62% Anak Indonesia Kurang Tidur, Ini Pentingnya Memahami Ritme Sirkadian Si Kecil
30 September 2025 |
12:00 WIB
Setiap manusia memiliki jam biologis alami yang disebut ritme sirkadian. Secara umum, ritme ini mengatur siklus tidur dan bangun. Namun lebih luas, sirkadian berpengaruh pada berbagai fungsi penting tubuh mulai dari produksi hormon, metabolisme, hingga kestabilan emosi.
Jika ritme ini terganggu, kualitas tidur akan menurun dan berdampak langsung pada kesehatan. Menjaga ritme sirkadian sejak usia anak menjadi hal yang krusial. Pada masa pertumbuhan, tidur bukan hanya sekadar istirahat, melainkan bagian penting dalam proses tumbuh kembang.
Baca juga: Cek Hal-hal yang Bikin Kamu Sulit Tidur Meski Tubuh Merasa Lelah
Anak dengan pola tidur yang teratur memiliki konsentrasi lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta regulasi emosi yang lebih stabil. Karena itu, tidursehat sejak dini merupakan fondasi untuk mencetak generasi yang sehat dan tangguh.
Sayangnya, data temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah 2025 menguak temuan buruk soal tidur anak. Sebanyak 62% anak sekolah kurang tidur. Padahal, idealnya mereka memerlukan tidur 8-10 jam setiap malam. Beberapa alasan tidur larut malam ini karena hal tugas, jadwal yang padat, dan pengaruh bermain gadget berlebihan.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Posyandu Kementerian Kesehatan RI Marti Rahayu Diah Kusumawati menegaskan bahwa pembentukan generasi sehat tidak hanya bergantung pada pendidikan gizi. Lebih jauh, ini bisa dilakukan melalui pembudayaan perilaku hidup sehat.
“Upaya mendorong generasi emas Indonesia ini tidak bisa dilakukan dari aspek pendidikan gizi saja semata-mata. Namun juga perlu dilakukan pembentukan melalui bagaimana pembudayaan perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Salah satu perilaku sehat yang ditekankan adalah kebiasaan tidur berkualitas. Dijelaskan olehnya, tidur pada masa anak-anak sangat vital bagi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan pembentukan emosional. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hormon pertumbuhan diproduksi secara optimal ketika anak tidur nyenyak, khususnya di malam hari.
Sebaliknya, kurang tidur dipaparkan memiliki dampak negatif pada konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan belajar anak. Anak yang tidurnya cukup dinilai lebih mampu mengatur emosi, berperilaku positif, dan berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih baik.
Marti menekankan bahwa tidur berkualitas adalah modal penting dalam membentuk anak yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Namun tak bisa dipungkiri, tantangan terbesar saat ini adalah perkembangan teknologi. Gangguan tidur banyak dialami anak akibat paparan gadget berlebihan, pola aktivitas yang tidak teratur, dan lingkungan rumah yang tidak kondusif.
Di luar itu, kesadaran orang tua juga masih minim terhadap pentingnya pola tidur. Karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif melalui promosi kesehatan berbasis keluarga dan komunitas.
Dalam dunia medis, tidur berkualitas dan ritme sirkadian sangat berkaitan. Ritme yang mengatur kapan seseorang merasa mengantuk dan terjaga ini memegang peran vital. Ketika ritme ini terjaga dengan baik, tubuh dapat berfungsi optimal mulai dari produksi hormon, daya ingat, hingga regulasi emosi.
Pediatric Sleep Consultant di Happy Little Sleeper Elvina Yahya menjelaskan, pada anak-anak, tidur yang berkualitas memiliki makna lebih besar. Masa pertumbuhan mereka sangat ditentukan oleh pola istirahat yang teratur. Sebab, saat tidur nyenyaklah tubuh mereka bisa memproduksi hormon pertumbuhan dalam jumlah maksimal. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, perkembangan fisik, kognitif, maupun emosional anak dapat terhambat.
Elvina menegaskan bahwa tidur bukan sekadar beristirahat. Tidur merupakan fondasi bagi anak untuk tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. “Tidur harus cukup agar dia (anak-anak) bisa fokus dan memperoleh benefit lainnya,” ujarnya.
Anak yang terbiasa memiliki tidur berkualitas akan tumbuh lebih siap menghadapi tantangan akademik, sosial, dan emosional. Dengan demikian, membangun budaya tidur sehat sejak dini sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan.
Elvina menjelaskan, kualitas tidur sangat menentukan perkembangan anak di semua aspek. Pada fase tidurnyenyak, hormon pertumbuhan bekerja optimal, membantu pembentukan jaringan tubuh dan pematangan otak. Selain itu, tidur juga berperan dalam konsolidasi memori yang memungkinkan anak menyerap dan menyimpan informasi baru dengan lebih baik.
Dampak positif lain yang terlihat adalah kemampuan regulasi emosi. Anak yang cukup tidur lebih stabil secara emosional, mudah diajak bekerja sama, dan memiliki interaksi sosial yang lebih sehat. Sebaliknya, kurang tidur menyebabkan anak cepat marah, sulit fokus, dan mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Tidur berkualitas tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi juga oleh rutinitas yang konsisten. Elvina menekankan pentingnya membangun bedtime routine sederhana seperti menyikat gigi, mengenakan piyama, membaca buku, atau berdoa sebelum tidur. Rutinitas ini membantu tubuh mengenali sinyal alami bahwa waktu istirahat telah tiba.
Lingkungan tidur juga menjadi faktor penentu. Suhu kamar sebaiknya sejuk, pencahayaan redup, dan kondisi sekitar tenang agar anak tidak mudah terbangun. Bagi bayi, keamanan tidur perlu diperhatikan dengan tidak menaruh bantal, boneka, atau selimut tebal berlebihan di tempat tidur untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Senada dengan Marti, Elvina mengakui jika perkembangan teknologi memberi dampak besar pada semua kalangan termasuk anak. Banyak anak dan remaja tidur terlalu larut karena terpapar layar gadget baik ponsel, tablet, maupun televisi.
Cahaya biru yang dipancarkan layar terbukti menghambat produksi hormon yang mengatur rasa kantuk yaitu melatonin.
Selain itu, pola aktivitas yang tidak teratur juga memperburuk keadaan. Anak yang lebih sering duduk bermain gadget di siang hari cenderung sulit tidurnyenyak di malam hari.
Kondisi ini diperparah dengan lingkungan rumah yang kurang mendukung misalnya televisi yang tetap menyala atau aktivitas keluarga yang berlangsung hingga larut malam.
Menurut Elvina, kesadaran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam menjaga pola tidur sehat. Orang tua diharapkan mampu memberikan stimulasi fisik di siang hari, memastikan nutrisi terpenuhi, serta membatasi penggunaan gadget menjelang tidur.
Konsistensi dalam menerapkan rutinitas tidur juga sangat penting agar anak terbiasa dengan pola istirahat yang teratur.
Elvina menekankan bahwa kebutuhan tidur anak berbeda sesuai dengan usianya. Bayi baru lahir membutuhkan hingga 17 jam tidur per hari, sedangkan balita rata-rata membutuhkan 11-14 jam termasuk tidur siang.
Jika kebutuhan ini diabaikan, konsekuensinya tidak hanya terlihat pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga berdampak panjang pada kualitas hidup anak.
Baca juga: Mengenal Sleep Training & 5 Metodenya, Cara Jitu Bikin Bayi Tidur Pulas & Berkualitas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Jika ritme ini terganggu, kualitas tidur akan menurun dan berdampak langsung pada kesehatan. Menjaga ritme sirkadian sejak usia anak menjadi hal yang krusial. Pada masa pertumbuhan, tidur bukan hanya sekadar istirahat, melainkan bagian penting dalam proses tumbuh kembang.
Baca juga: Cek Hal-hal yang Bikin Kamu Sulit Tidur Meski Tubuh Merasa Lelah
Anak dengan pola tidur yang teratur memiliki konsentrasi lebih baik, daya ingat lebih kuat, serta regulasi emosi yang lebih stabil. Karena itu, tidursehat sejak dini merupakan fondasi untuk mencetak generasi yang sehat dan tangguh.
Sayangnya, data temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah 2025 menguak temuan buruk soal tidur anak. Sebanyak 62% anak sekolah kurang tidur. Padahal, idealnya mereka memerlukan tidur 8-10 jam setiap malam. Beberapa alasan tidur larut malam ini karena hal tugas, jadwal yang padat, dan pengaruh bermain gadget berlebihan.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Posyandu Kementerian Kesehatan RI Marti Rahayu Diah Kusumawati menegaskan bahwa pembentukan generasi sehat tidak hanya bergantung pada pendidikan gizi. Lebih jauh, ini bisa dilakukan melalui pembudayaan perilaku hidup sehat.
“Upaya mendorong generasi emas Indonesia ini tidak bisa dilakukan dari aspek pendidikan gizi saja semata-mata. Namun juga perlu dilakukan pembentukan melalui bagaimana pembudayaan perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Salah satu perilaku sehat yang ditekankan adalah kebiasaan tidur berkualitas. Dijelaskan olehnya, tidur pada masa anak-anak sangat vital bagi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan pembentukan emosional. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa hormon pertumbuhan diproduksi secara optimal ketika anak tidur nyenyak, khususnya di malam hari.
Sebaliknya, kurang tidur dipaparkan memiliki dampak negatif pada konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan belajar anak. Anak yang tidurnya cukup dinilai lebih mampu mengatur emosi, berperilaku positif, dan berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih baik.
Marti menekankan bahwa tidur berkualitas adalah modal penting dalam membentuk anak yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Namun tak bisa dipungkiri, tantangan terbesar saat ini adalah perkembangan teknologi. Gangguan tidur banyak dialami anak akibat paparan gadget berlebihan, pola aktivitas yang tidak teratur, dan lingkungan rumah yang tidak kondusif.
Di luar itu, kesadaran orang tua juga masih minim terhadap pentingnya pola tidur. Karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif melalui promosi kesehatan berbasis keluarga dan komunitas.
Peran Vital Tidur

Ilustrasi anak yang ketiduran di sekolah (Sumber gambar: Pexels)
Pediatric Sleep Consultant di Happy Little Sleeper Elvina Yahya menjelaskan, pada anak-anak, tidur yang berkualitas memiliki makna lebih besar. Masa pertumbuhan mereka sangat ditentukan oleh pola istirahat yang teratur. Sebab, saat tidur nyenyaklah tubuh mereka bisa memproduksi hormon pertumbuhan dalam jumlah maksimal. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, perkembangan fisik, kognitif, maupun emosional anak dapat terhambat.
Elvina menegaskan bahwa tidur bukan sekadar beristirahat. Tidur merupakan fondasi bagi anak untuk tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia. “Tidur harus cukup agar dia (anak-anak) bisa fokus dan memperoleh benefit lainnya,” ujarnya.
Anak yang terbiasa memiliki tidur berkualitas akan tumbuh lebih siap menghadapi tantangan akademik, sosial, dan emosional. Dengan demikian, membangun budaya tidur sehat sejak dini sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan.
Elvina menjelaskan, kualitas tidur sangat menentukan perkembangan anak di semua aspek. Pada fase tidurnyenyak, hormon pertumbuhan bekerja optimal, membantu pembentukan jaringan tubuh dan pematangan otak. Selain itu, tidur juga berperan dalam konsolidasi memori yang memungkinkan anak menyerap dan menyimpan informasi baru dengan lebih baik.
Dampak positif lain yang terlihat adalah kemampuan regulasi emosi. Anak yang cukup tidur lebih stabil secara emosional, mudah diajak bekerja sama, dan memiliki interaksi sosial yang lebih sehat. Sebaliknya, kurang tidur menyebabkan anak cepat marah, sulit fokus, dan mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Tidur berkualitas tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi juga oleh rutinitas yang konsisten. Elvina menekankan pentingnya membangun bedtime routine sederhana seperti menyikat gigi, mengenakan piyama, membaca buku, atau berdoa sebelum tidur. Rutinitas ini membantu tubuh mengenali sinyal alami bahwa waktu istirahat telah tiba.
Lingkungan tidur juga menjadi faktor penentu. Suhu kamar sebaiknya sejuk, pencahayaan redup, dan kondisi sekitar tenang agar anak tidak mudah terbangun. Bagi bayi, keamanan tidur perlu diperhatikan dengan tidak menaruh bantal, boneka, atau selimut tebal berlebihan di tempat tidur untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Senada dengan Marti, Elvina mengakui jika perkembangan teknologi memberi dampak besar pada semua kalangan termasuk anak. Banyak anak dan remaja tidur terlalu larut karena terpapar layar gadget baik ponsel, tablet, maupun televisi.
Cahaya biru yang dipancarkan layar terbukti menghambat produksi hormon yang mengatur rasa kantuk yaitu melatonin.
Selain itu, pola aktivitas yang tidak teratur juga memperburuk keadaan. Anak yang lebih sering duduk bermain gadget di siang hari cenderung sulit tidurnyenyak di malam hari.
Kondisi ini diperparah dengan lingkungan rumah yang kurang mendukung misalnya televisi yang tetap menyala atau aktivitas keluarga yang berlangsung hingga larut malam.
Menurut Elvina, kesadaran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam menjaga pola tidur sehat. Orang tua diharapkan mampu memberikan stimulasi fisik di siang hari, memastikan nutrisi terpenuhi, serta membatasi penggunaan gadget menjelang tidur.
Konsistensi dalam menerapkan rutinitas tidur juga sangat penting agar anak terbiasa dengan pola istirahat yang teratur.
Elvina menekankan bahwa kebutuhan tidur anak berbeda sesuai dengan usianya. Bayi baru lahir membutuhkan hingga 17 jam tidur per hari, sedangkan balita rata-rata membutuhkan 11-14 jam termasuk tidur siang.
Jika kebutuhan ini diabaikan, konsekuensinya tidak hanya terlihat pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga berdampak panjang pada kualitas hidup anak.
Baca juga: Mengenal Sleep Training & 5 Metodenya, Cara Jitu Bikin Bayi Tidur Pulas & Berkualitas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.