Kisah Taminum dan Kefit, Bisnis Minuman Sehat Karya Mahasiswa Unpad
16 September 2025 |
13:30 WIB
Menjadi mahasiswa tingkat akhir biasanya identik dengan perjuangan menyelesaikan skripsi, mengejar kelulusan, dan mulai merancang masa depan. Namun, bagi dua kelompok mahasiswa Universitas Padjadjaran, masa-masa itu justru menjadi titik awal untuk membangun sesuatu yang lebih nyata, yakni sebuah usaha minuman.
Taminum dan Kefit adalah dua jenama minuman yang dikembangkan oleh mahasiswa tingkat akhir Unpad. Kedua kelompok ini lahir dari cerita dan visi yang sangat berbeda. Taminum menawarkan minuman susu dengan pendekatan sosial, sementara Kefit menghadirkan kefir rendah gula sebagai alternatif sehat untuk masyarakat urban.
Cerita Taminum bermula dari sebuah bazar Ramadhan di Masjid Raya Unpad pada 2025. Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Peternakan memutuskan untuk menjual minuman berbasis susu, bahan yang sudah mereka kenal baik selama perkuliahan. Tak disangka, respons pasar begitu positif. Dari situ, ide sederhana berkembang menjadi bisnis serius.
Baca Juga: Cerita Anak Muda Bangun Bisnis Event Organizer, Modal Kreativitas & Budaya
Muadz Hanan Miqdad (21) yang akrab disapa Miqdad, CEO Taminum menyadari bahwa susu tak cukup hanya dijual dalam bentuk minuman lezat. Bersama timnya, ia membangun Taminum sebagai sebuah gerakan yang mengajak konsumen ikut berkontribusi pada kesejahteraan peternak rakyat.
“Setiap gelas Taminum yang dibeli adalah bentuk kontribusi nyata terhadap kesejahteraan peternak,” ujar Miqdad.
Rasa creamy dari susu pasteurisasi jadi daya tarik utama produknya, tetapi kekuatan Taminum terletak pada cara branding yang dikemas dengan gaya visual yang relevan di media sosial, ditopang kampanye yang menyentuh sisi emosional dan sosial anak muda.
Taminum menyasar mahasiswa dan anak muda, khususnya mereka yang aktif di media sosial dan terbuka terhadap tren baru. Melalui konten-konten kreatif, kerja sama dengan mitra, serta kampanye digital yang terarah, Taminum mampu membangun ekosistem pelanggan yang loyal. Bahkan, jenama ini telah mencatatkan angka omzet dua digit dalam waktu relatif singkat.
Di balik kesuksesan itu, ada tim yang solid. Setiap anggota tim punya peran spesifik. Seluruhnya dijalankan sambil mereka menyusun tugas akhir. Segala tantangan mereka hadapi dengan pembagian kerja yang terstruktur.
Sementara itu, Kefit justru lahir dari keresahan. Dede Nurhidayah (21), mahasiswa Fakultas Pertanian, memperhatikan bahwa banyak produk minuman yang diklaim sehat di pasaran ternyata mengandung gula tinggi. Dari sana, ia dan rekan-rekannya memutuskan untuk membuat produk kefir yang sehat, rendah gula, dan kaya probiotik.
“Kita ingin menciptakan minuman sehat yang benar-benar sesuai klaimnya. Kandungan gulanya nol, tapi manfaatnya bisa bantu rehabilitasi penderita diabetes,” kata Dede.
Kefir adalah minuman fermentasi susu yang mengandung bakteri dan ragi. Produk Kefit dibuat menggunakan kultur kefir alami, tanpa tambahan gula, dan punya manfaat bagi pencernaan, sistem imun, serta pengendalian berat badan. Kefir juga bisa dikonsumsi oleh mereka yang mengalami intoleransi laktosa.
Target pasar Kefit yaitu usia dewasa muda yang tinggal di perkotaan dan sedang menjalani gaya hidup sehat. Mereka merupakan kelompok yang mulai sadar akan pentingnya menjaga asupan, membaca label produk, dan memilih makanan serta minuman yang punya nilai gizi seimbang.
Dari sisi produksi, Kefit masih berada di skala kecil. Dalam sebulan, mereka menjual sekitar 80 botol dengan penghasilan bersih sekitar Rp300.000. Namun, kualitas produk dan positioning mereka yang tajam menjadikan Kefit sebagai salah satu jenama minuman kefir lokal yang patut diperhitungkan.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada sisi teknis. Karena kefir adalah produk fermentasi hidup, distribusi membutuhkan lemari pendingin dan rantai pasok yang stabil. Selain itu, bahan baku seperti susu murni yang sesuai standar tidak selalu tersedia dengan mudah.
Meski begitu, Dede dan timnya tetap melangkah. Bagi mereka, tantangan adalah bagian dari proses. Dengan pendekatan edukatif yang konsisten, mereka perlahan mulai membangun basis konsumen yang memahami manfaat kefir dan bersedia beralih ke produk lokal yang lebih sehat.
Taminum dan Kefit adalah dua jenama minuman yang dikembangkan oleh mahasiswa tingkat akhir Unpad. Kedua kelompok ini lahir dari cerita dan visi yang sangat berbeda. Taminum menawarkan minuman susu dengan pendekatan sosial, sementara Kefit menghadirkan kefir rendah gula sebagai alternatif sehat untuk masyarakat urban.
Cerita Taminum bermula dari sebuah bazar Ramadhan di Masjid Raya Unpad pada 2025. Sejumlah mahasiswa dari Fakultas Peternakan memutuskan untuk menjual minuman berbasis susu, bahan yang sudah mereka kenal baik selama perkuliahan. Tak disangka, respons pasar begitu positif. Dari situ, ide sederhana berkembang menjadi bisnis serius.
Baca Juga: Cerita Anak Muda Bangun Bisnis Event Organizer, Modal Kreativitas & Budaya
Muadz Hanan Miqdad (21) yang akrab disapa Miqdad, CEO Taminum menyadari bahwa susu tak cukup hanya dijual dalam bentuk minuman lezat. Bersama timnya, ia membangun Taminum sebagai sebuah gerakan yang mengajak konsumen ikut berkontribusi pada kesejahteraan peternak rakyat.
“Setiap gelas Taminum yang dibeli adalah bentuk kontribusi nyata terhadap kesejahteraan peternak,” ujar Miqdad.
Rasa creamy dari susu pasteurisasi jadi daya tarik utama produknya, tetapi kekuatan Taminum terletak pada cara branding yang dikemas dengan gaya visual yang relevan di media sosial, ditopang kampanye yang menyentuh sisi emosional dan sosial anak muda.
Taminum menyasar mahasiswa dan anak muda, khususnya mereka yang aktif di media sosial dan terbuka terhadap tren baru. Melalui konten-konten kreatif, kerja sama dengan mitra, serta kampanye digital yang terarah, Taminum mampu membangun ekosistem pelanggan yang loyal. Bahkan, jenama ini telah mencatatkan angka omzet dua digit dalam waktu relatif singkat.
Di balik kesuksesan itu, ada tim yang solid. Setiap anggota tim punya peran spesifik. Seluruhnya dijalankan sambil mereka menyusun tugas akhir. Segala tantangan mereka hadapi dengan pembagian kerja yang terstruktur.
Lahir dari Keresahan
Sementara itu, Kefit justru lahir dari keresahan. Dede Nurhidayah (21), mahasiswa Fakultas Pertanian, memperhatikan bahwa banyak produk minuman yang diklaim sehat di pasaran ternyata mengandung gula tinggi. Dari sana, ia dan rekan-rekannya memutuskan untuk membuat produk kefir yang sehat, rendah gula, dan kaya probiotik.
“Kita ingin menciptakan minuman sehat yang benar-benar sesuai klaimnya. Kandungan gulanya nol, tapi manfaatnya bisa bantu rehabilitasi penderita diabetes,” kata Dede.
Kefir adalah minuman fermentasi susu yang mengandung bakteri dan ragi. Produk Kefit dibuat menggunakan kultur kefir alami, tanpa tambahan gula, dan punya manfaat bagi pencernaan, sistem imun, serta pengendalian berat badan. Kefir juga bisa dikonsumsi oleh mereka yang mengalami intoleransi laktosa.
Target pasar Kefit yaitu usia dewasa muda yang tinggal di perkotaan dan sedang menjalani gaya hidup sehat. Mereka merupakan kelompok yang mulai sadar akan pentingnya menjaga asupan, membaca label produk, dan memilih makanan serta minuman yang punya nilai gizi seimbang.
Dari sisi produksi, Kefit masih berada di skala kecil. Dalam sebulan, mereka menjual sekitar 80 botol dengan penghasilan bersih sekitar Rp300.000. Namun, kualitas produk dan positioning mereka yang tajam menjadikan Kefit sebagai salah satu jenama minuman kefir lokal yang patut diperhitungkan.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada sisi teknis. Karena kefir adalah produk fermentasi hidup, distribusi membutuhkan lemari pendingin dan rantai pasok yang stabil. Selain itu, bahan baku seperti susu murni yang sesuai standar tidak selalu tersedia dengan mudah.
Meski begitu, Dede dan timnya tetap melangkah. Bagi mereka, tantangan adalah bagian dari proses. Dengan pendekatan edukatif yang konsisten, mereka perlahan mulai membangun basis konsumen yang memahami manfaat kefir dan bersedia beralih ke produk lokal yang lebih sehat.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.