Robi Navicula: Rock, Idealisme, dan Suara Lantang Krisis Iklim di Indonesia
22 September 2025 |
17:30 WIB
Di blantika musik Indonesia, nama Gede Robi Supriyanto sudah lekat dengan dua hal, rock yang lantang dan pesan lingkungan yang tajam. Namun, vokalis sekaligus motor Navicula itu tak sekadar bernyanyi, dia menjadikan panggung sebagai mimbar untuk menyuarakan krisis iklim.
Sejak awal berdiri tiga dekade lalu, Navicula memang punya napas berbeda. Di tengah tren band yang lebih sibuk mengejar pasar, mereka memilih jalur melawan arus, yakni tegas untuk bersuara akan isu-isu politik, sosial, dan lingkungan di Tanah Air.
"Aku merasa bahwa musik atau seni itu bukan hanya sekadar hiburan yang estetis. Tapi memang punya power yang lebih besar daripada itu sebagai media edukasi dan perubahan, untuk media landmark bagi sebuah zaman," katanya.
Baca Juga: Konferensi Musik Indonesia 2025 Siap Digelar, Jadi Ruang Dialog Kebijakan Strategis Kemenbud
Simak saja hits-hits mereka seperti "Mafia Hukum," "Metropolutan," atau "Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti." Ketiga lagu tersebut menyuarakan bagaimana musik bisa menjadi kritik sosial, alarm ekologis, sekaligus refleksi atas kegelisahan publik.
Titik tolok ini bermula saat dia berkenalan dengan musik rock n roll. Seperti Joni Mitchell yang mendanai Greenpeace pada dekade 70-an, Sepultura dengan kampanye hutan Amazon, Rage Against the Machine yang lantang soal ketidakadilan, sampai John Lennon dengan protes anti-perang.
Alhasil, saat membentuk Navicula pada 1996, Robi beserta kambratnya mulai getol menyuarakan isu-isu tersebut. Navicula juga tetap mengemasnya dalam warna musik dasar yang memengaruhi mereka, yaitu grunge yang dipadukan dengan musik alt-rock, blues, progresif, sampai kemasan etnik.
Tentu sikap ini membuatnya sering berbenturan dengan status quo dari industri musik. Sebab, industri ini kerap mereduksi musik jadi sekadar produk hiburan. Namun, Robi bersikukuh dengan tekadnya untuk terus menyuarakan hal-hal yang selama ini membuatnya gelisah.
"Musik adalah apa yang aku cintai, tapi isu-isu ini adalah apa yang aku pedulikan. Upaya yang aku lakukan sebenarnya menyambung tongkat estafet daripada apa yang mempengaruhiku sebagai seorang seniman," imbuhnya.
Tumbuh besar di Pulau Dewata, Bali, Robi sudah akrab dengan kesenian tradisi. Di sana, dia melihat bagaimana orang belajar bukan lewat buku, melainkan dari kidung, arsitektur, atau wayang. Dari situlah dia sadar, seni adalah bahasa yang paling mudah ditangkap masyarakat.
Lewat falsafah masyarakat Bali, Robi tidak hanya menyerap ajaran hidup, tetapi juga menemukan kerangka untuk menyeimbangkan antara idealisme dan kebutuhan dapur. Salah satunya dengan menerapkan filosofi Kama, Guna, dan Arta yang berakar dari ajaran Hindu serta memadukan nilai spiritual dengan keseharian.
Kama adalah passion dan idealisme, Arta berarti materi dan bisnis, sementara Guna adalah kreativitas. Tiga hal itu menurutnya harus berjalan beriringan. Dari sinilah dia mempraktikkannya dengan cara sederhana, yakni membuat lagu serius tapi tetap enak didengar.
“Idealisme dan bisnis bisa jalan apabila kamu cukup kreatif,” ucapnya. Prinsip itulah yang kelak menjadi pegangan dalam setiap proyek musik dan aktivismenya.
Bagi Robi musik memang ibarat makanan. Dia harus enak dulu, tapi juga bergizi. Artinya, kreativitaslah yang memastikan dua hal itu bisa berjalan beriringan, bahkan ditambah dengan nilai lain seperti keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Keseimbangan inilah yang kemudian mendorongnya melangkah lebih jauh, tidak hanya sebagai musisi, tetapi juga penggerak. Selain bekerja sebagai konsultan NGO, Robi terlibat dalam riset, advokasi pangan, hingga kampanye edukasi. Arkian, munculah gagasan untuk membentuk wadah kolektif yang lebih terorganisir.
Pada 2023, Robi menjadi salah satu inisiator The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab (IKLIM), sebuah kolektif yang menyuarakan kesadaran krisis iklim melalui musik dan seni. Lewat lokakarya, masyarakat diajak memahami isu-isu lingkungan, penyebab, dampak, sekaligus solusinya.
Bagi Robi, isu lingkungan bukan sekadar topik abstrak. Dia melihat krisis iklim nyata terasa dalam hidup sehari-hari, mulai dari tekanan ekonomi, kesehatan mental, hingga stres akibat polusi dan kemacetan. Semua itu, katanya, berakar pada persoalan lingkungan.
“Kalau ditarik benangnya, masalah ada di situ,” ujarnya. Robi menyinggung perang Rusia-Ukraina yang juga terkait isu energi, sampai pembukaan lahan hutan demi pangan yang justru memperburuk krisis iklim.
Sebagai musisi yang sering tampil di luar negeri, dia pun merasa aneh melihat industri kreatif Indonesia seolah abai pada isu ini. Padahal, deforestasi dan konflik adat bisa jadi bahan kuat untuk karya musik atau film, bahkan pernah diangkat oleh James Cameron lewat film Avatar.
"Karena itu, aku ingin mengajak teman-teman musisi untuk memadukan kepedulian dengan kecintaan kita pada musik, film, dan seni. Semua itu bisa menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan," katanya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Panas: Perubahan Iklim Picu Ledakan Kasus DBD dan TB
Sejak awal berdiri tiga dekade lalu, Navicula memang punya napas berbeda. Di tengah tren band yang lebih sibuk mengejar pasar, mereka memilih jalur melawan arus, yakni tegas untuk bersuara akan isu-isu politik, sosial, dan lingkungan di Tanah Air.
"Aku merasa bahwa musik atau seni itu bukan hanya sekadar hiburan yang estetis. Tapi memang punya power yang lebih besar daripada itu sebagai media edukasi dan perubahan, untuk media landmark bagi sebuah zaman," katanya.
Baca Juga: Konferensi Musik Indonesia 2025 Siap Digelar, Jadi Ruang Dialog Kebijakan Strategis Kemenbud
Simak saja hits-hits mereka seperti "Mafia Hukum," "Metropolutan," atau "Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti." Ketiga lagu tersebut menyuarakan bagaimana musik bisa menjadi kritik sosial, alarm ekologis, sekaligus refleksi atas kegelisahan publik.
Titik tolok ini bermula saat dia berkenalan dengan musik rock n roll. Seperti Joni Mitchell yang mendanai Greenpeace pada dekade 70-an, Sepultura dengan kampanye hutan Amazon, Rage Against the Machine yang lantang soal ketidakadilan, sampai John Lennon dengan protes anti-perang.
Alhasil, saat membentuk Navicula pada 1996, Robi beserta kambratnya mulai getol menyuarakan isu-isu tersebut. Navicula juga tetap mengemasnya dalam warna musik dasar yang memengaruhi mereka, yaitu grunge yang dipadukan dengan musik alt-rock, blues, progresif, sampai kemasan etnik.
Tentu sikap ini membuatnya sering berbenturan dengan status quo dari industri musik. Sebab, industri ini kerap mereduksi musik jadi sekadar produk hiburan. Namun, Robi bersikukuh dengan tekadnya untuk terus menyuarakan hal-hal yang selama ini membuatnya gelisah.
"Musik adalah apa yang aku cintai, tapi isu-isu ini adalah apa yang aku pedulikan. Upaya yang aku lakukan sebenarnya menyambung tongkat estafet daripada apa yang mempengaruhiku sebagai seorang seniman," imbuhnya.

Grup band Navicula saat beraksi di atas panggung (sumber gambar: Navicula)
Tumbuh besar di Pulau Dewata, Bali, Robi sudah akrab dengan kesenian tradisi. Di sana, dia melihat bagaimana orang belajar bukan lewat buku, melainkan dari kidung, arsitektur, atau wayang. Dari situlah dia sadar, seni adalah bahasa yang paling mudah ditangkap masyarakat.
Lewat falsafah masyarakat Bali, Robi tidak hanya menyerap ajaran hidup, tetapi juga menemukan kerangka untuk menyeimbangkan antara idealisme dan kebutuhan dapur. Salah satunya dengan menerapkan filosofi Kama, Guna, dan Arta yang berakar dari ajaran Hindu serta memadukan nilai spiritual dengan keseharian.
Kama adalah passion dan idealisme, Arta berarti materi dan bisnis, sementara Guna adalah kreativitas. Tiga hal itu menurutnya harus berjalan beriringan. Dari sinilah dia mempraktikkannya dengan cara sederhana, yakni membuat lagu serius tapi tetap enak didengar.
“Idealisme dan bisnis bisa jalan apabila kamu cukup kreatif,” ucapnya. Prinsip itulah yang kelak menjadi pegangan dalam setiap proyek musik dan aktivismenya.
Musik Bergizi
Bagi Robi musik memang ibarat makanan. Dia harus enak dulu, tapi juga bergizi. Artinya, kreativitaslah yang memastikan dua hal itu bisa berjalan beriringan, bahkan ditambah dengan nilai lain seperti keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Keseimbangan inilah yang kemudian mendorongnya melangkah lebih jauh, tidak hanya sebagai musisi, tetapi juga penggerak. Selain bekerja sebagai konsultan NGO, Robi terlibat dalam riset, advokasi pangan, hingga kampanye edukasi. Arkian, munculah gagasan untuk membentuk wadah kolektif yang lebih terorganisir.
Pada 2023, Robi menjadi salah satu inisiator The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab (IKLIM), sebuah kolektif yang menyuarakan kesadaran krisis iklim melalui musik dan seni. Lewat lokakarya, masyarakat diajak memahami isu-isu lingkungan, penyebab, dampak, sekaligus solusinya.
Bagi Robi, isu lingkungan bukan sekadar topik abstrak. Dia melihat krisis iklim nyata terasa dalam hidup sehari-hari, mulai dari tekanan ekonomi, kesehatan mental, hingga stres akibat polusi dan kemacetan. Semua itu, katanya, berakar pada persoalan lingkungan.
“Kalau ditarik benangnya, masalah ada di situ,” ujarnya. Robi menyinggung perang Rusia-Ukraina yang juga terkait isu energi, sampai pembukaan lahan hutan demi pangan yang justru memperburuk krisis iklim.
Sebagai musisi yang sering tampil di luar negeri, dia pun merasa aneh melihat industri kreatif Indonesia seolah abai pada isu ini. Padahal, deforestasi dan konflik adat bisa jadi bahan kuat untuk karya musik atau film, bahkan pernah diangkat oleh James Cameron lewat film Avatar.
"Karena itu, aku ingin mengajak teman-teman musisi untuk memadukan kepedulian dengan kecintaan kita pada musik, film, dan seni. Semua itu bisa menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan perubahan," katanya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Panas: Perubahan Iklim Picu Ledakan Kasus DBD dan TB
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.