Pop City 2025: Menyelami Warisan Musik J Mascis di Skena Rock Alternatif
26 September 2025 |
09:00 WIB
Festival budaya populer Pop City 2025 yang digelar pada 25-28 September 2025 di Blok M Hub, Jakarta Selatan, menawarkan pengalaman interaktif yang merayakan berbagai aspek budaya pop, mulai dari musik, film, mode, seni, buku, mainan, hingga stand-up comedy.
Diselenggarakan melalui kolaborasi GOLDLive Indonesia, Heyfolks, dan MRT Jakarta, acara ini dirancang sebagai ruang kreatif bagi para seniman, komunitas, serta penikmat budaya untuk bertemu dan berkolaborasi.
Baca juga: JICAF 2025 Hadirkan Kolaborasi Lomba Sihir dan Rezza Rainaldy
Salah satu sesi menarik di Pop City 2025 adalah talkshow bertajuk Pop Talks Naraswara bertajuk J Mascis on Wax yang membedah perjalanan musikal dan warisan sang legenda rock alternatif, J Mascis. Pada sesi ini, dua pengamat musik, Eric Wirjanata dan Bondzilla, berbincang hangat tentang karya, estetika, hingga relevansi J Mascis bagi penikmat musik lintas generasi.
J Mascis sendiri adalah musisi asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris utama band Dinosaur Jr.. Lahir pada 10 Desember 1965 di Amherst, Massachusetts, dia terkenal lewat permainan gitarnya yang bertenaga dengan solo panjang dan penuh distorsi. Dipadukan dengan vokal bernuansa lembut, agak serak, dan terdengar “malas” namun emosional.
Bersama Dinosaur Jr., Mascis menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan indie rock dan alternative rock, serta berpengaruh besar pada band-band grunge seperti Nirvana, Sonic Youth, dan Pixies. Di luar bandnya, dia juga aktif merilis album solo bernuansa folk dan akustik serta sempat bermain di beberapa proyek musik lain, termasuk band hardcore awalnya, Deep Wound, dan band heavy rock Witch.
Eric Wirjanata dan Bondzilla membuka sesi bincang-bincang dengan menggambarkan momen ini seperti obrolan santai antar sesama penikmat musik. “Bayangkan kita ketemu teman, lalu tanya, ‘Lagi dengerin apa?’ Ternyata jawabannya sama. Obrolan sederhana itu ternyata bisa jadi seru,” ujar mereka.
Keduanya sepakat, mendengarkan J Mascis tidak berhenti pada musiknya saja, tetapi bisa lebih lebih luas, mencakup detail rekaman, vokal dan permainan gitar khasnya, rilisan-rilisan hitnya, sampai suara khas “krek” dari vinyl ketika lagunya diperdengarkan. Dari percakapan kecil inilah diskusi tentang perjalanan J Mascis pun mengalir.
Mereka mengenang pertama kali mengenal J Mascis lewat seorang teman semasa SMP. Kala itu akses masih terbatas, hanya lewat file MP3. Dari situ dia mulai mendalami karya-karya J Mascis, termasuk proyek-proyek sampingannya.
“Dia enggak cuma main di band utama, tapi juga punya banyak side project yang memperlihatkan karakter musik khasnya,” ujar Eric.
Proyek-proyek tersebut penting karena menunjukkan keberanian J Mascis mengeksplorasi berbagai warna musik. Bahkan, ada penggemar yang baru belakangan sadar kalau proyek itu ternyata karyanya.
Musik J Mascis sering menjadi alternatif bagi anak muda yang mencari sesuatu di luar tren pop. Musiknya tak selalu ikut arus, tapi tetap punya tempat di hati para penikmatnya.
Bukan hanya musik, estetika J Mascis juga dibahas. artwork album, gaya visual, hingga konsep panggung dinilai konsisten. Mereka kemudian menyinggung soal penampilan J Mascis yang semakin ikonik. Rambut panjang putih, outfit colorful, dan gaya yang tidak berubah sejak awal karier membuatnya justru semakin karismatik.
“Bayangin, bapak-bapak umur 50-an tapi gayanya tetap nyentrik. Itu bikin dia beda,” ungkap Bondzilla.
Menurutnya, audiens juga ikut berubah. Jika di tahun 2000-an penonton konser J Mascis kebanyakan anak muda usia 20-30an, kini di tahun 2025 banyak yang sudah berusia 40-50an. Perubahan demografi ini justru menegaskan relevansi J Mascis di lintas generasi.
Mereka juga menyoroti konsistensi J Mascis dalam merilis karya. Setelah aktif dengan band dan berbagai side project, dia tetap produktif lewat album solo. Terakhir dengan merilis Elastic Days pada 2018, lalu kembali dengan album solo terbarunya What Do We Do Now pada Februari 2024, menandai kembalinya setelah jeda enam tahun.
Beberapa album solonya yang menonjol memperlihatkan sisi lain dari kreativitasnya di luar Dinosaur Jr. Album Several Shades of Why (2011) menjadi awal eksplorasinya ke arah musik akustik yang lebih lembut dan intim, disusul dengan Tied to a Star (2014) yang menghadirkan nuansa folk penuh kehangatan.
Pada Elastic Days (2018), Mascis memadukan permainan gitar khasnya dengan lirik yang reflektif, menjadikannya salah satu rilisan solo yang banyak dipuji. Setelah enam tahun jeda, dia kembali hadir dengan What Do We Do Now (2024), sebuah album yang menegaskan bahwa kreativitasnya tetap segar sekaligus relevan dalam lanskap musik alternatif saat ini.
“Beberapa orang bahkan menyebut musiknya sekarang seperti musik senja. Tapi tetap saja, itu khas J Mascis. Dia bisa folk, akustik, alternatif, tapi karakternya nggak bisa disamain sama musisi lain,” ujar Bondzilla.
Eric menambahkan, dia melihat gaya musik J Mascis lebih kasar, lebih raw. Kadang terasa agak kaku atau pasif, tapi justru itu bagian dari karakternya. Dia dikenal sebagai gitaris yang sengaja main dengan tone yang keras, meski kesannya santai.
"Iya, memang dia punya sisi itu. Bahkan, banyak yang bilang J Mascis tuh agak “brengsek” dalam arti liar, nggak mau terlalu halus, dan sering bikin karya yang terasa eksperimental. Tapi justru di situlah daya tariknya. Dia bisa bikin musik yang nggak biasa, kadang terasa sulit, tapi tetap menarik," katanya.
Bila didengarkan dengan saksama sebenarnya musik J Mascis tidaklah rumit. Dia sengaja membangun kesan kasar dan seolah acuh, padahal di baliknya tetap ada teknik dan niat kuat yang membuat karyanya terasa mendalam ketika ditelusuri lebih jauh, meski di permukaan tidak selalu terdengar “wah.”
Mascis juga sosok yang fleksibel, katanya, dia gemar berpindah gaya, berkolaborasi, hingga menciptakan proyek-proyek unik yang terkadang tak terduga. Inilah yang membuat perjalanan kariernya selalu terasa segar.
Dalam dua tahun terakhir, J Mascis sempat kembali tampil di New York dengan set yang berbeda dari biasanya. Menurut Bondzilla, momen itu memunculkan pertanyaan, apakah dia masih merepresentasikan dirinya sendiri, atau justru sudah menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar?
Menanggapi hal ini, Eric menilai bahwa Mascis memang sudah menjadi representasi musik alternatif itu sendiri. Dia tidak memerlukan simbol-simbol besar untuk menegaskan identitasnya, sebab cara bermain gitar dan bernyanyinya sudah cukup kuat sebagai penanda.
Memang musiknya kadang terdengar unik dan sulit, tapi tetap mudah dikenali. Lagu-lagunya cenderung lebih lambat dan menekan suasana hati, berbeda dengan musik masa kini. Justru melalui itulah dia menawarkan keunikan lagu-lagunya memberi ruang bagi pendengar untuk merenung.
Sesi bincang-bincang ini kemudian ditutup dengan pemutaran salah satu lagu terbaru J Mascis. Kedua pembicara sepakat, menyebut karya itu lebih pop dibanding sebelumnya, sehingga lebih mudah dinikmati para pendengar baru.
Melalui bincang hangat ini, Eric dan Bondzilla menunjukkan bahwa J Mascis bukan hanya musisi, tetapi ikon lintas zaman yang karismanya terus hidup di hati penggemar musik rock alternatif.
Diselenggarakan melalui kolaborasi GOLDLive Indonesia, Heyfolks, dan MRT Jakarta, acara ini dirancang sebagai ruang kreatif bagi para seniman, komunitas, serta penikmat budaya untuk bertemu dan berkolaborasi.
Baca juga: JICAF 2025 Hadirkan Kolaborasi Lomba Sihir dan Rezza Rainaldy
Salah satu sesi menarik di Pop City 2025 adalah talkshow bertajuk Pop Talks Naraswara bertajuk J Mascis on Wax yang membedah perjalanan musikal dan warisan sang legenda rock alternatif, J Mascis. Pada sesi ini, dua pengamat musik, Eric Wirjanata dan Bondzilla, berbincang hangat tentang karya, estetika, hingga relevansi J Mascis bagi penikmat musik lintas generasi.
J Mascis sendiri adalah musisi asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris utama band Dinosaur Jr.. Lahir pada 10 Desember 1965 di Amherst, Massachusetts, dia terkenal lewat permainan gitarnya yang bertenaga dengan solo panjang dan penuh distorsi. Dipadukan dengan vokal bernuansa lembut, agak serak, dan terdengar “malas” namun emosional.
Bersama Dinosaur Jr., Mascis menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan indie rock dan alternative rock, serta berpengaruh besar pada band-band grunge seperti Nirvana, Sonic Youth, dan Pixies. Di luar bandnya, dia juga aktif merilis album solo bernuansa folk dan akustik serta sempat bermain di beberapa proyek musik lain, termasuk band hardcore awalnya, Deep Wound, dan band heavy rock Witch.
Pesona J Mascis Sebagai Representasi Musik Alternatif
Eric Wirjanata dan Bondzilla membuka sesi bincang-bincang dengan menggambarkan momen ini seperti obrolan santai antar sesama penikmat musik. “Bayangkan kita ketemu teman, lalu tanya, ‘Lagi dengerin apa?’ Ternyata jawabannya sama. Obrolan sederhana itu ternyata bisa jadi seru,” ujar mereka.Keduanya sepakat, mendengarkan J Mascis tidak berhenti pada musiknya saja, tetapi bisa lebih lebih luas, mencakup detail rekaman, vokal dan permainan gitar khasnya, rilisan-rilisan hitnya, sampai suara khas “krek” dari vinyl ketika lagunya diperdengarkan. Dari percakapan kecil inilah diskusi tentang perjalanan J Mascis pun mengalir.
Mereka mengenang pertama kali mengenal J Mascis lewat seorang teman semasa SMP. Kala itu akses masih terbatas, hanya lewat file MP3. Dari situ dia mulai mendalami karya-karya J Mascis, termasuk proyek-proyek sampingannya.
“Dia enggak cuma main di band utama, tapi juga punya banyak side project yang memperlihatkan karakter musik khasnya,” ujar Eric.
Proyek-proyek tersebut penting karena menunjukkan keberanian J Mascis mengeksplorasi berbagai warna musik. Bahkan, ada penggemar yang baru belakangan sadar kalau proyek itu ternyata karyanya.
Musik J Mascis sering menjadi alternatif bagi anak muda yang mencari sesuatu di luar tren pop. Musiknya tak selalu ikut arus, tapi tetap punya tempat di hati para penikmatnya.
Bukan hanya musik, estetika J Mascis juga dibahas. artwork album, gaya visual, hingga konsep panggung dinilai konsisten. Mereka kemudian menyinggung soal penampilan J Mascis yang semakin ikonik. Rambut panjang putih, outfit colorful, dan gaya yang tidak berubah sejak awal karier membuatnya justru semakin karismatik.
“Bayangin, bapak-bapak umur 50-an tapi gayanya tetap nyentrik. Itu bikin dia beda,” ungkap Bondzilla.
Menurutnya, audiens juga ikut berubah. Jika di tahun 2000-an penonton konser J Mascis kebanyakan anak muda usia 20-30an, kini di tahun 2025 banyak yang sudah berusia 40-50an. Perubahan demografi ini justru menegaskan relevansi J Mascis di lintas generasi.
Mereka juga menyoroti konsistensi J Mascis dalam merilis karya. Setelah aktif dengan band dan berbagai side project, dia tetap produktif lewat album solo. Terakhir dengan merilis Elastic Days pada 2018, lalu kembali dengan album solo terbarunya What Do We Do Now pada Februari 2024, menandai kembalinya setelah jeda enam tahun.
Beberapa album solonya yang menonjol memperlihatkan sisi lain dari kreativitasnya di luar Dinosaur Jr. Album Several Shades of Why (2011) menjadi awal eksplorasinya ke arah musik akustik yang lebih lembut dan intim, disusul dengan Tied to a Star (2014) yang menghadirkan nuansa folk penuh kehangatan.
Pada Elastic Days (2018), Mascis memadukan permainan gitar khasnya dengan lirik yang reflektif, menjadikannya salah satu rilisan solo yang banyak dipuji. Setelah enam tahun jeda, dia kembali hadir dengan What Do We Do Now (2024), sebuah album yang menegaskan bahwa kreativitasnya tetap segar sekaligus relevan dalam lanskap musik alternatif saat ini.
“Beberapa orang bahkan menyebut musiknya sekarang seperti musik senja. Tapi tetap saja, itu khas J Mascis. Dia bisa folk, akustik, alternatif, tapi karakternya nggak bisa disamain sama musisi lain,” ujar Bondzilla.
Eric menambahkan, dia melihat gaya musik J Mascis lebih kasar, lebih raw. Kadang terasa agak kaku atau pasif, tapi justru itu bagian dari karakternya. Dia dikenal sebagai gitaris yang sengaja main dengan tone yang keras, meski kesannya santai.
"Iya, memang dia punya sisi itu. Bahkan, banyak yang bilang J Mascis tuh agak “brengsek” dalam arti liar, nggak mau terlalu halus, dan sering bikin karya yang terasa eksperimental. Tapi justru di situlah daya tariknya. Dia bisa bikin musik yang nggak biasa, kadang terasa sulit, tapi tetap menarik," katanya.
Bila didengarkan dengan saksama sebenarnya musik J Mascis tidaklah rumit. Dia sengaja membangun kesan kasar dan seolah acuh, padahal di baliknya tetap ada teknik dan niat kuat yang membuat karyanya terasa mendalam ketika ditelusuri lebih jauh, meski di permukaan tidak selalu terdengar “wah.”
Mascis juga sosok yang fleksibel, katanya, dia gemar berpindah gaya, berkolaborasi, hingga menciptakan proyek-proyek unik yang terkadang tak terduga. Inilah yang membuat perjalanan kariernya selalu terasa segar.
Dalam dua tahun terakhir, J Mascis sempat kembali tampil di New York dengan set yang berbeda dari biasanya. Menurut Bondzilla, momen itu memunculkan pertanyaan, apakah dia masih merepresentasikan dirinya sendiri, atau justru sudah menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar?
Menanggapi hal ini, Eric menilai bahwa Mascis memang sudah menjadi representasi musik alternatif itu sendiri. Dia tidak memerlukan simbol-simbol besar untuk menegaskan identitasnya, sebab cara bermain gitar dan bernyanyinya sudah cukup kuat sebagai penanda.
Memang musiknya kadang terdengar unik dan sulit, tapi tetap mudah dikenali. Lagu-lagunya cenderung lebih lambat dan menekan suasana hati, berbeda dengan musik masa kini. Justru melalui itulah dia menawarkan keunikan lagu-lagunya memberi ruang bagi pendengar untuk merenung.
Sesi bincang-bincang ini kemudian ditutup dengan pemutaran salah satu lagu terbaru J Mascis. Kedua pembicara sepakat, menyebut karya itu lebih pop dibanding sebelumnya, sehingga lebih mudah dinikmati para pendengar baru.
Melalui bincang hangat ini, Eric dan Bondzilla menunjukkan bahwa J Mascis bukan hanya musisi, tetapi ikon lintas zaman yang karismanya terus hidup di hati penggemar musik rock alternatif.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.