Karya berjudul Tulang Punggung (2025) dalam pameran Otak-Atik Jakarta, di Amuya Gallery pada 1–12 Oktober 2025. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Membaca Keresahan Kota Lewat Patung dan Kanvas di Amuya Gallery

06 October 2025   |   17:35 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sculpture bernuansa dinamis langsung menumbuk mata pengunjung ketika memasuki Amuya Gallery, Jakarta. Karya berdimensi dua jengkal itu menggambarkan seorang lelaki sedang memanggul rangka gedung metalik yang meleleh. Sosok berwarna merah pekat itu tampak terseok-seok, seolah nyaris jatuh.

Secara metaforik, dia mengingatkan pada tokoh Sisyphus dalam mitologi Yunani kuno, yang dikutuk Zeus untuk mendorong batu besar ke puncak bukit. Setiap kali hampir tiba di atas, batu itu tergelincir kembali ke bawah. Sebuah tugas yang tak pernah selesai.

Karya berjudul Tulang Punggung (2025) itu dibuat oleh perupa Agus Wahyudi. Patung ini seolah merepresentasikan kehidupan masyarakat urban Jakarta. Mereka yang bekerja keras sejak pagi, pulang menjelang senja, berkumpul dengan keluarga, lalu mengulang hal yang sama keesokan harinya. 

Baca Juga: Ruang Rupa Hadirkan Pameran Seni Rayakan 25 Tahun Berkarya di Synchronize Fest 2025

Dengan gayanya yang khas, Agus menghadirkan lapisan makna yang menghubungkan ingatan, realitas, dan imaji. Patung tersebut hanyalah satu dari puluhan karya lain yang merefleksikan kehidupan warga kota dalam pameran bertajuk Otak-Atik Jakarta, yang digelar di Amuya Gallery, pada 1–12 Oktober 2025.

Pameran ini dikuratori oleh Dimas Aji Saka dan Dian Ardianto. Mereka menghadirkan sembilan perupa dari kelompok Oret-oret Jakarta, di antaranya Arief Eko Saputra, Deskamtoro Dwi Utomo, Dian Ardianto, Sri Hardana, Taufiq Rachman, dan Zamrud Setya Negara.

Selain para anggota komunitas, hadir pula tiga perupa undangan yang menafsirkan tema dengan kebebasan penuh: Agus Wahyudi, Aviza ‘Cichat’ Azalia, dan Saepul Bahri. Secara keseluruhan, pameran ini menampilkan karya-karya sketsa, grafis, seni patung, instalasi partisipatif, hingga lukisan dengan beragam media dan teknik.
 

aja

Karya berjudul Toleransi Kota (2025) dalam pameran Otak-Atik Jakarta, di Amuya Gallery pada 1–12 Oktober 2025. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Sisi lain kehidupan urban juga dihadirkan Zamrud Setya Negara lewat karya berjudul Toleransi Kota (2025), yang terdiri atas tiga panel lukisan berdimensi 135x300 cm. Menggunakan cat akrilik di atas kanvas, dia menggambarkan lanskap persimpangan jalan di sekitar kawasan Grand Indonesia Jakarta.

Zamrud piawai menangkap kenyataan menjadi visual yang tak hanya menyalin objek. Dari kejauhan tampak monumen selamat datang, gedung-gedung menjulang, dan halte bus. Uniknya, suasana mendung yang menaungi lukisan itu menambah kesan dingin sekaligus melankolis.

Lukisan ini menjadi lanjutan dari seri sketsa yang dia garap beberapa tahun terakhir. Zebra cross di tengah komposisi dihadirkan sebagai metafora tentang aturan kolektif—tempat ribuan langkah dari berbagai arah bertemu tanpa saling meniadakan. 

“Kota dengan segala keragamannya adalah panggung toleransi dari fragmen-fragmen yang terpecah, tetapi tetap membentuk satu lanskap kebersamaan,” ujarnya.

Namun, kota tidak selalu bicara tentang kemacetan, deru kendaraan, atau langkah-langkah tergesa. Di balik keangkuhan gedung-gedung beton, ada pula cerita kecil dan kegelisahan yang sering luput diperhatikan publik yang sibuk dengan realitas sehari-hari.

Hal itu tampak dalam deretan sketsa karya Aviza Azalia, yang menampilkan kucing sebagai representasi keakraban dan refleksi kehidupan urban. Kita tak tahu apakah kucing-kucing itu liar atau peliharaan, tetapi dari sana lahir kisah lain tentang kota yang lebih hangat dan intim.

Dalam karyanya Sleeping Paws dan Scarry. Jolly. Sleepy (2025), publik disuguhi gestur kecil kucing di tengah lanskap urban yang terus bergerak. Kucing menjadi simbol keseharian penuh interaksi, kebebasan, sekaligus keluguan. Dia bisa marah, senang, atau tidur seolah dunia berhenti sesaat.

Dengan sentuhan cat air lembut, Aviza menghadirkan tingkah kucing sebagai simbol kehangatan di tengah hiruk pikuk ibu kota. Lewat ekspresi lucu dan jujur dari hewan-hewan itu, dia seperti mengingatkan bahwa di balik segala tantangan hidup perkotaan, selalu ada alasan untuk tetap tersenyum.
 
 

Seniman lain, Sri Hardana, membawa pendekatan berbeda lewat instalasi interaktif berjudul Fragmen Jakarta – Panel Pertanyaan, Panahan, dan Puzzle Jawaban (2025). Terinspirasi dari primbon dan shio, dia mengeksplorasi tema tentang nasib, harapan, dan rasa ingin tahu manusia terhadap masa depan di tengah realitas urban.

Secara visual, instalasi ini menampilkan panel besar bergambar hewan-hewan shio seperti kuda, babi, dan tikus, lengkap dengan deretan angka dan jam. Pengunjung diajak memilih panel secara acak untuk menemukan pertanyaan tersembunyi, lalu mencari jawabannya dengan mengandalkan intuisi.

Kurator pameran, Dimas Aji Saka, mengatakan bahwa Otak-Atik Jakarta berbeda dari pameran seni pada umumnya. Menurutnya, Jakarta sengaja dihadirkan sebagai laboratorium besar, tempat dinamika sosial, keresahan, dan peristiwa sehari-hari warga kota diterjemahkan ke dalam bahasa artistik.

Dia berharap pameran ini dapat memantik percakapan yang lebih luas tentang kota dan warganya. Bahwa Jakarta bukan hanya ruang penuh problematika, melainkan juga lahan subur bagi kreativitas, tempat kritik, kegelisahan, dan harapan disuarakan melalui karya.

"Pameran ini juga dapat menjadi tolok ulur bagaimana komunitas ini bergerak ke depannya. Sebab setelah ini publik akan melihat lagi setelah ada karya seperti ini, pencapaian seperti ini pencapaian karya-karya seperti apalagi yang akan dilakukan mereka," katanya.

Baca Juga: Refleksikan Denyut Kota, Amuya Gallery Siap Hadirkan Pameran Otak-atik Jakarta

SEBELUMNYA

Manfaat Jalan Kaki Berdasarkan Waktu: Dari Bakar Lemak hingga Redakan Stres

BERIKUTNYA

Denny Caknan Umumkan Jadwal Konser Oktober 2025, Sambangi Belasan Kota di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga