Ilustrasi Remaja (Sumber Foto: Freepik)

FOMO dan Adiksi Digital Ancam Kesehatan Mental Generasi Muda

20 September 2025   |   14:06 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah derasnya arus informasi dan konektivitas tanpa batas, manusia di era digital sering kali dituntut untuk selalu hadir dan terhubung. FOMO alias fear of missing out menjadi fenomena yang tak dapat dihindari. Namun, di balik nyala layar dan notifikasi yang tak henti berbunyi, ada sisi rapuh yang kerap terlupakan, yakni kesehatan mental.  

Berdasarkan laporan terbaru dari situs layanan manajemen media sosial We Are Social mengungkapkan, jumlah pengguna internet dunia mencapai 5,56 miliar pengguna di 2025. Sementara total jumlah populasi di awal 2025 mencapai 8,2 miliar.

Menurut data UNICEF, setiap setengah detik seorang anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di Indonesia, jumlah pengguna internet telah mencapai 221 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi. Menariknya, 9,17 persen dari mereka berusia di bawah 12 tahun, menjadikan generasi muda semakin rentan terhadap ancaman siber.

Baca Juga: Terkoneksi di Dunia Nyata & Maya, Ini Tantangan Orang Tua Mendampingi Anak di Era Digital

Psikiater RS Medistra, Adhi Wibowo Nurhidayat, menjelaskan bahwa fenomena adiksi digital kini makin nyata dan semakin sering ditemui dalam praktik klinis. Dia menyoroti berbagai bentuk perilaku bermasalah yang muncul akibat penggunaan teknologi berlebihan, mulai dari kecanduan game, judi online, pornografi, hingga pinjaman online.

“Adiksi digital bisa memicu perilaku ekstrem. Bahkan, ada kasus di Amerika Serikat ketika seorang anak muda yang terlalu menjiwai karakter Sonic the Hedgehog akhirnya mengalami gangguan kepribadian. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dunia maya pada kesehatan mental,” ujar Adhi.

Adiksi digital tidak bisa dianggap enteng atau hanya sekadar kebiasaan buruk. Ini dapat mengganggu fungsi hidup seseorang. Dalam banyak kasus, dapat membuat individu kehilangan kendali, mengabaikan tanggung jawab, hingga menimbulkan masalah sosial maupun akademik.

“Kalau sudah sampai merusak aktivitas sehari-hari, mengganggu sekolah, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, itu bukan lagi sekadar hobi. Itu sudah masuk kategori adiksi,” tegasnya.

Adhi mencontohkan, kecanduan game online bisa membuat remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar hingga melupakan makan, tidur, bahkan interaksi dengan keluarga. 

Sementara kecanduan media sosial sering kali membuat seseorang sulit melepaskan diri dari ponsel, terus-menerus mencari notifikasi, komentar, atau like sebagai bentuk validasi diri.
 

Remaja dalam Pusaran Teknologi

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebut bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen lainnya sudah mengakses internet. Apabila dirinci per kelompok usianya, maka terdapat 5,88 persen anak di bawah usia 1 tahun yang sudah menggunakan telepon genggam/gawai dan 4,33 persen anak di bawah usia tahun yang mengakses internet pada 2024.

Kemudian, terdapat 37,02 persen anak usia 1-4 tahun dan 58,25 persen anak usia 5-6 tahun yang menggunakan telepon genggam, sedangkan 33,80 persen anak usia 1-4 tahun dan 51,19 persen yang berusia 5-6 tahun tercatat telah mengakses internet. Bahkan, di wilayah tertinggal, anak usia 13-14 tahun sudah kecanduan mengakses media sosial.

Co-Founder layanan psikologi Arsanara, Farraas Afiefah Muhdiar, menambahkan bahwa remaja adalah kelompok paling rentan dalam menghadapi dampak negatif teknologi. Hal ini, lantaran masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan identitas, karenanya sering kali mereka mencari validasi dari lingkungan sekitar.

“Media sosial kerap menjadi ruang penuh tekanan bagi anak muda. Remaja sering terjebak dalam budaya membandingkan diri. Mereka melihat kehidupan figur publik atau influencer yang tampak sempurna, lalu merasa hidupnya tidak cukup baik. Itu bisa memicu kecemasan bahkan depresi,” kata Farraas.

Terlebih dengan data penetrasi internet di Indonesia yang mencapai lebih dari 80 persen. Artinya, sebagian besar remaja sudah memiliki akses ke internet, baik melalui ponsel pintar maupun perangkat lainnya. 

Kemudahan akses ini memang membuka peluang untuk belajar dan berkembang, tetapi juga membuka pintu bagi risiko paparan konten negatif dan perilaku adiktif.

Dampak psikologis dari penggunaan media sosial berlebihan sangat beragam. Selain kecemasan dan depresi, ada juga gejala gangguan tidur, menurunnya kepercayaan diri, hingga meningkatnya perasaan kesepian.

Sering kali remaja merasa dekat dengan orang-orang yang mereka ikuti di media sosial, tapi pada kenyataannya mereka tidak memiliki ikatan nyata. Ini menciptakan paradoks: semakin terkoneksi secara digital, semakin merasa kesepian di dunia nyata.

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya cyberbullying yang semakin marak di ruang digital. Bagi remaja yang belum matang secara emosional, pengalaman menjadi korban perundungan daring dapat meninggalkan luka psikologis mendalam.

Baik Adhi maupun Farraas menekankan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Yang membuatnya membawa dampak positif atau negatif adalah bagaimana pengguna mengelolanya. 

Literasi digital perlu terus digalakkan, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan rumah. Menurutnya, remaja perlu diajarkan bagaimana memilah informasi, mengatur waktu penggunaan gawai, serta menyadari batas antara dunia nyata dan dunia maya.

“Teknologi itu netral, tapi penggunaannya yang menentukan. Kalau tidak bijak, justru bisa berbahaya. Karena itu, upaya pencegahan dan edukasi harus dilakukan bersama-sama,” ujar Adhi.

Farraas menambahkan, pendampingan keluarga menjadi faktor penting untuk mencegah terjadinya masalah mental akibat paparan digital. Orang tua perlu lebih peka. Jangan hanya membelikan gawai, tapi juga mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak. 

"Komunikasi yang terbuka dan kehadiran orang tua sehari-hari akan membantu kehidupan remaja lebih seimbang,” ujar Farraas.

Meski teknologi membawa banyak manfaat, risiko kesehatan mental, khususnya bagi remaja, tidak boleh diabaikan. Dengan literasi digital yang baik, pendampingan keluarga, dan kesadaran kolektif, teknologi bisa menjadi sarana yang mendukung tumbuh kembang remaja.

Baca Juga: Doomscrolling Bikin Stres, Hopescrolling Bisa Jadi Solusi Sehat di Era Digital

SEBELUMNYA

Dari Cecil Mariani hingga Nasirun, Cek 5 Karya Pilihan di Continuum Can’s Gallery

BERIKUTNYA

Jazz Goes to Campus Digelar 9 November 2025, Usung Tema Serenading Jazz for the Youth

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga