Pameran Nada Merupa, Saat Musik dan Rupa Berpadu di Atas Kanvas
22 September 2025 |
16:25 WIB
Nomor telepon 021-5725250 terpampang di atas kertas putih berwarna gelap. Coretan akrilik yang meleleh membentuk angka itu bukan sekadar deretan digit, melainkan gerbang menuju sebuah karya yang penuh humor dan teka-teki.
Inilah Salah Sambung, lukisan karya Jason Ranti. Dalam pameran Nada Merupa di Bentara Budaya Jakarta (19–28 September 2025), karya ini tampil sebagai salah satu yang paling mencuri perhatian. Sederhana, absurd, tapi juga terasa bebas dari aturan-aturan seni yang kaku.
Baca juga: Bandung Photography Triennale 2025 Kembali Digelar, Soroti Fenomena Paska-Fotografis
Jason menuturkan, lukisan itu awalnya dibuat di Bandung, saat dia terlibat dalam produksi video klip Salah Display milik band Dongker. “Idenya spontan, mungkin bisa dibilang wangsit. Untuk nomor teleponnya bisa ditanyakan ke AI,” katanya sambil tertawa.
Humor khas Jason terasa kental dalam karya ini. Seperti lagunya Variasi Pink atau Suci Maksimal, dia lebih suka bicara jujur dengan bahasa yang sederhana. Lukisannya pun lahir dari spontanitas dan satir.
Namun Jason bukan satu-satunya musisi yang menaruh minat pada kanvas. Pameran ini menghadirkan 16 musisi perupa, dari Sujiwo Tejo, Arian 13, Jimi Multhazam, hingga Sam Bimbo. Nama-nama lain seperti Guruh Soekarno Putra, Heydi Ibrahim, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga ikut serta.
Fenomena ini menunjukkan kedekatan lama antara musik dan seni rupa. Keduanya berbagi ruang imajinasi, meski bergerak di medium berbeda. Musisi bisa dengan mudah menemukan bahasa baru melalui kuas, sebagaimana perupa kerap tertarik menjajal instrumen musik.
Guruh Soekarno Putra adalah contoh klasik. Selain dikenal sebagai komponis, dia serius menekuni dunia melukis. Begitu pula Sam Bimbo, yang meski populer lewat panggung musik, tetap menghidupkan latar belakangnya sebagai lulusan Seni Rupa ITB.
“Musik hadir lewat nada, irama, dan ritme; sementara rupa lewat patung, lukisan, dan visual lain. Keduanya bertemu di ranah imajinasi,” ujar Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Kompas Gramedia. Baginya, imajinasi adalah simpul yang menyatukan bunyi dan gambar.
Hubungan erat itu juga tercermin pada instrumen alat musik. Gitar Dewa Budjana, misalnya, pernah dilukis oleh maestro seni rupa seperti Jeihan Sukmantoro, Nyoman Gunarsa, hingga Srihadi Soedarsono. Instrumen pun bertransformasi menjadi kanvas kolaborasi.
Musisi Purwatjaraka melakukan hal serupa dengan pianonya. Dia menggandeng pelukis John Martono, menghasilkan instrumen yang penuh coretan warna. Piano itu tak hanya bisa dimainkan, tapi juga dipajang sebagai karya seni.
Kurator pameran, Efix Mulyadi, menjelaskan bahwa Nada Merupa memang berbeda dari pameran BBJ sebelumnya. “Kami ingin menampilkan ekspresi musisi dalam bahasa visual,” katanya. Karena itu, tema pameran dibiarkan cair di mana musisi bebas memilih apa yang ingin ditampilkan.
Menurut Efix, undangan diberikan kepada musisi yang memang aktif melukis. Tidak semua bisa ikut, namun terkumpul 16 musisi dengan karya orisinal. Ada pula Dewa Budjana yang terlibat sebagai kolektor, bukan pelukis.
Saat melihat karya yang terkumpul, Efix mengaku terkejut. Dia mendapati bahwa sebagian besar musisi bukan sekadar coba-coba, melainkan benar-benar piawai. Salah satu yang menonjol adalah Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
SBY menghadirkan dua karya, yakni Amazing Beach I Used to Enjoy dan Gaza, The Extreme Human Suffering. Keduanya dipajang terpisah karena menampilkan narasi yang kontras, dari keindahan pantai hingga tragedi perang.
Lukisan pantai hadir dengan gradasi hangat, sapuan cat minyak yang tebal membangun tekstur. Sebaliknya, karya Gaza berpalet biru kehitaman yang muram. Dua karya berbeda, lahir dari tangan yang sama.
“Lukisan ini merupakan ratapan yang tak berteriak. Ia mengajak kita menunduk, bukan karena kalah, tetapi karena sadar. Sadar bahwa kemanusiaan rapuh,” tulis SBY dalam catatannya.
Sujiwo Tejo, atau yang dikenal dengan nama Presiden Jancukers, juga menghadirkan karya bertajuk Pada Hari Minggu. Sekilas, lukisan itu mengingatkan pada Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan. Bedanya, objek yang dihadirkan adalah Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang sedang berboncengan.
Secara keseluruhan, Nada Merupa memperlihatkan bagaimana musisi mencari jalan lain untuk menyuarakan isi hati. Kanvas menjadi perpanjangan tangan ketika nada tak lagi cukup. Di sinilah musik dan rupa melebur.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Inilah Salah Sambung, lukisan karya Jason Ranti. Dalam pameran Nada Merupa di Bentara Budaya Jakarta (19–28 September 2025), karya ini tampil sebagai salah satu yang paling mencuri perhatian. Sederhana, absurd, tapi juga terasa bebas dari aturan-aturan seni yang kaku.
Baca juga: Bandung Photography Triennale 2025 Kembali Digelar, Soroti Fenomena Paska-Fotografis
Jason menuturkan, lukisan itu awalnya dibuat di Bandung, saat dia terlibat dalam produksi video klip Salah Display milik band Dongker. “Idenya spontan, mungkin bisa dibilang wangsit. Untuk nomor teleponnya bisa ditanyakan ke AI,” katanya sambil tertawa.
Humor khas Jason terasa kental dalam karya ini. Seperti lagunya Variasi Pink atau Suci Maksimal, dia lebih suka bicara jujur dengan bahasa yang sederhana. Lukisannya pun lahir dari spontanitas dan satir.
Namun Jason bukan satu-satunya musisi yang menaruh minat pada kanvas. Pameran ini menghadirkan 16 musisi perupa, dari Sujiwo Tejo, Arian 13, Jimi Multhazam, hingga Sam Bimbo. Nama-nama lain seperti Guruh Soekarno Putra, Heydi Ibrahim, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga ikut serta.

Pameran Nada Merupa di Bentara Budaya Jakarta, yang berlangsung pada 19–28 September 2025 (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Guruh Soekarno Putra adalah contoh klasik. Selain dikenal sebagai komponis, dia serius menekuni dunia melukis. Begitu pula Sam Bimbo, yang meski populer lewat panggung musik, tetap menghidupkan latar belakangnya sebagai lulusan Seni Rupa ITB.
“Musik hadir lewat nada, irama, dan ritme; sementara rupa lewat patung, lukisan, dan visual lain. Keduanya bertemu di ranah imajinasi,” ujar Ilham Khoiri, General Manager Bentara Budaya & Communication Management, Kompas Gramedia. Baginya, imajinasi adalah simpul yang menyatukan bunyi dan gambar.
Hubungan erat itu juga tercermin pada instrumen alat musik. Gitar Dewa Budjana, misalnya, pernah dilukis oleh maestro seni rupa seperti Jeihan Sukmantoro, Nyoman Gunarsa, hingga Srihadi Soedarsono. Instrumen pun bertransformasi menjadi kanvas kolaborasi.
Musisi Purwatjaraka melakukan hal serupa dengan pianonya. Dia menggandeng pelukis John Martono, menghasilkan instrumen yang penuh coretan warna. Piano itu tak hanya bisa dimainkan, tapi juga dipajang sebagai karya seni.
Kurator pameran, Efix Mulyadi, menjelaskan bahwa Nada Merupa memang berbeda dari pameran BBJ sebelumnya. “Kami ingin menampilkan ekspresi musisi dalam bahasa visual,” katanya. Karena itu, tema pameran dibiarkan cair di mana musisi bebas memilih apa yang ingin ditampilkan.
Lukisan 'Dua Presiden'
Menurut Efix, undangan diberikan kepada musisi yang memang aktif melukis. Tidak semua bisa ikut, namun terkumpul 16 musisi dengan karya orisinal. Ada pula Dewa Budjana yang terlibat sebagai kolektor, bukan pelukis.Saat melihat karya yang terkumpul, Efix mengaku terkejut. Dia mendapati bahwa sebagian besar musisi bukan sekadar coba-coba, melainkan benar-benar piawai. Salah satu yang menonjol adalah Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
SBY menghadirkan dua karya, yakni Amazing Beach I Used to Enjoy dan Gaza, The Extreme Human Suffering. Keduanya dipajang terpisah karena menampilkan narasi yang kontras, dari keindahan pantai hingga tragedi perang.
Lukisan pantai hadir dengan gradasi hangat, sapuan cat minyak yang tebal membangun tekstur. Sebaliknya, karya Gaza berpalet biru kehitaman yang muram. Dua karya berbeda, lahir dari tangan yang sama.
“Lukisan ini merupakan ratapan yang tak berteriak. Ia mengajak kita menunduk, bukan karena kalah, tetapi karena sadar. Sadar bahwa kemanusiaan rapuh,” tulis SBY dalam catatannya.

Lukisan Pada Hari Minggu (kiri) karya Sujiwo Tejo dalam pameran Nada Merupa di Bentara Budaya Jakarta, yang berlangsung pada 19–28 September 2025 (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Secara keseluruhan, Nada Merupa memperlihatkan bagaimana musisi mencari jalan lain untuk menyuarakan isi hati. Kanvas menjadi perpanjangan tangan ketika nada tak lagi cukup. Di sinilah musik dan rupa melebur.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.