pencegahan tetap menjadi strategi utama dalam mengurangi insiden kanker hati. Vaksinasi Hepatitis B telah terbukti efektif dalam mengurangi insiden kanker hati di negara-negara dengan prevalensi tinggi seperti Taiwan. Berbagai pendekatan gaya hidup yang terbukti menurunkan risiko kanker hati. Di antaranya:
- Diet Mediterania, yang kaya akan ikan, sayur, kacang-kacangan, dan minyak zaitun, terbukti menurunkan risiko kanker, termasuk kanker usus dan hati.
- Konsumsi kopi sebanyak dua cangkir atau lebih per hari dikaitkan dengan penurunan risiko kanker hati hingga 43 persen.
- Asupan Omega-3 dari ikan laut juga menunjukkan penurunan risiko sebesar 36 persen berdasarkan studi di Jepang.
- Olahraga teratur, minimal 150 menit per minggu, membantu menurunkan risiko berbagai jenis kanker.
- Hindari alkohol dan rokok. Bagi pembawa Hepatitis B, sangat disarankan untuk sama sekali tidak mengonsumsi alkohol.
- Penggunaan suplemen tertentu, seperti vitamin D, aspirin, dan obat diabetes seperti metformin, diketahui memberikan efek perlindungan terhadap kanker hati.
- Jaga berat badan dan pola tidur sehat, serta perhatikan kesehatan gigi secara rutin.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.