Giulia Baccosi. (Sumber foto: Instagram/the.rolling.galley)

4 Bulan Terjebak di Laut, Perjalanan Tak Terduga Koki Italia di Kapal Kayu Avontuur

22 September 2025   |   18:31 WIB
Image
Aira Shakuntala Wardhana Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Dentuman kembang api Malam Tahun Baru 2019 baru saja mereda ketika ponsel Giulia Baccosi berbunyi. Wanita Italia berusia 31 tahun itu membaca sebuah tawaran singkat: menjadi koki di Avontuur, kapal kargo kayu berusia 100 tahun yang sedang bersiap menyeberangi Atlantik.

Menurut laporan BBC, dari balik layar ponselnya itulah Giulia melangkah ke perjalanan laut yang penuh keterasingan, ketakutan, sekaligus keindahan.

Baca juga: Memasak hingga Menulis Jurnal, Cek 4 Hobi Sederhana untuk Meredakan Stres

Tawaran pekerjaan sebagai koki di Avontuur muncul tiba-tiba, mengajak dia meninggalkan Italia, meninggalkan kenyamanan, untuk berlayar ke Amerika Tengah. Harapannya sederhana: tiga bulan, lalu pulang kembali. Tapi lautan punya caranya sendiri untuk merombak harapan. Di atas kapal kayu tua itu, Giulia memasak tiga kali sehari untuk 15 awak.

Setelah berlabuh sebentar di Santa Cruz de Tenerife dan turut merasakan kegembiraan karnaval, desas-desus tentang virus misterius mulai terdengar. Kegelisahan itu menjadi nyata ketika suatu hari Avontuur menemukan sebuah perahu nelayan kecil yang membawa 16 migran.

Mereka sudah terapung lebih dari sepuluh hari tanpa makanan, air, atau bahan bakar. Para pekerja migran ditolong, diberi bantuan, lalu dijemput penjaga pantai, tapi pengalaman itu menjadi penanda betapa rapuhnya kehidupan manusia di laut lepas.

Beberapa hari kemudian, pemilik kapal memberi kabar mengejutkan, seluruh dunia sedang dalam mode lockdown. Pelabuhan-pelabuhan ditutup, bandara tak beroperasi, perbatasan dijaga ketat. Rencana Giulia merapat di Meksiko menjadi mustahil.
 

Avontuur terus melaju ke Karibia, tetapi sebagian pelabuhan menolak kedatangan mereka. Ruang hidup di kapal menjadi sempit, udara kian pengap, dan waktu seperti terulur tanpa ujung.

Untuk menahan rasa bosan dan kecemasan, kru kapal melakukan banyak hal kreatif: menggambar, bermain musik, bahkan memulai hubungan romantis antar awak. Alam jadi hiburan tak terduga. Lumba-lumba yang berenang ke permukaan, ikan terbang menjauh di senja, bahkan paus minke yang memancarkan cahaya bioluminesen yang misterius dan indah, silih berganti dengan bau “sea farts”, begitu Giulia menggambarkannya.

Tantangan fisik dan emosional kian berat persediaan makanan menipis, kopi dikuota, hingga gas untuk memasak yang hampir habis. Di titik kritis itu, mereka membuat slow cooker darurat dari kotak kayu, busa, dan mat yoga. Ajaibnya, sup yang dihasilkan menjadi salah satu yang paling berkesan yang pernah Giulia masak.

Di tengah badai yang mengancam dan laut yang tak bersahabat, mereka tetap bertahan, berlayar hingga mencapai perairan Newfoundland, Kanada.

Pada Juni 2020, setelah empat setengah bulan terjebak dalam keadaan penuh ketidakpastian di laut, Avontuur akhirnya tiba di Azores, Portugal. Setelah melakukan tes Covid-19, kru diizinkan turun. Bagi Giulia, momen itu adalah letupan emosi yang tak pernah ia bayangkan. Keinginan sederhana seperti melihat bunga, merasakan tanah di bawah kaki, masuk bar, bahkan memilih belokan di jalan, yang dulu dianggap remeh semua jadi berarti.

Keputusan impulsif di malam pesta Tahun Baru 2019 yang semula hanya sebuah petualangan singkat telah membawa Giulia pada perjalanan yang penuh solidaritas, ketakutan, keindahan, dan perubahan. Lautan yang luas menguji batas dirinya, tetapi juga menawarkan pelajaran tentang kemanusiaan, kebersamaan, dan harapan.

Ketika dentuman kembang api mengumandangkan awal tahun, siapa sangka sebuah pesan singkat akan menuntun Giulia ke laut yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang biasa ia kenal. Bukan pesta atau kerumunan, melainkan ombak, angin, kecemasan, dan keindahan luar biasa.

Tapi dari semua pengalaman itu, ia belajar satu hal: bahwa dalam keterasingan pun, manusia bisa menemukan kehangatan jika berani melangkah ke pelayaran yang tak terduga.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Fenomena Job Hugging, Saat Karyawan Bertahan untuk Cari Aman

BERIKUTNYA

Robi Navicula: Rock, Idealisme, dan Suara Lantang Krisis Iklim di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga