Ilustrasi kanker ovarium (Freepik)

Ladies, Pahami Betul Gejala Kanker Ovarium Sebelum Terlambat

24 June 2022   |   09:30 WIB

Kesadaran perempuan akan pentingnya memeriksa risiko kanker ovarium trennya makin membaik. Namun gejala penyakit ini yang samar seperti perut membesar dan terasa kembung sehingga membuat penderita tidak menyadari jika kanker yang mematikan tersebut sudah berkembang pada stadium lanjut.

Kanker ovarium sendiri menyerang indung telur (ovarium) perempuan yang merupakan salah satu jenis kanker paling berbahaya karena gejalanya sulit dideteksi dini. Kanker ini bisa berkembang dengan cepat, bahkan dari stadium awal hingga stadium lanjut bisa terjadi hanya dalam satu tahun.

Selama ini, seorang perempuan baru merasakan gejala kanker ovarium setelah memasuki stadium tiga. Sel-sel kanker mulai terbentuk di dalam ovarium dan belum menyebar pada stadium nol. Baru pada stadium satu, sel kanker mulai bisa dideteksi pada salah satu bahkan kedua ovarium.

Selanjutnya, pada stadium dua, sel kanker sudah menyebar ke area sekitar panggul seperti rahim dan tuba fallopi, dan pada stadium tiga menyebar ke daerah panggul  dan menyerang kelenjar getah bening di perut. Pada stadium lanjut inilah, gejala kanker ovarium baru mulai terasa, kendati biasanya mirip dengan gejala penyakit lain, terutama gangguan sistem pencernaan.

Dokter sub-spesialis obsetri dan ginekologi onkologi Departemen Ilmu Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Andrijono mengatakan gejala penyakit ini kerap mirip dengan penyakit lain sehingga membuat penderitanya tidak menyadari bila mengidap kanker ovarium.

“Hati-hati bagi yang sering mengeluhkan perutnya terus membesar dan terasa kembung,” katanya.

Gejala lainnya adalah merasa berangin dan mual serta kehilangan nafsu makan. Ada pula gejala seperti sering buang air kecil, cepat lelah, dan rasa nyeri pada panggul atau pada perut bagian bawah.

Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) ini, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya kanker ovarium adalah dengan menurunkan frekuensi ovulasi, kendati penyebab kanker  ovarium memang belum diketahui secara pasti.

Namun, kanker ovarium berkaitan erat dengan ovulasi, yakni pelepasan sel telur yang telah matang. Saat terjadi proses ovulasi, bisa memicu kerusakan sel pada ovarium. Inilah mengapa ovulasi bisa berhubungan erat dengan terjadinya kanker ovarium, kendati pada dasarnya kanker bisa muncul karena sel-sel sehat mengalami mutasi gen menjadi sel abnormal.

Andrijono mengatakan perempuan bisa menurunkan frekuensi ovulasi, salah satunya dengan kehamilan. Pada masa kehamilan, proses ovulasi akan terhenti. Karena itu, memiliki dengan memiliki keturunan, bisa menjadi langkah untuk menurunkan risiko terkena kanker ovarium.

Selain itu, dengan mengonsumsi pil kontrasepsi juga bisa mengurangi risiko terserang kanker ovarium. “Dengan mengkonsumsi pil KB [keluarga berencana] kan jadinya tidak terjadi ovulasi,” katanya.

Aktivitas lain yang berkaitan dengan ovulasi yaitu menyusui. Menyusui akan menunda ovulasi, sehingga aktivitas ini juga bisa mencegah terkena kanker ovarium. Di sisi lain, juga ada beberapa faktor yang dipercaya meningkatkan risiko kanker ovarium, salah satunya perempuan yang belum pernah mengalami kehamilan.

Faktor genetik juga berpengaruh, sehingga mereka  yang memiliki keluarga yang terkena kanker termasuk kanker ovarium dan kanker payudara harus waspada.

Orang yang sebelumnya pernah mengidap kanker jenis lainnya seperti kanker payudara, usus, kolorektal, dan uterus (rahim) juga harus waspada karena punya resiko lebih besar terserang kanker ovarium.

Secara umum, Data International Union Against Cancer memperkirakan akan ada 26 juta kasus kanker baru pada 2030, dengan 17 juta kematian karena kanker dan akan ada 75 juta orang yang hidup dengan kanker.

Catatan redaksi: artikel diambil dari Bisnis Indonesia Minggu edisi 31 Mei 2015.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Sudah Siap Nikah? Yuk Simak Dulu Tip Memilih Wedding Organizer!

BERIKUTNYA

Gaji Istri Lebih Besar dari Suami, Masalahkah?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: