Seniman Prabu Perdana Hadirkan Dialektika Lanskap di Vice & Virtue Gallery
17 September 2025 |
06:30 WIB
Prabu Perdana, seniman asal Bandung, kembali menegaskan konsistensinya di kancah seni rupa lewat pameran tunggal bertajuk Lanskap di antara Dua Latar. Pameran ini diselenggarakan di Vice & Virtue Gallery dan berlangsung pada 13 September hingga 13 Oktober 2025.
Tema lanskap yang telah lama dia eksplorasi kembali menjadi pusat perhatian dalam pameran kali ini. Bagi Prabu, lanskap bukan sekadar panorama, melainkan ruang refleksi yang menyatukan realitas dan imajinasi.
Nama Prabu mulai banyak diperhitungkan sejak karyanya Isolated Garden meraih penghargaan UOB Painting of the Year 2020. Sejak itu, karya-karyanya tampil dalam berbagai pameran di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga merambah ke mancanegara.
Baca Juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
Karya-karya lukisan dalam koleksi pameran ini juga dipengaruhi oleh lingkungan studio tempatnya tinggal. Momen pandemi Covid-19 juga turut memengaruhi seniman paruh baya itu untuk sejenak berkontemplasi dan membuat karya-karya antara hubungan manusia dengan alam.
Dalam Lanskap di antara Dua Latar, Prabu menghadirkan dialektika visual antara lanskap perkotaan dan elemen tumbuhan. Gedung, konstruksi, serta panorama urban tampil sebagai latar yang kontras dengan bunga, ranting, dan dedaunan penuh warna di ruang depan kanvas.
Perpaduan ini menampilkan refleksi tentang kehidupan urban yang dinamis sekaligus dilematik. Di satu sisi, kota menjadi ruang hidup yang nyata, namun di sisi lain selalu ada kerinduan akan keseimbangan dengan alam.
UOB Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendukung penyelenggaraan pameran ini. Dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen mereka memperluas akses masyarakat terhadap seni rupa sekaligus mendukung perjalanan para seniman.
Maya Rizano, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, mengatakan sejak 2011 pihaknya konsisten mendukung lebih dari 750 seniman Indonesia, termasuk enam peraih penghargaan UOB Southeast Asian Painting of the Year.
“Dukungan terhadap pameran Prabu Perdana menegaskan komitmen kami dalam memperkaya ekosistem seni rupa, sekaligus menginspirasi seniman muda untuk terus berkarya,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Setali tiga uang, Founder Vice & Virtue Gallery, Wilian Robin, menyebut karya Prabu relevan dengan kehidupan masyarakat urban. Menurutnya, pameran ini juga memberi ruang refleksi tentang posisi manusia di tengah modernitas.
“Karya Prabu Perdana adalah jembatan antara pengalaman sehari-hari di kota dan kerinduan manusia pada alam,” ucapnya.
Pameran ini terbuka untuk umum setiap hari selama periode penyelenggaraan. Publik memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung perkembangan artistik Prabu yang terus berproses sejak awal kariernya di akhir 2000-an.
Sebagai tambahan informasi, Prabu Perdana merupakan seniman yang tinggal dan bekerja di Bandung. Dia telah memulai karier sebagai perupa sejak akhir 2000-an dengan rekam jejak pameran kelompok di dalam maupun luar negeri.
Beberapa di antaranya antara lain Mainkan di Gedung Kesenian Solo (2011), Hydro Pirate di UPT Galeri ISI Yogyakarta, Searching For Peace di Padi Artground, Bandung (2012), hingga Meta Amuk dan Pameran Nusantara 2013 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Baca Juga: Pameran Tokyo Before/After, Saat Fotografi Menangkap Perubahan Wajah Kota Jepang
Tema lanskap yang telah lama dia eksplorasi kembali menjadi pusat perhatian dalam pameran kali ini. Bagi Prabu, lanskap bukan sekadar panorama, melainkan ruang refleksi yang menyatukan realitas dan imajinasi.
Nama Prabu mulai banyak diperhitungkan sejak karyanya Isolated Garden meraih penghargaan UOB Painting of the Year 2020. Sejak itu, karya-karyanya tampil dalam berbagai pameran di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga merambah ke mancanegara.
Baca Juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi
Karya-karya lukisan dalam koleksi pameran ini juga dipengaruhi oleh lingkungan studio tempatnya tinggal. Momen pandemi Covid-19 juga turut memengaruhi seniman paruh baya itu untuk sejenak berkontemplasi dan membuat karya-karya antara hubungan manusia dengan alam.
Dalam Lanskap di antara Dua Latar, Prabu menghadirkan dialektika visual antara lanskap perkotaan dan elemen tumbuhan. Gedung, konstruksi, serta panorama urban tampil sebagai latar yang kontras dengan bunga, ranting, dan dedaunan penuh warna di ruang depan kanvas.
Perpaduan ini menampilkan refleksi tentang kehidupan urban yang dinamis sekaligus dilematik. Di satu sisi, kota menjadi ruang hidup yang nyata, namun di sisi lain selalu ada kerinduan akan keseimbangan dengan alam.
UOB Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendukung penyelenggaraan pameran ini. Dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen mereka memperluas akses masyarakat terhadap seni rupa sekaligus mendukung perjalanan para seniman.
Maya Rizano, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia, mengatakan sejak 2011 pihaknya konsisten mendukung lebih dari 750 seniman Indonesia, termasuk enam peraih penghargaan UOB Southeast Asian Painting of the Year.
“Dukungan terhadap pameran Prabu Perdana menegaskan komitmen kami dalam memperkaya ekosistem seni rupa, sekaligus menginspirasi seniman muda untuk terus berkarya,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Setali tiga uang, Founder Vice & Virtue Gallery, Wilian Robin, menyebut karya Prabu relevan dengan kehidupan masyarakat urban. Menurutnya, pameran ini juga memberi ruang refleksi tentang posisi manusia di tengah modernitas.
“Karya Prabu Perdana adalah jembatan antara pengalaman sehari-hari di kota dan kerinduan manusia pada alam,” ucapnya.
Pameran ini terbuka untuk umum setiap hari selama periode penyelenggaraan. Publik memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung perkembangan artistik Prabu yang terus berproses sejak awal kariernya di akhir 2000-an.
Sebagai tambahan informasi, Prabu Perdana merupakan seniman yang tinggal dan bekerja di Bandung. Dia telah memulai karier sebagai perupa sejak akhir 2000-an dengan rekam jejak pameran kelompok di dalam maupun luar negeri.
Beberapa di antaranya antara lain Mainkan di Gedung Kesenian Solo (2011), Hydro Pirate di UPT Galeri ISI Yogyakarta, Searching For Peace di Padi Artground, Bandung (2012), hingga Meta Amuk dan Pameran Nusantara 2013 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
Baca Juga: Pameran Tokyo Before/After, Saat Fotografi Menangkap Perubahan Wajah Kota Jepang
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.