Ilustrasi ovarium. (Sumber gambar: Freepik/Atlascompany)

Tingkat Kekambuhan Kanker Ovarium Tinggi, Maintenance Therapy Jadi Solusi

03 October 2025   |   11:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kanker ovarium masih menjadi momok di kalangan perempuan Indonesia. Pasalnya, jenis kanker ini tidak menunjukkan gejala awal yang spesifik dan membuat sebagian besar pasien baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Usai menjalani operasi dan kemoterapi pun, tingkat kekambuhan tetap tinggi dalam tiga tahun pertama. 

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Onkologi dr. Muhammad Yusuf, mengatakan bahwa mayoritas pasien kanker ovarium baru terdiagnosis pada stadium 3 atau 4. Selain gejala awal yang tidak spesifik, terlambatnya diagnosis karena belum ada metode skrining yang efektif. 

“Peningkatan kesadaran pasien terhadap proses pengobatan lanjutan sangatlah penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat,” ujarnya. 

Baca juga: Ladies, Pahami Betul Gejala Kanker Ovarium Sebelum Terlambat 

Adapun, keberhasilan pengobatan kanker ovarium, bergantung pada beberapa langkah yang saling melengkapi. Salah satu faktor terpenting adalah pembedahan dengan prinsip zero residu atau tidak ada sisa tumor yang tampak, yang terbukti meningkatkan median kelangsungan hidup pasien. 

Setelah itu, pasien perlu menjalani kemoterapi sesuai interval yang ditentukan untuk menjaga efektivitasnya. Usai pasien dinyatakan telah masuk dalam fase remisi pasca pengobatan awal, kanker ovarium stadium lanjut yang dikenal memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi tersebut, sering kali menuntut pasien untuk kembali menjalani kemoterapi berulang. Saat kondisi tersebut terjadi, peluang remisi menjadi lebih singkat dan risiko kematian cenderung tinggi. 
 
Sebagai antisipasi, Yusuf menyampaikan bahwa panduan internasional seperti ESMO dan NCCN merekomendasikan pemeriksaan Homologous Recombination Deficiency (HRD) dan Breast Cancer gene 1 dan 2 (BRCA) dilakukan sedini mungkin pada pasien kanker ovarium setelah operasi untuk memastikan terapi lanjutan yang tepat. 

Selain itu, maintenance therapy kini telah menjadi bagian integral dari pengobatan kanker ovarium stadium lanjut dan sudah direkomendasikan sebagai standar perawatan oleh pedoman internasional tersebut. 
 
Yusuf menyebut, sekitar 50 persen pasien kanker indung telur stadium lanjut memiliki status HRD-positif, termasuk yang tidak memiliki mutasi BRCA. HRD adalah kondisi dimana tubuh tidak dapat memperbaiki kerusakan pada DNA.

HRD juga menjadi penanda biologis (biomarker) penting untuk menentukan apakah kelayakan pasien menjalani maintenance therapy berbasis Poly ADP-Ribose Polymerase (PARP) inhibitor seperti Olaparib. Katanya, terdapat data klinis yang mendukung pentingnya terapi lanjutan ini.  

Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan, hampir dua kali lebih lama dibanding terapi dengan Bevacizumab saja. 

Sementara itu, studi SOLO-1 membuktikan bahwa pasien dengan mutasi BRCA yang menggunakan Olaparib memiliki risiko progresi 70 persen lebih rendah, dan hampir setengahnya tetap dalam remisi setelah lima tahun.

Dengan pemahaman lebih baik mengenai peran pemeriksaan HRD serta pemanfaatan maintenance therapy, menurut Yusuf, akan lebih banyak pasien kanker ovarium dapat memperpanjang masa bebas penyakit dan meraih kualitas hidup yang lebih baik.
 
“Akses terhadap pemeriksaan HRD dan maintenance therapy bagi pasien kanker ovarium di Indonesia sangat penting. Kami berharap lebih banyak pasien di Indonesia dapat memperoleh manfaat dari terapi ini, sehingga kualitas hidup mereka semakin baik,” tambah dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia. 
 
Selain upaya medis, keterlibatan komunitas menurut Feddy, juga berperan penting dalam memperluas edukasi mengenai kanker ovarium. Melalui saling berbagi pengalaman, komunitas mampu meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai penanganan kanker ovarium yang tepat seperti pentingnya pemeriksaan HRD serta akses terhadap maintenance therapy.

Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri, menyampaikan bahwa pasien dan penyintas tidak hanya membutuhkan akses terhadap terapi yang tepat, tetapi juga dukungan emosional dan informasi yang akurat.

Melalui CISC, pihaknya berkomitmen menjadi wadah untuk berbagi dan belajar bersama, agar semakin banyak perempuan Indonesia memahami langkah-langkah yang dapat membantu mereka memperpanjang masa bebas penyakit kanker ovarium. 

Baca juga: Kenali 5 Jenis Penyakit Alat Reproduksi Manusia, Ada Sindrom Ovarium Polikistik hingga Sistitis Interstisial 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Jangan Asal, Kenali Bahaya Konsumsi Ikan Bermekuri Tinggi

BERIKUTNYA

Apa Itu Fatty Liver? Terlalu Banyak Minum Alkohol Jadi Salah Satu Penyebabnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga