Pameran Tokyo Before/After, Saat Fotografi Menangkap Perubahan Wajah Kota Jepang
15 September 2025 |
18:54 WIB
Tokyo bukan sekadar kota dengan gedung pencakar langit dan kereta super cepat. Ibu Kota Negeri Salura ini juga tempat di mana tradisi dan modernitas saling berdampingan, kadang serasi, kadang bertabrakan, tapi selalu memikat bagi para pelancong.
Gambaran itulah yang coba ditangkap lewat pameran fotografi Tokyo Before/After yang tengah digelar di Cemara 6 Galeri dan Toeti Heraty Museum, Jakarta, hingga 28 September 2025.Pameran ini digagas oleh Japan Foundation dan menghadirkan lebih dari 80 karya fotografer Jepang lintas generasi.
Seperti tajuknya, pameran ini menghadirkan dokumentasi perjalanan Tokyo mulai dari potret kehidupan jalanan Tokyo di era 1930-an, sampai eksplorasi visual penuh eksperimen di era digital sekarang.
Baca juga: JIPFest 2025 Hadirkan 300 Karya Fotografi Dunia di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Secara keseluruhan pameran ini dibagi dalam dua ruang utama. Bagian before menyoroti dokumentasi kota pada masa awal modernisasi hingga 1970-an. Sementara after menampilkan karya fotografer kontemporer dengan pendekatan yang lebih eksperimental.
Ruang before memperlihatkan Tokyo yang tengah bertransformasi setelah perang. Jalanan dan gedung baru mulai tumbuh, sementara wajah-wajah penuh harapan hadir sebagai tema dominan. Fotografi pada masa ini cenderung realistis, mengutamakan dokumentasi sosial.
Publik bisa melihat karya Kineo Kuwabara yang merekam kehidupan jalanan dengan kejujuran sederhana. Ada juga Yonosuke Natori yang lewat seri Nippon menggambarkan Tokyo pascaperang sebagai kota yang rapuh namun penuh energi.
Seri Nippon juga pernah diterbitkan oleh Kokusai Bunka Shinkokai, lembaga pendahulu Japan Foundation. Buku tersebut berisi fotomontase budaya tradisional, olahraga, industri, hingga wajah kota modern. Sebuah arsip visual berharga yang mencatat denyut zaman.
Memasuki ruang after, suasana langsung berubah. Karya yang ditampilkan terasa lebih eksperimental, menekankan ekspresi pribadi alih-alih dokumentasi faktual. Fotografer generasi baru memilih menangkap fragmen, detail, bahkan distorsi visual.
Daido Moriyama misalnya, hadir dengan citra hitam putih berkontras tinggi. Dalam seri Dogs and Mesh Tights, dia menyusun ratusan foto menjadi kolase yang menegaskan kekacauan Tokyo modern. Kota tampil sebagai kumpulan tekstur, bukan lanskap utuh.
Nobuyoshi Araki membawa pendekatan berbeda. Dalam seri Tombeau Tokyo (2016), dia menyoroti kefanaan hidup lewat potret bunga yang membusuk dan lanskap kota. Karya ini menghadirkan Tokyo sebagai ruang intim sekaligus penuh melankolia.
Generasi setelahnya lebih tertarik pada pendekatan konseptual. Mereka bermain dengan warna, cahaya, dan tekstur untuk membicarakan Tokyo sebagai ide, bukan sekadar tempat fisik. Pergeseran ini jelas: dari dokumentasi sosial menuju eksplorasi artistik.
Kurator Kotaro Iizawa dalam kuratorialnya menekankan, perbedaan ini bukan hanya persoalan gaya, melainkan respons terhadap zaman. Jika fotografer era lama merasa perlu merekam realitas yang berubah cepat, generasi kini lebih sibuk mencari makna di balik perubahan itu.
Contohnya terlihat dalam karya Natsumi Hayashi lewat seri Today’s Levitation. "Dia memotret dirinya sedang melompat di berbagai lokasi, seolah melayang di udara. Untuk satu pose, Hayashi bisa melakukan ratusan lompatan. Hasilnya, Tokyo yang familiar tampak segar dan Ajaib," katanya.
Lain dari itu pameran ini juga menyoroti bagaimana fotografi membentuk memori kolektif tentang kota. Arsip lama memberi gambaran nostalgia, sementara karya kontemporer justru menantang publik untuk mempertanyakan citra Tokyo yang sudah terpatri di benak mereka.
Menariknya, Tokyo Before/After tidak hanya berbicara tentang Jepang. Bagi pengunjung di Jakarta, foto-foto ini bisa menjadi cermin untuk menatap wajah kota sendiri. Modernisasi yang pesat, tarik-menarik antara tradisi dan pembangunan, hingga perubahan ruang publik terasa akrab dengan pengalaman urban Indonesia.
Melalui 80 karya yang dipamerkan, jawaban atas wajah Tokyo sengaja dibiarkan terbuka. Kota ini tidak pernah selesai dipotret, selalu memaksa fotografer mencari cara baru untuk menangkap denyutnya. Suasana ruang pamer ikut memperkuat pengalaman itu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Gambaran itulah yang coba ditangkap lewat pameran fotografi Tokyo Before/After yang tengah digelar di Cemara 6 Galeri dan Toeti Heraty Museum, Jakarta, hingga 28 September 2025.Pameran ini digagas oleh Japan Foundation dan menghadirkan lebih dari 80 karya fotografer Jepang lintas generasi.
Seperti tajuknya, pameran ini menghadirkan dokumentasi perjalanan Tokyo mulai dari potret kehidupan jalanan Tokyo di era 1930-an, sampai eksplorasi visual penuh eksperimen di era digital sekarang.
Baca juga: JIPFest 2025 Hadirkan 300 Karya Fotografi Dunia di Taman Ismail Marzuki Jakarta
Secara keseluruhan pameran ini dibagi dalam dua ruang utama. Bagian before menyoroti dokumentasi kota pada masa awal modernisasi hingga 1970-an. Sementara after menampilkan karya fotografer kontemporer dengan pendekatan yang lebih eksperimental.
Ruang before memperlihatkan Tokyo yang tengah bertransformasi setelah perang. Jalanan dan gedung baru mulai tumbuh, sementara wajah-wajah penuh harapan hadir sebagai tema dominan. Fotografi pada masa ini cenderung realistis, mengutamakan dokumentasi sosial.
Publik bisa melihat karya Kineo Kuwabara yang merekam kehidupan jalanan dengan kejujuran sederhana. Ada juga Yonosuke Natori yang lewat seri Nippon menggambarkan Tokyo pascaperang sebagai kota yang rapuh namun penuh energi.
Seri Nippon juga pernah diterbitkan oleh Kokusai Bunka Shinkokai, lembaga pendahulu Japan Foundation. Buku tersebut berisi fotomontase budaya tradisional, olahraga, industri, hingga wajah kota modern. Sebuah arsip visual berharga yang mencatat denyut zaman.

Senrai karya Natsumi Hayashi dalam seri Today’s Levitation dalam pameran Tokyo Before/After di Cemara 6 Galeri dan Toeti Heraty Museum, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Memasuki ruang after, suasana langsung berubah. Karya yang ditampilkan terasa lebih eksperimental, menekankan ekspresi pribadi alih-alih dokumentasi faktual. Fotografer generasi baru memilih menangkap fragmen, detail, bahkan distorsi visual.
Daido Moriyama misalnya, hadir dengan citra hitam putih berkontras tinggi. Dalam seri Dogs and Mesh Tights, dia menyusun ratusan foto menjadi kolase yang menegaskan kekacauan Tokyo modern. Kota tampil sebagai kumpulan tekstur, bukan lanskap utuh.
Nobuyoshi Araki membawa pendekatan berbeda. Dalam seri Tombeau Tokyo (2016), dia menyoroti kefanaan hidup lewat potret bunga yang membusuk dan lanskap kota. Karya ini menghadirkan Tokyo sebagai ruang intim sekaligus penuh melankolia.
Generasi setelahnya lebih tertarik pada pendekatan konseptual. Mereka bermain dengan warna, cahaya, dan tekstur untuk membicarakan Tokyo sebagai ide, bukan sekadar tempat fisik. Pergeseran ini jelas: dari dokumentasi sosial menuju eksplorasi artistik.
Kurator Kotaro Iizawa dalam kuratorialnya menekankan, perbedaan ini bukan hanya persoalan gaya, melainkan respons terhadap zaman. Jika fotografer era lama merasa perlu merekam realitas yang berubah cepat, generasi kini lebih sibuk mencari makna di balik perubahan itu.
Contohnya terlihat dalam karya Natsumi Hayashi lewat seri Today’s Levitation. "Dia memotret dirinya sedang melompat di berbagai lokasi, seolah melayang di udara. Untuk satu pose, Hayashi bisa melakukan ratusan lompatan. Hasilnya, Tokyo yang familiar tampak segar dan Ajaib," katanya.
Lain dari itu pameran ini juga menyoroti bagaimana fotografi membentuk memori kolektif tentang kota. Arsip lama memberi gambaran nostalgia, sementara karya kontemporer justru menantang publik untuk mempertanyakan citra Tokyo yang sudah terpatri di benak mereka.
Menariknya, Tokyo Before/After tidak hanya berbicara tentang Jepang. Bagi pengunjung di Jakarta, foto-foto ini bisa menjadi cermin untuk menatap wajah kota sendiri. Modernisasi yang pesat, tarik-menarik antara tradisi dan pembangunan, hingga perubahan ruang publik terasa akrab dengan pengalaman urban Indonesia.
Melalui 80 karya yang dipamerkan, jawaban atas wajah Tokyo sengaja dibiarkan terbuka. Kota ini tidak pernah selesai dipotret, selalu memaksa fotografer mencari cara baru untuk menangkap denyutnya. Suasana ruang pamer ikut memperkuat pengalaman itu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.