WHO: Klaim Trump soal Paracetamol Sebabkan Autisme Tak Didukung Bukti Ilmiah
25 September 2025 |
13:52 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut ada kaitan autisme dengan penggunaan asetaminofen saat hamil. Dalam pernyataannya pada Rabu (24/9/2025), WHO menegaskan tidak ada bukti ilmiah konklusif yang menemukan hubungan gangguan tersebut dengan obat pereda nyeri ini.
WHO menyebutkan bahwa penelitian skala besar telah dilakukan dalam satu dekade terakhir terkait penggunaan acetaminophen saat hamil dan autisme. Namun, sejauh ini tidak ada asosiasi konsisten yang terbukti. Organisasi tersebut menganjurkan agar ibu hamil tetap mengikuti saran dokter atau tenaga kesehatan yang memahami kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Tip Memilih & Mengonsumsi Suplemen untuk Kesehatan Reproduksi Menurut Dokter
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebelumnya memang telah mengumumkan proses peninjauan ulang label keamanan asetaminofen. Namun, lembaga itu menegaskan bahwa asetaminofen masih dianggap sebagai pereda nyeri paling aman untuk ibu hamil bila digunakan dengan dosis terendah dan durasi sesingkat mungkin sesuai anjuran medis.
Produsen Tylenol, Kenvue, juga mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat tidak setuju dengan klaim Trump dan menegaskan penelitian independen menunjukkan tidak ada bukti obat tersebut menyebabkan autisme.
Sejumlah riset besar, termasuk Nurses’ Health Study II dan Boston Birth Cohort, memang menemukan adanya asosiasi antara penggunaan asetaminofen jangka panjang selama kehamilan dengan risiko autisme. Namun, studi lain, seperti riset populasi 2,4 juta anak di Swedia, tidak menemukan hubungan langsung. Dengan kata lain, hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.
Kontroversi memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Tylenol tidak baik bagi ibu hamil dan mendesak agar penggunaannya dibatasi. Trump menyampaikan klaim bahwa Tylenol (asetaminofen) dapat menyebabkan autisme dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 22 September 2025.
Ucapan tersebut langsung mendapat sorotan dan kritik tajam dari kalangan medis. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa klaim Trump tidak sejalan dengan bukti ilmiah yang ada.
Perdebatan makin meluas ketika unggahan lama Tylenol dari 2017 kembali viral. Dalam unggahan itu tertulis, “We actually don’t recommend using any of our products while pregnant”, yang kemudian memperkeruh diskusi di tengah beragam temuan ilmiah yang masih saling bertolak belakang.
Meski demikan, badan regulator di berbagai negara seperti Inggris (MHRA) dan Australia (TGA) menegaskan tidak ada bukti kausalitas dan paracetamol tetap dianggap obat pereda nyeri paling aman untuk ibu hamil jika digunakan sesuai anjuran. Sementara itu, FDA dalam surat resminya kepada tenaga medis mengingatkan penggunaan asetaminofen sebaiknya pada dosis serendah mungkin, dalam durasi sesingkat mungkin, dan di bawah arahan medis sebagai prinsip kehati-hatian.
Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting juga menekankan parasetamol tetap menjadi pilihan paling aman. Sementara itu, produsen Tylenol, Kenvue, menyatakan tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan asetaminofen menyebabkan autisme.
Menanggapi kekhawatiran publik, Yale School of Public Health merilis analisis melalui Associate Professor Epidemiologi, Dr. Zeyan Liew. Dalam wawancara yang diterbitkan 23 September 2025, Liew menegaskan belum ada bukti sebab-akibat antara asetaminofen dan autisme.
“Kami belum tahu pasti apakah asetaminofen menyebabkan autisme. Sejumlah studi observasional memang menunjukkan adanya asosiasi, terutama pada penggunaan sering atau jangka panjang. Tetapi faktor lain, seperti demam pada ibu hamil, kondisi medis, atau faktor genetik, juga bisa berperan,” jelasnya.
Liew saat ini memimpin riset kolaboratif internasional untuk mengevaluasi kaitan penggunaan asetaminofen selama kehamilan dengan enam domain perkembangan neurologis anak. Ia juga menekankan bahwa tidak ada alternatif setara untuk asetaminofen, karena obat pereda nyeri lain seperti ibuprofen justru berisiko pada kehamilan setelah 20 minggu.
Oleh karena itu, rekomendasi terkini masih menempatkan asetaminofen sebagai pilihan paling aman, dengan catatan penggunaan dosis serendah mungkin dan dalam durasi sesingkat mungkin sesuai kebutuhan medis.
“Autisme adalah gangguan yang sangat kompleks. Sampai sekarang, belum ada satu faktor tunggal genetik maupun lingkungan yang bisa dianggap sebagai penyebab pasti. Maka, penting untuk melanjutkan riset tanpa membuat masyarakat takut menggunakan obat yang diperlukan,” tambah Liew.
Data CDC menunjukkan prevalensi autisme di AS meningkat tajam sejak 2000, mencapai 2,77% pada anak usia 8 tahun pada 2020. Namun, para ilmuwan menilai lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kesadaran dan perubahan definisi diagnostik, bukan semata-mata faktor obat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
WHO menyebutkan bahwa penelitian skala besar telah dilakukan dalam satu dekade terakhir terkait penggunaan acetaminophen saat hamil dan autisme. Namun, sejauh ini tidak ada asosiasi konsisten yang terbukti. Organisasi tersebut menganjurkan agar ibu hamil tetap mengikuti saran dokter atau tenaga kesehatan yang memahami kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Tip Memilih & Mengonsumsi Suplemen untuk Kesehatan Reproduksi Menurut Dokter
Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sebelumnya memang telah mengumumkan proses peninjauan ulang label keamanan asetaminofen. Namun, lembaga itu menegaskan bahwa asetaminofen masih dianggap sebagai pereda nyeri paling aman untuk ibu hamil bila digunakan dengan dosis terendah dan durasi sesingkat mungkin sesuai anjuran medis.
Produsen Tylenol, Kenvue, juga mengeluarkan pernyataan resmi yang sangat tidak setuju dengan klaim Trump dan menegaskan penelitian independen menunjukkan tidak ada bukti obat tersebut menyebabkan autisme.
Sejumlah riset besar, termasuk Nurses’ Health Study II dan Boston Birth Cohort, memang menemukan adanya asosiasi antara penggunaan asetaminofen jangka panjang selama kehamilan dengan risiko autisme. Namun, studi lain, seperti riset populasi 2,4 juta anak di Swedia, tidak menemukan hubungan langsung. Dengan kata lain, hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan.
President Trump Makes an Announcement on Medical and Scientific Findings for America's Children https://t.co/aTq90Js06I
— The White House (@WhiteHouse) September 22, 2025
Kontroversi memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Tylenol tidak baik bagi ibu hamil dan mendesak agar penggunaannya dibatasi. Trump menyampaikan klaim bahwa Tylenol (asetaminofen) dapat menyebabkan autisme dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 22 September 2025.
Ucapan tersebut langsung mendapat sorotan dan kritik tajam dari kalangan medis. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa klaim Trump tidak sejalan dengan bukti ilmiah yang ada.
Perdebatan makin meluas ketika unggahan lama Tylenol dari 2017 kembali viral. Dalam unggahan itu tertulis, “We actually don’t recommend using any of our products while pregnant”, yang kemudian memperkeruh diskusi di tengah beragam temuan ilmiah yang masih saling bertolak belakang.
We actually don't recommend using any of our products while pregnant. Thank you for taking the time to voice your concerns today.
— TYLENOL® (@tylenol) March 7, 2017
Meski demikan, badan regulator di berbagai negara seperti Inggris (MHRA) dan Australia (TGA) menegaskan tidak ada bukti kausalitas dan paracetamol tetap dianggap obat pereda nyeri paling aman untuk ibu hamil jika digunakan sesuai anjuran. Sementara itu, FDA dalam surat resminya kepada tenaga medis mengingatkan penggunaan asetaminofen sebaiknya pada dosis serendah mungkin, dalam durasi sesingkat mungkin, dan di bawah arahan medis sebagai prinsip kehati-hatian.
Menteri Kesehatan Inggris Wes Streeting juga menekankan parasetamol tetap menjadi pilihan paling aman. Sementara itu, produsen Tylenol, Kenvue, menyatakan tidak ada bukti ilmiah yang membuktikan asetaminofen menyebabkan autisme.
Yale Tegaskan Belum Ada Bukti Tylenol Sebabkan Autisme
Menanggapi kekhawatiran publik, Yale School of Public Health merilis analisis melalui Associate Professor Epidemiologi, Dr. Zeyan Liew. Dalam wawancara yang diterbitkan 23 September 2025, Liew menegaskan belum ada bukti sebab-akibat antara asetaminofen dan autisme.“Kami belum tahu pasti apakah asetaminofen menyebabkan autisme. Sejumlah studi observasional memang menunjukkan adanya asosiasi, terutama pada penggunaan sering atau jangka panjang. Tetapi faktor lain, seperti demam pada ibu hamil, kondisi medis, atau faktor genetik, juga bisa berperan,” jelasnya.
Liew saat ini memimpin riset kolaboratif internasional untuk mengevaluasi kaitan penggunaan asetaminofen selama kehamilan dengan enam domain perkembangan neurologis anak. Ia juga menekankan bahwa tidak ada alternatif setara untuk asetaminofen, karena obat pereda nyeri lain seperti ibuprofen justru berisiko pada kehamilan setelah 20 minggu.
Oleh karena itu, rekomendasi terkini masih menempatkan asetaminofen sebagai pilihan paling aman, dengan catatan penggunaan dosis serendah mungkin dan dalam durasi sesingkat mungkin sesuai kebutuhan medis.
“Autisme adalah gangguan yang sangat kompleks. Sampai sekarang, belum ada satu faktor tunggal genetik maupun lingkungan yang bisa dianggap sebagai penyebab pasti. Maka, penting untuk melanjutkan riset tanpa membuat masyarakat takut menggunakan obat yang diperlukan,” tambah Liew.
Data CDC menunjukkan prevalensi autisme di AS meningkat tajam sejak 2000, mencapai 2,77% pada anak usia 8 tahun pada 2020. Namun, para ilmuwan menilai lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kesadaran dan perubahan definisi diagnostik, bukan semata-mata faktor obat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.