Terkoneksi di Dunia Nyata & Maya, Ini Tantangan Orang Tua Mendampingi Anak di Era Digital
11 September 2025 |
21:44 WIB
Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi membuat dunia anak dan temaja saat ini telah berada dalam fase transisi yang sangat dinamis. Terkhusus masa-masa remaja yang terbilang sebagai periode penting dalam pembentukan jati diri.
Pada era sekarang, mereka mengalami fase krisial ini di tengah kemajuan dunia digital yang tidak hanya menyediakan akses informasi saja, tetapi lebih jauh juga membentuk cara mereka berpikir, merasa, bahkan berinteraksi.
Baca juga: 5 Panduan Menjaga Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Setiap Tahapan Usia
Interaksi sosial yang dulunya bersifat lokal, terbatas pada teman sekolah, tetangga, atau keluarga kini telah meluas ke ruang maya. Platform media sosial, forum digital, dan game online telah menjadi tempat baru bagi remaja untuk membangun identitas sosial.
Educational Technology Integrationist SMIC Private School Hugo Indratno mengatakan bahwa interaksi anak dan remaja saat ini tidak hanya dengan dunia sekitar, tapi semuanya bisa dilakukan secara daring.
Pertumbuhan remaja kini tidak lagi bergantung semata pada lingkungan fisik. Menurut Hugo, dunia digital telah menjadi ruang baru yang membentuk mereka dari konten yang ditonton, akun yang diikuti, hingga komentar yang mereka terima. “Ini semua ikut menyusun pengalaman mereka dalam memahami diri dan dunia,” katanya.
Data BPS 2023-2024 menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan internet di kalangan anak dan remaja. Usia 13-15 tahun telah tercatat sebagai salah satu kelompok dengan pertumbuhan akses tertinggi.
Dalam usianya yang masih mencari arah dan stabilitas emosional, remaja tidak hanya menggunakan internet untuk hiburan. Mereka menggunakannya sebagai medium untuk belajar, berekspresi, dan membangun relasi. Aktivitas seperti pembelajaran daring, pembuatan konten, penjualan jasa, hingga pencarian informasi dan berita sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, pendampingan yang minim atau ketiadaan arahan dapat menempatkan remaja pada risiko paparan informasi yang salah, cyberbullying, serta kecanduan gadget. Tak sedikit kasus di mana remaja merasa tertekan oleh ekspektasi sosial di dunia maya. Mereka juga terdampak kehilangan waktu tidur yang berkualitas, hingga mengalami kecemasan karena algoritma platform yang terus membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain.
Tantangan yang datang dari efek algoritma media sosial juga perlu digarsbawahi. Apa yang mereka lihat dan konsumsi sering kali bukan hasil pencarian secara sadar, melainkan hasil dari preferensi yang sudah dibentuk oleh sistem algoritma. Hal ini secara tidak langsung membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri, nilai hidup, bahkan cita-cita.
Dalam pandangan Hugo, ketika dunia remaja melebur dengan dunia digital, kebutuhan akan literasi digital dan kewarganegaraan digital menjadi mendesak. Literasi digital ini menyangkut bagaimana memilah informasi, memahami konteks, dan berpikir kritis terhadap konten yang dikonsumsi. Sedangkan kewarganegaraan digital berkaitan dengan bagaimana bersikap etis, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain di ruang digital, sama seperti di dunia nyata.
Pemahaman ini harus ditanamkan tidak hanya kepada remaja, tetapi juga kepada orang tua dan pendamping mereka. “Paling tidak anak kita harus bisa kita ajak dialog,” katanya. Komunikasi terbuka menjadi kunci utama agar remaja merasa aman untuk bercerita, mengadu, dan mencari arahan saat mereka merasa tersesat atau tertekan dalam dunia digital yang serba cepat ini.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah gap digital antara orang tua dan remaja. Banyak orang tua yang tidak memahami istilah-istilah atau platform yang digunakan anaknya. Oleh karena itu, pendekatan terbaik bukanlah dengan melarang atau mengekang, tetapi dengan ikut terlibat secara aktif dan bijak.
Orang tua juga disebut Hugo perlu memahami konten, game, dan aplikasi yang sedang tren. Ini membantu orang tua memahami pandangan anak, sehingga mampu melakukan pendekatan dialog. Tentu saja, ini pun membantu orang tua memahami bahwa dunia remaja berbeda dengan masa kecil orang tuanya.
Baca juga: Gadget Ancam Tumbuh Kembang? Ini Kata Dokter Spesialis Anak
Pada era sekarang, mereka mengalami fase krisial ini di tengah kemajuan dunia digital yang tidak hanya menyediakan akses informasi saja, tetapi lebih jauh juga membentuk cara mereka berpikir, merasa, bahkan berinteraksi.
Baca juga: 5 Panduan Menjaga Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Setiap Tahapan Usia
Interaksi sosial yang dulunya bersifat lokal, terbatas pada teman sekolah, tetangga, atau keluarga kini telah meluas ke ruang maya. Platform media sosial, forum digital, dan game online telah menjadi tempat baru bagi remaja untuk membangun identitas sosial.
Educational Technology Integrationist SMIC Private School Hugo Indratno mengatakan bahwa interaksi anak dan remaja saat ini tidak hanya dengan dunia sekitar, tapi semuanya bisa dilakukan secara daring.
Pertumbuhan remaja kini tidak lagi bergantung semata pada lingkungan fisik. Menurut Hugo, dunia digital telah menjadi ruang baru yang membentuk mereka dari konten yang ditonton, akun yang diikuti, hingga komentar yang mereka terima. “Ini semua ikut menyusun pengalaman mereka dalam memahami diri dan dunia,” katanya.
Data BPS 2023-2024 menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan internet di kalangan anak dan remaja. Usia 13-15 tahun telah tercatat sebagai salah satu kelompok dengan pertumbuhan akses tertinggi.
Dalam usianya yang masih mencari arah dan stabilitas emosional, remaja tidak hanya menggunakan internet untuk hiburan. Mereka menggunakannya sebagai medium untuk belajar, berekspresi, dan membangun relasi. Aktivitas seperti pembelajaran daring, pembuatan konten, penjualan jasa, hingga pencarian informasi dan berita sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, pendampingan yang minim atau ketiadaan arahan dapat menempatkan remaja pada risiko paparan informasi yang salah, cyberbullying, serta kecanduan gadget. Tak sedikit kasus di mana remaja merasa tertekan oleh ekspektasi sosial di dunia maya. Mereka juga terdampak kehilangan waktu tidur yang berkualitas, hingga mengalami kecemasan karena algoritma platform yang terus membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain.
Tantangan yang datang dari efek algoritma media sosial juga perlu digarsbawahi. Apa yang mereka lihat dan konsumsi sering kali bukan hasil pencarian secara sadar, melainkan hasil dari preferensi yang sudah dibentuk oleh sistem algoritma. Hal ini secara tidak langsung membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri, nilai hidup, bahkan cita-cita.
Dalam pandangan Hugo, ketika dunia remaja melebur dengan dunia digital, kebutuhan akan literasi digital dan kewarganegaraan digital menjadi mendesak. Literasi digital ini menyangkut bagaimana memilah informasi, memahami konteks, dan berpikir kritis terhadap konten yang dikonsumsi. Sedangkan kewarganegaraan digital berkaitan dengan bagaimana bersikap etis, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain di ruang digital, sama seperti di dunia nyata.
Pemahaman ini harus ditanamkan tidak hanya kepada remaja, tetapi juga kepada orang tua dan pendamping mereka. “Paling tidak anak kita harus bisa kita ajak dialog,” katanya. Komunikasi terbuka menjadi kunci utama agar remaja merasa aman untuk bercerita, mengadu, dan mencari arahan saat mereka merasa tersesat atau tertekan dalam dunia digital yang serba cepat ini.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah gap digital antara orang tua dan remaja. Banyak orang tua yang tidak memahami istilah-istilah atau platform yang digunakan anaknya. Oleh karena itu, pendekatan terbaik bukanlah dengan melarang atau mengekang, tetapi dengan ikut terlibat secara aktif dan bijak.
Orang tua juga disebut Hugo perlu memahami konten, game, dan aplikasi yang sedang tren. Ini membantu orang tua memahami pandangan anak, sehingga mampu melakukan pendekatan dialog. Tentu saja, ini pun membantu orang tua memahami bahwa dunia remaja berbeda dengan masa kecil orang tuanya.
Baca juga: Gadget Ancam Tumbuh Kembang? Ini Kata Dokter Spesialis Anak
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.