Cerita di Balik Ubud Writers & Readers Festival 2025 Usung Tema Aham Brahmasmi
01 October 2025 |
15:31 WIB
Setiap tahun, Ubud, Bali, menjadi pusat perhatian dunia sastra internasional lewat gelaran Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Ajang bergengsi ini dikenal sebagai pertemuan penting bagi penulis, pembaca, dan pemikir kreatif di Asia Tenggara, sekaligus ruang dialog lintas budaya yang terus tumbuh sejak pertama kali digelar pada 2004.
Festival yang diprakarsai Yayasan Mudra Swari Saraswati itu biasanya memang berlangsung setiap Oktober, bertepatan dengan Bulan Bahasa dan Sastra. Pada tahun ini, UWRF akan hadir mulai 29 Oktober hingga 2 November 2025. Edisi tahun ini akan menandai perjalanannya yang ke-22.
Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe, menjelaskan bahwa festival tahun ini akan mengangkat tema Aham Brahmasmi yang berarti "I am the Universe". Tema tersebut diambil dari konsep Hindu kuno dalam Brihadaranyaka Upanishad yang menekankan kesatuan manusia dengan semesta.
Baca juga: IIBF 2025 Diserbu Pembaca, Antusiasme Literasi Tak Surut
Menurut Janet, tema ini mencoba mengajak setiap pengunjung festival untuk merenungkan keterhubungan diri dengan alam semestanya. Lebih jauh, tema ini juga menegaskan bahwa kreativitas manusia yang punya potensi begitu luas seperti sebuah semesta. Namun, konsepsi itu kini rasanya perlu dipikirkan ulang.
"Kita adalah alam semesta. Kita sudah punya konsepsi itu sejak lama. Namun, bagaimana peran kita sekarang di alam semesta? Kita sedang ada di persimpangan besar di dunia jika melihat bagaimana teknologi dan artificial intelligence mulai mempengaruhi alam semesta kita," ungkap Janet di Jakarta, Rabu, (1/10/2025).
Dia menambahkan, manusia kini berada dalam situasi yang menuntut hidup lebih seimbang. Di satu sisi harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi di sisi lain tetap menjaga kreativitas unik yang membedakan manusia dengan mesin.
Oleh karena itu, tema kali ini pun dianggapnya relevan untuk membuka diskusi baru. UWRF dipandang sebagai wadah yang tepat bagi penulis dan pemikir di Asia Tenggara untuk memberi perspektifnya terhadap fenomena zaman.
"Selama festival, nantinya akan ada banyak konferensi-konferensi penting dari pembicara lokal maupun internasional. Sebuah festival memang perlu untuk terus menggaungkan diskursus di dalamnya," imbuhnya.
Festival 2025 diproyeksikan menghadirkan 200 penulis, cendekiawan, serta seniman dari berbagai negara. Di antara mereka, sejumlah nama besar akan tampil, termasuk para pemenang International Booker Prize 2025.
Banu Mushtaq, penulis asal India sekaligus aktivis perempuan, akan hadir dengan karya debutnya Heart Lamp. Dia akan berbagi panggung dengan Jenny Erpenbeck, novelis Jerman pemenang Booker Prize 2024 lewat karyanya Kairos.
Selain itu, UWRF 2025 juga menghadirkan figur-figur yang menyuarakan isu sosial. Di antaranya Omar El Akkad, novelis dan reporter Mesir-Kanada, serta Shiori Itō, jurnalis Jepang yang dikenal sebagai penyintas kekerasan seksual dan wajah gerakan #MeToo di negaranya.
Nama lain yang turut tampil ialah Antoinette Lattouf, jurnalis Lebanon-Australia yang mendorong pentingnya interseksionalitas di ruang kerja. Kehadiran mereka dipadukan dengan suara-suara lokal yang tak kalah menarik, menjadikan festival ini semakin kaya perspektif. Dalam rangka menyoroti perayaan 80 tahun kemerdekaan, David Van Reybrouck dan William Dalrymple akan hadir membicarakan sejarah kolonial.
Kemudian, novelis dan jurnalis Leila S. Chudori, salah satu penulis Indonesia yang paling terkenal, bareng pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 Sasti Gotama dan bakat-bakat sastra yang sedang naik daun seperti Ray Shabir dan Hamzah Muhammad, bersama dengan novelis Bali Ni Made Purnama Sari, akan mengeksplorasi gelombang baru penyair yang membentuk kembali bentuk, bahasa, dan media.
Sementara itu, Tim Kuratorial Emerging Writers Program 2025, Ratih Kumala, mengatakan festival tahun ini mengusung tema menarik yang mencoba menggali lebih jauh bagaimana manusia menempatkan dirinya dengan alam raya saat ini.
Dalam hal ini, alam merupakan bentuk tertinggi dari apa yang bisa dieksplorasi oleh kreativitas manusia. Kini, manusia tengah dihadapkan pada dua pilihan, setelah mengeksplorasinya, apakah kita akan merusaknya atau justru menjaganya.
"Kita terakhir-terakhir ini sudah mendengar maraknya AI. Apakah ke depan kita akan menggunakan AI untuk merusak apa yang sudah dibangun atau justru menggunakan AI sebagai bagian dari kita untuk menjaga manusia serta alam itu sendiri," imbuhnya.
Menurutnya, festival-festival budaya, dalam hal ini UWRF, memang perlu untuk selalu hadir dan menangkap fenomena-fenomena yang tengah terjadi di publik. Sebab, fungsi festival ialah untuk melenturkan apa yang mungkin tadinya berat di masyarakat, menjadi punya titik temu baru yang menarik.
Dulu, katanya, UWRF hadir merespons peristiwa bom di Bali yang membuat daerah tersebut dihindari banyak orang. Kini, lebih dari dua dekade kemudian, ada festival tetap konsisten merespons kondisi sosial yang ada, termasuk dari sisi teknologi.
Menariknya, acara ini akan berbalut keindahan Ubud, Bali. Berbagai ragam acara di Ubud Writers & Readers Festival seperti panel diskusi, lokakarya, dan pembacaan karya, tidak hanya berlangsung pada saat matahari terbit.
Ketika matahari terbenam, UWRF juga akan hadir dengan beragam acara, dari perayaan pertunjukan, pembacaan, dan karya tulis dalam berbagai bentuknya.
Baca juga: Ramai Buku Disita, Simak Sejarah Pelarangan Buku di Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Festival yang diprakarsai Yayasan Mudra Swari Saraswati itu biasanya memang berlangsung setiap Oktober, bertepatan dengan Bulan Bahasa dan Sastra. Pada tahun ini, UWRF akan hadir mulai 29 Oktober hingga 2 November 2025. Edisi tahun ini akan menandai perjalanannya yang ke-22.
Founder & Director UWRF, Janet DeNeefe, menjelaskan bahwa festival tahun ini akan mengangkat tema Aham Brahmasmi yang berarti "I am the Universe". Tema tersebut diambil dari konsep Hindu kuno dalam Brihadaranyaka Upanishad yang menekankan kesatuan manusia dengan semesta.
Baca juga: IIBF 2025 Diserbu Pembaca, Antusiasme Literasi Tak Surut
Menurut Janet, tema ini mencoba mengajak setiap pengunjung festival untuk merenungkan keterhubungan diri dengan alam semestanya. Lebih jauh, tema ini juga menegaskan bahwa kreativitas manusia yang punya potensi begitu luas seperti sebuah semesta. Namun, konsepsi itu kini rasanya perlu dipikirkan ulang.
"Kita adalah alam semesta. Kita sudah punya konsepsi itu sejak lama. Namun, bagaimana peran kita sekarang di alam semesta? Kita sedang ada di persimpangan besar di dunia jika melihat bagaimana teknologi dan artificial intelligence mulai mempengaruhi alam semesta kita," ungkap Janet di Jakarta, Rabu, (1/10/2025).
Dia menambahkan, manusia kini berada dalam situasi yang menuntut hidup lebih seimbang. Di satu sisi harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi di sisi lain tetap menjaga kreativitas unik yang membedakan manusia dengan mesin.
Oleh karena itu, tema kali ini pun dianggapnya relevan untuk membuka diskusi baru. UWRF dipandang sebagai wadah yang tepat bagi penulis dan pemikir di Asia Tenggara untuk memberi perspektifnya terhadap fenomena zaman.
"Selama festival, nantinya akan ada banyak konferensi-konferensi penting dari pembicara lokal maupun internasional. Sebuah festival memang perlu untuk terus menggaungkan diskursus di dalamnya," imbuhnya.
Festival 2025 diproyeksikan menghadirkan 200 penulis, cendekiawan, serta seniman dari berbagai negara. Di antara mereka, sejumlah nama besar akan tampil, termasuk para pemenang International Booker Prize 2025.
Banu Mushtaq, penulis asal India sekaligus aktivis perempuan, akan hadir dengan karya debutnya Heart Lamp. Dia akan berbagi panggung dengan Jenny Erpenbeck, novelis Jerman pemenang Booker Prize 2024 lewat karyanya Kairos.
Selain itu, UWRF 2025 juga menghadirkan figur-figur yang menyuarakan isu sosial. Di antaranya Omar El Akkad, novelis dan reporter Mesir-Kanada, serta Shiori Itō, jurnalis Jepang yang dikenal sebagai penyintas kekerasan seksual dan wajah gerakan #MeToo di negaranya.
Nama lain yang turut tampil ialah Antoinette Lattouf, jurnalis Lebanon-Australia yang mendorong pentingnya interseksionalitas di ruang kerja. Kehadiran mereka dipadukan dengan suara-suara lokal yang tak kalah menarik, menjadikan festival ini semakin kaya perspektif. Dalam rangka menyoroti perayaan 80 tahun kemerdekaan, David Van Reybrouck dan William Dalrymple akan hadir membicarakan sejarah kolonial.
Kemudian, novelis dan jurnalis Leila S. Chudori, salah satu penulis Indonesia yang paling terkenal, bareng pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 Sasti Gotama dan bakat-bakat sastra yang sedang naik daun seperti Ray Shabir dan Hamzah Muhammad, bersama dengan novelis Bali Ni Made Purnama Sari, akan mengeksplorasi gelombang baru penyair yang membentuk kembali bentuk, bahasa, dan media.

Founder and Director Janet DeNeefe; Curatorial Board member for the Emerging Writers’ Program 2025, Ratih Kumala; Winner of Hadiah Sastra Rasa 2025 (2nd Prize), Angelina Eny; Festival Emerging Writers 2025, Wawan Kurniawan and Udiarti; Winner of Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, Sasti Gotama (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Dalam hal ini, alam merupakan bentuk tertinggi dari apa yang bisa dieksplorasi oleh kreativitas manusia. Kini, manusia tengah dihadapkan pada dua pilihan, setelah mengeksplorasinya, apakah kita akan merusaknya atau justru menjaganya.
"Kita terakhir-terakhir ini sudah mendengar maraknya AI. Apakah ke depan kita akan menggunakan AI untuk merusak apa yang sudah dibangun atau justru menggunakan AI sebagai bagian dari kita untuk menjaga manusia serta alam itu sendiri," imbuhnya.
Menurutnya, festival-festival budaya, dalam hal ini UWRF, memang perlu untuk selalu hadir dan menangkap fenomena-fenomena yang tengah terjadi di publik. Sebab, fungsi festival ialah untuk melenturkan apa yang mungkin tadinya berat di masyarakat, menjadi punya titik temu baru yang menarik.
Dulu, katanya, UWRF hadir merespons peristiwa bom di Bali yang membuat daerah tersebut dihindari banyak orang. Kini, lebih dari dua dekade kemudian, ada festival tetap konsisten merespons kondisi sosial yang ada, termasuk dari sisi teknologi.
Menariknya, acara ini akan berbalut keindahan Ubud, Bali. Berbagai ragam acara di Ubud Writers & Readers Festival seperti panel diskusi, lokakarya, dan pembacaan karya, tidak hanya berlangsung pada saat matahari terbit.
Ketika matahari terbenam, UWRF juga akan hadir dengan beragam acara, dari perayaan pertunjukan, pembacaan, dan karya tulis dalam berbagai bentuknya.
Baca juga: Ramai Buku Disita, Simak Sejarah Pelarangan Buku di Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.