Co-Founder and Chief Executive Officer Agate Shieny Aprilia saat berbincang dengan Hypeabis.id dalam acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (18/9/2025). (Sumber foto: Eusobio Chrysnamurti/Hypeabis.id)

CEO Agate Bongkar Alasan Developer Lokal Cuma Dapat 1% Pangsa Pasar Gim di Tanah Air

18 September 2025   |   19:39 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Indonesia menjadi salah satu pasar gim yang cukup potensial di dunia dengan 3,37 miliar unduhan gim pada 2022. Namun sayangnya, pengembang lokal hanya mampu merebut kurang dari 1 persen dari total nilai pasar yang diperkirakan mencapai US$2 miliar per tahun menurut laporan bertajuk The State of Indonesia’s Game Industry yang disusun Agate. 

Angka ini lantas memicu pertanyaan krusial, mengapa potensi pasar yang begitu besar tidak dinikmati oleh para kreator lokal? Co-Founder and Chief Executive Officer Agate Shieny Aprilia menyampaikan salah satu alasan di balik fenomena ini adalah ketidakcocokan antara preferensi pasar dan model bisnis yang dianut developer lokal. 

Baca juga: Agate Galang Dana Untuk Perkuat Posisi di Pasar Gim Global

Mayoritas pemain gim di Indonesia menggunakan perangkat mobile dan lebih menyukai gim dengan model free-to-play. Sementara itu, banyak pengembang lokal yang lebih memilih membuat gim berbayar di platform PC atau konsol, yang memiliki basis pengguna lebih besar di luar negeri.

“Market di Indonesia belum ter-educate untuk spending produk digital, yang apalagi pricingnya kan masih ikutin pricing global,” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id dalam acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (18/9/2025). 
 

Co-Founder and Chief Executive Officer Agate Shieny Aprilia saat berbincang dengan Hypeabis.id dalam acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (18/9/2025). (Sumber foto: Eusobio Chrysnamurti/Hypeabis.id)

Co-Founder and Chief Executive Officer Agate Shieny Aprilia saat berbincang dengan Hypeabis.id dalam acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (18/9/2025). (Sumber foto: Eusobio Chrysnamurti/Hypeabis.id)

Lanskap gim free-to-play menurut Shieny juga memiliki risiko yang cukup besar. Butuh kemampuan perencanaan yang matang untuk akhirnya bisa memonetisasi gim tersebut. Bagaimana gamer terus memainkan gim dan akhirnya mau mengeluarkan uang untuk membeli item yang dijual di dalam gim.

Sementara dari pengembangan gim, tentu butuh dana yang lebih besar daripada PC atau konsol. Akhirnya, developer lokal seperti Agate memilih untuk menyasar market yang lebih jelas, yakni pasar global dengan menelurkan gim PC atau konsol.

Masih soal pengembangan, untuk membuat game mobile yang digemari masyarakat Indonesia saat ini, butuh dana yang besar dengan tingkat kesuksesan yang minim. “Misal develop 10, baru 1 sukses, definisi sukses misalnya, at least balik modal dulu. Kalau PC console mungkin untuk balik modal aja sih, bisa jadi sukses rate-nya 5 dari 10 atau lebih, jadi kayak dari sisi chance-nya tuh jauh lebih tinggi,” jelas Shieny.

Tidak dipungkiri, isu pendanaan menjadi tantangan utama yang dihadapi pengembang gim lokal saat ini yang masih mengandalkan modal pribadi dan sumber asing.Pemerintah Indonesia sebenarnya telah menunjukkan inisiatif positif dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Pengembangan Industri Gim Nasional. 

Peraturan ini mencakup berbagai hal, termasuk skema pendanaan melalui Indonesia Game Fund.  Sayangnya, implementasi di lapangan masih terasa lambat. Oleh karena itu, Shieny berharap agar skema pendanaan ini dapat direalisasikan.

Pemerintah bisa mencontoh praktik pendanaan industri gim yang sudah berhasil di negara lain, seperti Australia. Di sana, pemerintah mendanai proyek gim melalui sistem proposal yang dikurasi oleh komite ahli. "Sistem itu mengharuskan pengembang untuk memiliki dana tandingan, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada pemerintah," jelasnya. 

Dengan catatan, developer gim juga memastikan tanggung jawabnya ketika mendapat pendanaan. Skema ini telah terbukti efektif selama puluhan tahun, menumbuhkan talenta lokal, dan menghasilkan gim-gim mendunia.

Baca juga: Agate Dorong Pengembangan Game AA dan Game AAA di Indonesia

Selain pendanaan, Shieny menekankan pentingnya pengembangan talenta. Walaupun kualitas gim lokal terus meningkat, jumlah pengembang dengan kapabilitas tinggi masih terbatas. "Kita butuh lebih banyak lagi success story,” tegasnya.

Keberhasilan satu gim dapat memicu efek domino, menarik lebih banyak investor dan talenta untuk terjun ke industri ini. Agate sebagai developer lokal juga terus berinovasi agar para investor tertarik dengan industri gim lokal. 

Salah satu gim terbaru dari Agate adalah Riftstorm, gim bergenre liter-Scooter hasil kolaborasi dengan Confiction Labs. Gim senilai Rp100 miliar yang melibatkan 120 tenaga lokal ini berhasil mencapai peringkat 46 besar dari 2.600 gim di Steam Next Fest global, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi gim lokal. 
 

SEBELUMNYA

JICAF 2025, Ketika Seni Hadir Sebagai Pelipur Lara

BERIKUTNYA

Perjalanan Startup Ringkas Sampai Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga