Saat Karya Seni Merekatkan Pesan Damai di SBY Art Community
17 September 2025 |
15:00 WIB
Ada kabar menggembirakan bagi para pencinta seni di Tanah Air. Pameran seni Art for Peace and Better Future dari SBY Art Community kini digelar di ASHTA District 8 Jakarta, menampilkan puluhan karya seniman lokal dan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga 5 Oktober 2025.
Sesuai judulnya, pameran ini mengajak seniman untuk menanggapi konsep kedamaian melalui karya-karya mereka. Pameran ini lahir sebagai respons para pekerja kreatif untuk menjadikan seni rupa sebagai jembatan inklusivitas, katalis perubahan, dan model gerakan damai bagi masyarakat global.
Presiden ke-6 RI sekaligus penggagas SBY Art Community, Susilo Bambang Yudhoyono, berharap pameran ini menjadi bentuk solidaritas para seniman dalam menjaga perdamaian. Indonesia, dengan bentang alamnya yang kaya, juga menjadi sumber inspirasi untuk menguatkan pesan tersebut.
“Melalui karya seni, kami ingin menunjukkan bahwa seniman peduli pada persoalan kehidupan, baik untuk bangsa kita maupun bangsa-bangsa di dunia,” ujar SBY dalam video teaser yang ditayangkan di ruang pamer.
Baca juga: Seniman Prabu Perdana Hadirkan Dialektika Lanskap di Vice & Virtue Gallery
Pameran ini merupakan kolaborasi SBY Art Community dengan empat institusi seni ternama: Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Institut Kesenian Jakarta, serta empat pelukis profesional independen.
Terdapat 30 lukisan dari 21 seniman yang berpartisipasi, ditambah sebuah lukisan kolaboratif seluruh anggota SBY Art Community. Lukisan kolaboratif ini bertajuk Destruction Ruins, Peace Paints, menggunakan media campuran dengan dimensi 250x700 cm, menampilkan lanskap dengan berbagai latar.
Di satu sisi kanvas, terlihat potret gunung dan persawahan hijau. Di sisi lain, ada gedung terbakar dan batang pohon patah. Di depannya, ranting pohon kering terhampar di atas perahu kuning, sementara seorang perempuan menunggang kuda menyaksikan pemandangan memilukan itu.
Namun, di seberangnya terlihat kontras: air terjun, pohon hijau, rusa, kolam ikan, bebatuan, dan hujan yang menyejukkan. Di antara elemen tersebut, terdapat tipografi bertuliskan Destruction Ruins. Peace Paints, karya seniman kontemporer Naufal Abshar.
SBY juga menampilkan lukisan berjudul Peace with Nature, yang menggambarkan berbagai fragmen keindahan alam. Dalam kanvas berdimensi 150x300 cm ini, SBY memadukan warna-warna vibrant dengan figur-figur alam seperti burung berkicau, ombak bergulung, gunung, dan hutan.
Selain itu, ada karya berjudul The Day God Tests Our Faith and Courage, yang merefleksikan tragedi smong di Aceh. Dengan sapuan cat minyak ekspresif dan nuansa biru yang dominan, lukisan ini menghadirkan dialog visual antara keindahan dan kehancuran, kekuatan alam dan kerentanan manusia.
Menurut Rizki A. Zaelani, salah satu kurator pameran, publik diharapkan dapat membayangkan peran ekspresi seni dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Para seniman pun diberi ruang untuk mengekspresikan nilai-nilai perdamaian dan bayangan tentang masa depan melalui karya mereka.
“Karya-karya yang dipamerkan ini lahir dari diskusi, lalu diterjemahkan menjadi ekspresi individual. Beberapa lukisan juga dikerjakan secara kolaboratif,” ujar Rizki.
Baca juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sesuai judulnya, pameran ini mengajak seniman untuk menanggapi konsep kedamaian melalui karya-karya mereka. Pameran ini lahir sebagai respons para pekerja kreatif untuk menjadikan seni rupa sebagai jembatan inklusivitas, katalis perubahan, dan model gerakan damai bagi masyarakat global.
Presiden ke-6 RI sekaligus penggagas SBY Art Community, Susilo Bambang Yudhoyono, berharap pameran ini menjadi bentuk solidaritas para seniman dalam menjaga perdamaian. Indonesia, dengan bentang alamnya yang kaya, juga menjadi sumber inspirasi untuk menguatkan pesan tersebut.
“Melalui karya seni, kami ingin menunjukkan bahwa seniman peduli pada persoalan kehidupan, baik untuk bangsa kita maupun bangsa-bangsa di dunia,” ujar SBY dalam video teaser yang ditayangkan di ruang pamer.
Baca juga: Seniman Prabu Perdana Hadirkan Dialektika Lanskap di Vice & Virtue Gallery
Pameran ini merupakan kolaborasi SBY Art Community dengan empat institusi seni ternama: Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Institut Kesenian Jakarta, serta empat pelukis profesional independen.
Terdapat 30 lukisan dari 21 seniman yang berpartisipasi, ditambah sebuah lukisan kolaboratif seluruh anggota SBY Art Community. Lukisan kolaboratif ini bertajuk Destruction Ruins, Peace Paints, menggunakan media campuran dengan dimensi 250x700 cm, menampilkan lanskap dengan berbagai latar.

Lukisan bertajuk “Destruction Ruins, Peace Paints” dalam pameran seni “Art for Peace and Better Future” dari SBY Art Community di ASHTA District 8 Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Namun, di seberangnya terlihat kontras: air terjun, pohon hijau, rusa, kolam ikan, bebatuan, dan hujan yang menyejukkan. Di antara elemen tersebut, terdapat tipografi bertuliskan Destruction Ruins. Peace Paints, karya seniman kontemporer Naufal Abshar.
SBY juga menampilkan lukisan berjudul Peace with Nature, yang menggambarkan berbagai fragmen keindahan alam. Dalam kanvas berdimensi 150x300 cm ini, SBY memadukan warna-warna vibrant dengan figur-figur alam seperti burung berkicau, ombak bergulung, gunung, dan hutan.
Selain itu, ada karya berjudul The Day God Tests Our Faith and Courage, yang merefleksikan tragedi smong di Aceh. Dengan sapuan cat minyak ekspresif dan nuansa biru yang dominan, lukisan ini menghadirkan dialog visual antara keindahan dan kehancuran, kekuatan alam dan kerentanan manusia.
Menurut Rizki A. Zaelani, salah satu kurator pameran, publik diharapkan dapat membayangkan peran ekspresi seni dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Para seniman pun diberi ruang untuk mengekspresikan nilai-nilai perdamaian dan bayangan tentang masa depan melalui karya mereka.
“Karya-karya yang dipamerkan ini lahir dari diskusi, lalu diterjemahkan menjadi ekspresi individual. Beberapa lukisan juga dikerjakan secara kolaboratif,” ujar Rizki.
Baca juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.