Pengunjung melakukan pemeriksaan kesehatan di booth RSJPD Harapana Kita dalam Hospital Expo 2025 (Sumber gambar: Dewi Andriani)

Jangan Anggap Sepele, Penyakit Jantung Kini Banyak Menyerang Anak Muda

26 September 2025   |   15:30 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit jantung kini tak lagi hanya mengintai usia lanjut, melainkan juga generasi muda dan produktif. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan kelompok usia 25–34 tahun justru mencatat kasus terbanyak, menegaskan pentingnya deteksi dini serta perubahan gaya hidup sehat untuk mencegah risiko serius di masa depan.

Survei SKI 2023 mencatat 140.206 orang dari kelompok usia 25–34 tahun menjadi penderita penyakit jantung, sedikit lebih tinggi dibanding kelompok 15–24 tahun yang mencapai 139.891 orang. Adapun, pasien jantung usia 35 hingga 44 tahun mencapai 131.595 orang.

Fakta ini mengkhawatirkan karena adanya pergeseran pola, di mana generasi muda justru menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, sehingga kebutuhan akan deteksi dini semakin mendesak.

Baca Juga: Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita di AS Alami Anemia dan Palpitasi Jantung

Dokter Umum RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK), Moch Fathonyl Aziz mengatakan, perubahan gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus jantung di usia muda.

“Kalau dulu penyakit jantung lebih sering ditemukan pada usia di atas 40 tahun, sekarang anak muda juga bisa terkena. Gaya hidup tinggi gula, lemak, makanan ultra-proses, ditambah rokok dan alkohol yang semakin mudah diakses, memperbesar risikonya,” ujarnya di Hospital Expo 2025.

Menurutnya, deteksi dini sangat penting agar masalah kesehatan bisa segera ditangani sebelum berkembang lebih jauh. Pemeriksaan sederhana seperti tekanan darah, EKG, kadar kolesterol dan gula bisa menjadi langkah awal yang dapat dilakukan

“Jangan takut melakukan pemeriksaan dini. Kalau kita tahu ada masalah sejak awal, penanganannya bisa lebih cepat dan kualitas hidup di masa depan tetap terjaga,” jelas dr. Thony.

Karena itu deteksi dini menjadi kunci. Namun sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang cenderung menunda pemeriksaan kesehatan jantung hingga gejala parah muncul.

“Sering kali pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah lanjut. Padahal, penyakit jantung itu tidak terjadi mendadak, tapi berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Dengan deteksi dini, risiko bisa ditekan sejak awal,” ungkap Dr. drg. Maya Marinda Montain, M.Kes, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan RSJPD Harapan Kita.
 

RSJPD Harapan Kita dalam Hospital Expo 2025 (sumber : RSJPDHK)

RSJPD Harapan Kita dalam Hospital Expo 2025 (sumber : RSJPDHK)


Karena itulah, melalui ajang Hospital Expo yang berlangsung sejak 25 hingga 28 September 2025 di ICE BSD City, RSJPDHK menghadirkan berbagai layanan kesehatan gratis mulai dari mulai dari screening factor risiko kardiovaskular, pemeriksaan HeartVue dengan teknologi yang mampu mendeteksi kondisi jantung dengan cepat dan non-invasif, hingga konsultasi dokter dan gizi.

Para pengunjung yang hadir bisa memeriksakan kesehatannya secara langsung. Jika hasil menunjukkan angka risiko tinggi, pasien dianjurkan melanjutkan ke medical check-up (MCU) jantung yang lebih komprehensif.

“Screening ini bukan diagnosa, tapi pintu masuk untuk memahami risiko. Dari sana, langkah pencegahan dan pengobatan bisa disiapkan lebih tepat. Inilah yang ingin kami edukasikan melalui pameran ini” katanya,” jelas Maya.

Bagi masyarakat usia di atas 35 tahun atau memiliki faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, merokok, dan riwayat keluarga, pemeriksaan rutin setiap tahun sangat dianjurkan. “Semakin cepat risiko terdeteksi, semakin besar peluang untuk memperbaikinya sebelum menjadi penyakit serius,” ujar dr. Thony.

Di samping melakukan deteksi dini, masyarakat juga perlu melakukan perubahan gaya hidup dengan mengurangi konsumsi makanan ultra-proses, menjaga pola makan seimbang, serta olahraga teratur minimal tiga kali seminggu untuk menjaga kesehatan jantung.

Membangun kesadaran tentang deteksi dini jantung harus dimulai sejak usia muda. Dengan begitu, generasi mendatang dapat terhindar dari risiko penyakit yang menjadi penyebab kematian utama di Indonesia.

“Jantung itu pusat kehidupan. Menjaganya sejak muda adalah investasi terbaik untuk masa depan,” tutup dr. Thony.

Baca Juga: Bukan Cuma Mata Lelah, Screen Time Berlebih Bisa Ganggu Jantung Anak

SEBELUMNYA

Diva Zahra Comeback di Kejurnas Sprint Rally 2025, Target Podium Kelas Wanita

BERIKUTNYA

10 Rekomendasi Anime Genre Aksi yang Seru, Cocok untuk Mengisi Waktu Luang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga