Torch Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025, Makin Banyak Dilirik Investor
19 September 2025 |
09:30 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap investasi startup di Asia Tenggara mengalami pergeseran. Jika sebelumnya modal ventura lebih banyak menyasar sektor tech enabler yang menciptakan dan menyediakan teknologi seperti fintech atau platform digital, kini perhatian mulai bergeser ke tech-enabled consumer.
Startup tech-enabled consumer merupakan perusahaan rintisan berbasis produk konsumsi yang didukung oleh kecanggihan teknologi. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya investor yang mencari peluang di sektor konsumen. Saat "tech winter" melanda pada 2022–2023 dan pertumbuhan startup teknologi melambat, sektor ini justru tetap menunjukkan resiliensi.
Model ini dinilai lebih menjanjikan karena menawarkan produk nyata yang dekat dengan kebutuhan konsumen, sekaligus memiliki skala pertumbuhan yang lebih cepat berkat dukungan teknologi.
Mulai dari sektor fesyen, makanan dan minuman (F&B), hingga kecantikan, tech-enabled consumer startup membuktikan bahwa inovasi tak melulu soal aplikasi digital, tapi juga bagaimana produk sehari-hari bisa dioptimalkan lewat data, ecommerce, dan strategi pemasaran digital.
Baca juga: Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025
Salah satu contohnya datang dari Torch, brand lokal asal Bandung yang berfokus pada travel gear dan lifestyle. Torch bahkan berhasil masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025, daftar bergengsi yang menyoroti startup paling menjanjikan di Asia. Prestasi ini membuktikan produk berbasis konsumen, bila dipadukan dengan strategi digital yang tepat, dapat bersaing di tingkat global.
Co-Founder sekaligus CEO Torch, Ben Wirawan, menyebut bahwa konsep tech-enabled consumer startup berbeda dengan startup digital murni. “Kalau bicara brand seperti kita, Torch ini adalah tech-enabled startup, artinya brand yang di-enable oleh teknologi,” katanya saat berbincang dengan Hypeabis.id.
Ben menambahkan sejak awal didirikan pada 2015 lalu, Torch memilih jalan bootstrap tanpa pendanaan eksternal dan investor. Hingga akhirnya pada 2024, Torch mendapatkan pendanaan dari Init 6, firma investasi milik Co-founder Bukalapak, Achmad Zaky yang mendukung perusahaan masuk ke dalam tahap scale-up. Ketika itu tech winter mulai melanda sehingga banyak investor yang mulai melirik sektor non-fintech.
“Kami menggunakan pendanaan ini untuk membuka toko O2O, mengembangkan cloud store, hingga bereksperimen dengan berbagai strategi pemasaran baru untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang mulai memasuki tahap scale up,” ujar Co-Founder dan CEO Torch, Ben Wirawan.
Pria lulusan ITB ini menyebutkan bahwa kunci kesuksesan brand-nya ada pada konsistensi membangun produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan.
“Kami percaya teknologi bisa menjadi akselerator bagi brand lokal. Dengan data, e-commerce, dan digital marketing, produk bisa lebih cepat dikenal dan lebih mudah diterima pasar internasional,” ungkapnya.
Bagi Torch, masuknya mereka ke daftar Forbes 100 Asian to Watch 2025 menjadi semacam validasi sekaligus wake-up call bahwa tech-enabled consumer startup Indonesia siap menjadi pemain global.
“Ini afirmasi bagi kami. Forbes seolah bilang, ‘Halo, kamu sudah masuk ke fase scale-up, segera siapkan organisasi, teknologi, dan sumber daya manusia untuk melangkah lebih jauh,” tuturnya.
Bahkan setelah pengumuman tersebut, Ben mengakui banyak venture capital yang menawarkan peluang kerja sama. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sektor consumer di Indonesia semakin tinggi. “Investor kini sadar bahwa uang harus disalurkan ke industri yang tetap tumbuh, dan sektor consumer adalah jawabannya,” jelasnya.
Sementara Hanafi, Co-founder Torch menilai masuknya Torch ke daftar tersebut bersama 8 startup Indonesia lainnya menjadi pengingat bahwa perjalanan bisnis mereka sudah sampai pada tahap penting. Menurutnya, setelah berhasil berkembang di Indonesia, Torch harus bersiap melangkah ke pasar internasional.
“Ini baru langkah awal. Setelah mendapat pengakuan di Indonesia, tantangannya adalah membawa brand ini ke level global,” ujarnya.
Dengan target pendapatan ambisius hingga US$70 juta pada 2029, Torch berencana memperkuat posisinya di pasar domestik sebelum mengekspansi ke luar negeri.
Baca juga: Voice of Baceprot & Mahalini Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2024
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Startup tech-enabled consumer merupakan perusahaan rintisan berbasis produk konsumsi yang didukung oleh kecanggihan teknologi. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya investor yang mencari peluang di sektor konsumen. Saat "tech winter" melanda pada 2022–2023 dan pertumbuhan startup teknologi melambat, sektor ini justru tetap menunjukkan resiliensi.
Model ini dinilai lebih menjanjikan karena menawarkan produk nyata yang dekat dengan kebutuhan konsumen, sekaligus memiliki skala pertumbuhan yang lebih cepat berkat dukungan teknologi.
Mulai dari sektor fesyen, makanan dan minuman (F&B), hingga kecantikan, tech-enabled consumer startup membuktikan bahwa inovasi tak melulu soal aplikasi digital, tapi juga bagaimana produk sehari-hari bisa dioptimalkan lewat data, ecommerce, dan strategi pemasaran digital.
Baca juga: Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025
Salah satu contohnya datang dari Torch, brand lokal asal Bandung yang berfokus pada travel gear dan lifestyle. Torch bahkan berhasil masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025, daftar bergengsi yang menyoroti startup paling menjanjikan di Asia. Prestasi ini membuktikan produk berbasis konsumen, bila dipadukan dengan strategi digital yang tepat, dapat bersaing di tingkat global.
Co-Founder sekaligus CEO Torch, Ben Wirawan, menyebut bahwa konsep tech-enabled consumer startup berbeda dengan startup digital murni. “Kalau bicara brand seperti kita, Torch ini adalah tech-enabled startup, artinya brand yang di-enable oleh teknologi,” katanya saat berbincang dengan Hypeabis.id.
Ben menambahkan sejak awal didirikan pada 2015 lalu, Torch memilih jalan bootstrap tanpa pendanaan eksternal dan investor. Hingga akhirnya pada 2024, Torch mendapatkan pendanaan dari Init 6, firma investasi milik Co-founder Bukalapak, Achmad Zaky yang mendukung perusahaan masuk ke dalam tahap scale-up. Ketika itu tech winter mulai melanda sehingga banyak investor yang mulai melirik sektor non-fintech.
“Kami menggunakan pendanaan ini untuk membuka toko O2O, mengembangkan cloud store, hingga bereksperimen dengan berbagai strategi pemasaran baru untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang mulai memasuki tahap scale up,” ujar Co-Founder dan CEO Torch, Ben Wirawan.
Pria lulusan ITB ini menyebutkan bahwa kunci kesuksesan brand-nya ada pada konsistensi membangun produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, sekaligus memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan.
“Kami percaya teknologi bisa menjadi akselerator bagi brand lokal. Dengan data, e-commerce, dan digital marketing, produk bisa lebih cepat dikenal dan lebih mudah diterima pasar internasional,” ungkapnya.
Bagi Torch, masuknya mereka ke daftar Forbes 100 Asian to Watch 2025 menjadi semacam validasi sekaligus wake-up call bahwa tech-enabled consumer startup Indonesia siap menjadi pemain global.
“Ini afirmasi bagi kami. Forbes seolah bilang, ‘Halo, kamu sudah masuk ke fase scale-up, segera siapkan organisasi, teknologi, dan sumber daya manusia untuk melangkah lebih jauh,” tuturnya.
Bahkan setelah pengumuman tersebut, Ben mengakui banyak venture capital yang menawarkan peluang kerja sama. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap sektor consumer di Indonesia semakin tinggi. “Investor kini sadar bahwa uang harus disalurkan ke industri yang tetap tumbuh, dan sektor consumer adalah jawabannya,” jelasnya.
Sementara Hanafi, Co-founder Torch menilai masuknya Torch ke daftar tersebut bersama 8 startup Indonesia lainnya menjadi pengingat bahwa perjalanan bisnis mereka sudah sampai pada tahap penting. Menurutnya, setelah berhasil berkembang di Indonesia, Torch harus bersiap melangkah ke pasar internasional.
“Ini baru langkah awal. Setelah mendapat pengakuan di Indonesia, tantangannya adalah membawa brand ini ke level global,” ujarnya.
Dengan target pendapatan ambisius hingga US$70 juta pada 2029, Torch berencana memperkuat posisinya di pasar domestik sebelum mengekspansi ke luar negeri.
Baca juga: Voice of Baceprot & Mahalini Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2024
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.