Cara Mengenali dan Mengatasi Gangguan Mental pada Anak Akibat Kecanduan Teknologi
20 September 2025 |
21:01 WIB
Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat dalam satu dekade terakhir tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan baru bagi kesehatan mental masyarakat. Kondisi ini sangat mempengaruhi kelompok usia remaja yang sedang berada di fase pencarian jati diri.
Terlebih remaja juga sering terpapar gadget, dari kecanduan game online sampai ketergantungan media sosial. Ini bisa berdampak pada kesehatan mental dan mempengaruhi pola hidup sehari-hari.
Adhi Wibowo Nurhidayat, psikiater RS Medistra, memaparkan langkah-langkah mengenali dan mengatasi kecanduan teknologi digital untuk remaja. Penting sekali dilakukan assessment atau penilaian klinis dari profesional. Dari sana, dapat diketahui apakah perilaku penggunaan teknologi masih dalam batas wajar atau sudah masuk tahap adiksi.
“Kalau sudah sampai merusak aktivitas sehari-hari, mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, itu bukan lagi sekadar hobi. Itu sudah masuk kategori adiksi,” paparnya, dalam talkshow DGVeRS Festival 2025 bertajuk Mental Health: Being Human in Digital Era, Sabtu (20/9/2025).
Baca juga: Mengenal Istilah Chronically Online yang Bikin Kecanduan Gadget & Internet
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa adiksi digital memiliki pola yang sama dengan kecanduan lain, seperti narkoba atau alkohol, yakni munculnya dorongan kuat untuk terus menggunakan, hilangnya kendali, serta adanya konsekuensi negatif terhadap kehidupan nyata.
Remaja yang kecanduan game online, misalnya, bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hingga lupa makan, tidur, atau berinteraksi dengan keluarga.
Adhi menyarankan strategi digital detox sebagai langkah praktis. Dia mencontohkan pengalaman pribadinya ketika memutuskan berhenti total menggunakan Facebook selama enam bulan. “Detox media sosial memberi banyak efek positif. Saya jadi lebih tenang, lebih fokus pada kehidupan nyata, dan punya waktu lebih banyak untuk aktivitas lain,” ujarnya.
Namun, pada kasus yang lebih berat, terutama bila adiksi sudah menimbulkan gangguan psikis serius, psikiater dapat melakukan intervensi medis, termasuk terapi dan konseling.
Menyibukkan diri dengan aktivitas seperti hobi juga sangat penting, misalnya olahraga, melakukan kegiatan kreatif, atau kegiatan sosial yang bisa mengalihkan perhatian dari layar. Remaja perlu diarahkan pada kegiatan nyata yang produktif. Dunia digital memang tidak bisa dihindari, tapi perlu ada keseimbangan yang harus dijaga.
“Kadang kita mengira anak hanya suka main game atau aktif di media sosial, padahal ada hal lebih dalam yang terjadi, mereka bisa saja mengalami tekanan atau gangguan psikologis,” kata Farraas.
Lebih lanjut, dia memaparkan prinsip 4D sebagai indikator untuk mengenali dampak adiksi digital terhadap kesehatan mental.
Misalnya, remaja yang tidak bisa lepas dari game online. Bisa jadi karena dia mendapatkan apresiasi dan prestasi di sana yang tidak didapatkannya di dunia nyata. Kalau ternyata game menjadi tempat dia merasa nyaman, maka orang tua harus menambah interaksi positif di rumah, family time, atau mengisi kekosongan itu dengan kegiatan lain.
Kuncinya bukan hanya melarang, tapi menyediakan alternatif kegiatan. Orang tua harus siap lebih repot, karena mengurangi gadget berarti harus lebih banyak meluangkan waktu bersama anak. "Buatlah aturan yang konsisten, misalnya kalau jam 4 harus berhenti main, maka harus berhenti," lanjutnya.
Orang tua sebaiknya menyediakan alternatif kegiatan yang menyenangkan. Aktivitas bersama keluarga, olahraga, diskusi-diskusi menarik, atau kegiatan kreatif lainnya bisa membantu remaja menemukan kepuasan tanpa harus terus mencari validasi digital.
Baca juga: Kenali Gangguan, Layanan Perawatan & Daftar RS Tangani Kecanduan Judi Online
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Terlebih remaja juga sering terpapar gadget, dari kecanduan game online sampai ketergantungan media sosial. Ini bisa berdampak pada kesehatan mental dan mempengaruhi pola hidup sehari-hari.
Adhi Wibowo Nurhidayat, psikiater RS Medistra, memaparkan langkah-langkah mengenali dan mengatasi kecanduan teknologi digital untuk remaja. Penting sekali dilakukan assessment atau penilaian klinis dari profesional. Dari sana, dapat diketahui apakah perilaku penggunaan teknologi masih dalam batas wajar atau sudah masuk tahap adiksi.
“Kalau sudah sampai merusak aktivitas sehari-hari, mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, itu bukan lagi sekadar hobi. Itu sudah masuk kategori adiksi,” paparnya, dalam talkshow DGVeRS Festival 2025 bertajuk Mental Health: Being Human in Digital Era, Sabtu (20/9/2025).
Baca juga: Mengenal Istilah Chronically Online yang Bikin Kecanduan Gadget & Internet
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa adiksi digital memiliki pola yang sama dengan kecanduan lain, seperti narkoba atau alkohol, yakni munculnya dorongan kuat untuk terus menggunakan, hilangnya kendali, serta adanya konsekuensi negatif terhadap kehidupan nyata.
Remaja yang kecanduan game online, misalnya, bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hingga lupa makan, tidur, atau berinteraksi dengan keluarga.
Adhi menyarankan strategi digital detox sebagai langkah praktis. Dia mencontohkan pengalaman pribadinya ketika memutuskan berhenti total menggunakan Facebook selama enam bulan. “Detox media sosial memberi banyak efek positif. Saya jadi lebih tenang, lebih fokus pada kehidupan nyata, dan punya waktu lebih banyak untuk aktivitas lain,” ujarnya.
Namun, pada kasus yang lebih berat, terutama bila adiksi sudah menimbulkan gangguan psikis serius, psikiater dapat melakukan intervensi medis, termasuk terapi dan konseling.
Menyibukkan diri dengan aktivitas seperti hobi juga sangat penting, misalnya olahraga, melakukan kegiatan kreatif, atau kegiatan sosial yang bisa mengalihkan perhatian dari layar. Remaja perlu diarahkan pada kegiatan nyata yang produktif. Dunia digital memang tidak bisa dihindari, tapi perlu ada keseimbangan yang harus dijaga.
Cara Mengenali Adiksi Digital
Sementara itu, psikolog Farraas Afiefah Muhdiar menyoroti pentingnya mengenali tanda-tanda awal gangguan mental pada remaja. Menurutnya, gejala bisa muncul secara halus dan sering kali tidak disadari oleh orang tua, karena perilakunya yang terlihat biasa saja“Kadang kita mengira anak hanya suka main game atau aktif di media sosial, padahal ada hal lebih dalam yang terjadi, mereka bisa saja mengalami tekanan atau gangguan psikologis,” kata Farraas.
Lebih lanjut, dia memaparkan prinsip 4D sebagai indikator untuk mengenali dampak adiksi digital terhadap kesehatan mental.
- Deviance (Penyimpangan): Ketika perilaku mulai menyimpang dari norma sehari-hari, misalnya anak lebih memilih berjam-jam bermain game daripada makan atau belajar.
- Distress (Tekanan Psikologis): Penggunaan gawai menimbulkan rasa tertekan, gelisah, atau marah ketika tidak bisa online.
- Danger (Bahaya): Muncul risiko nyata, seperti mengabaikan kesehatan fisik, membahayakan diri sendiri, atau terlibat dalam interaksi berisiko di dunia maya.
- Dysfunction (Disfungsi): Kehidupan sehari-hari terganggu, seperti prestasi sekolah menurun, hubungan sosial rusak, atau kehilangan minat pada aktivitas lain.
Misalnya, remaja yang tidak bisa lepas dari game online. Bisa jadi karena dia mendapatkan apresiasi dan prestasi di sana yang tidak didapatkannya di dunia nyata. Kalau ternyata game menjadi tempat dia merasa nyaman, maka orang tua harus menambah interaksi positif di rumah, family time, atau mengisi kekosongan itu dengan kegiatan lain.
Kuncinya bukan hanya melarang, tapi menyediakan alternatif kegiatan. Orang tua harus siap lebih repot, karena mengurangi gadget berarti harus lebih banyak meluangkan waktu bersama anak. "Buatlah aturan yang konsisten, misalnya kalau jam 4 harus berhenti main, maka harus berhenti," lanjutnya.
Orang tua sebaiknya menyediakan alternatif kegiatan yang menyenangkan. Aktivitas bersama keluarga, olahraga, diskusi-diskusi menarik, atau kegiatan kreatif lainnya bisa membantu remaja menemukan kepuasan tanpa harus terus mencari validasi digital.
Baca juga: Kenali Gangguan, Layanan Perawatan & Daftar RS Tangani Kecanduan Judi Online
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.