Senarai karya dalam pameran Takeaway Art di ruang seni Creativite Indonesia, Neha Hub, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Takeaway Art: Pameran Seni Rupa untuk Generasi Muda dengan Konsep Jual-Beli Langsung

23 September 2025   |   12:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Belasan anak muda menapaki jalur kesenian dengan semangat berbagi pengalaman lewat karya. Mereka berkomunikasi melalui bahasa rupa, menuangkan gagasan ke dalam karya estetik yang sarat simbol, sekaligus membuka ruang refleksi tentang isu-isu yang dekat dengan keseharian.

Salah satunya adalah Ruth A Kaligis yang menghadirkan instalasi bernuansa satir dari resin dan plastik. Karyanya berjudul Confused (Bingung) menyinggung keruwetan informasi yang menumpuk, menghadirkan objek samar di balik bungkusan transparan yang justru menutupi makna sesungguhnya.

Karya tersebut dibuat dengan pendekatan tidak konvensional akan tetapi tetap simbolis. Plastik bening yang membungkus objek menjadi elemen kuat, seolah menegaskan bagaimana sesuatu yang terlihat jelas sekaligus bisa menyesatkan pandangan.

Baca Juga: Pameran Nada Merupa, Saat Musik dan Rupa Berpadu di Atas Kanvas

Berbeda dengan Ruth, Camilla Astari menghadirkan karya penuh nuansa cinta lewat lukisan burung merpati putih. Seri lukisan kecil berjudul Faith (2025) dan Joy (2025) itu mengajak audiens belajar mencintai tanpa belenggu, dengan dimensi 30x30x5 cm yang justru menguatkan kesan intim.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Artopologi (@artopologi)



Seluruh karya ini dipamerkan di ruang seni Creativite Indonesia, Neha Hub, kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Pameran bertajuk Takeaway Art berlangsung 19 Juli 2025 hingga 18 Oktober 2025, dengan tujuan merangkul generasi muda untuk lebih dekat pada seni rupa.

“Konsep dari pameran ini adalah untuk memudahkan akses dan juga transaksi jual-beli karya dengan ukuran kecil, dan harga affordable, termasuk juga disediakan sertifikat keaslian karya dari senimannya” ujar Gie Sanjaya, owner Neha Hub.

Selain Ruth, dan Camilla pameran ini menampilkan lebih dari selusin perupa muda lain seperti A. Habibi, Agustan, Aila Affandi, Arzabi Omar, Bawana Helga F, Christoper Y, Christian Hallen, Fakhri Radianto, Fanny Yahya, Gilang Ndaru, GULA, La Ode Umar, M Khrisna Dwi P, Nadhief Ashr, hingga Tulus Mulia. 

Mereka masing-masing hanya boleh mengirimkan dua karya dengan ukuran minimal 30x30 atau 30x50 cm. Pola ini dilakukan untuk menyiasati ruang agar mudah ditata sekaligus mudah dibawa pulang kolektor.

Berbeda dari pameran konvensional, setiap karya yang terjual juga bisa langsung diambil pembelinya tanpa menunggu akhir periode. “Ketentuan para pameris juga tidak terlalu spesifik, atau merujuk ke tema tertentu. Ini lebih ke konsep take away-nya ” tambah Gie.

 

Jejak Panjang Takeaway Art


Dalam dunia seni rupa, konsep jual-beli langsung seperti takeaway art exhibition atau cash-and-carry exhibition sejatinya bukanlah hal baru. Format ini kerap digunakan dalam pameran amal, bazar seni, hingga ruang alternatif yang ingin lebih inklusif.

Salah satu contoh paling dikenal adalah Take Me (I’m Yours) di La Monnaie de Paris, yang menghadirkan karya Yoko Ono hingga Angelika Markul, di mana pengunjung bisa langsung membawa pulang karya. Di Indonesia, kolektif Ace House pernah menggelar proyek Ace Mart di Yogyakarta pada 2015, yang menyajikan karya seni berdampingan dengan produk sehari-hari seperti snack dan rokok.

Namun Creativite mencoba memberi sentuhan baru dengan mengarahkan konsep ini pada generasi muda, baik seniman maupun kolektor. Para seniman didorong untuk mengemas karya dengan baik agar aman saat berpindah tangan, sementara kolektor diperkenalkan pada pengalaman berbelanja seni yang praktis dan ramah kantong.

Selain di ruang pamer, kolektor juga bisa membeli karya lewat media sosial penyelenggara yang terhubung ke platform Artopologi. Dengan cara ini, anak muda bisa mengoleksi karya tanpa perlu hadir langsung, sekaligus membuka ruang transaksi yang lebih cair dan akrab dengan budaya digital mereka.

Salah satu karya yang laku terjual adalah Slamet 1972 karya Bawana Helga Firmansyah. Dengan medium campuran pastel dan arang di atas kayu, lukisan lanskap gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dilepas seharga Rp2 jutaan, yang  dibeli oleh kolektor muda sebagai hadiah ulang tahun.

Fenomena ini menjadi menarik karena karya seni umumnya dibeli untuk dipajang di rumah, bukan diberikan sebagai bingkisan. Namun di era kini, seni rupa ternyata juga bisa menjadi hadiah personal yang sarat makna, sekaligus memperluas cara orang muda berhubungan dengan seni.

Baca Juga: Rayakan Seperempat Abad, Can’s Gallery Gelar Pameran Continuum

SEBELUMNYA

Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain

BERIKUTNYA

Koleksi The Urban Ethnology dari Sparks Fashion Academy, Tradisional & Futuristik dalam Busana

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga