Ethical Franchising Jadi Solusi Bisnis Waralaba yang Lebih Adil dan Transparan
16 September 2025 |
10:30 WIB
Waralaba dinilai menjadi salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan jumlah kewirausahaan nasional. Namun, di balik kemudahan tersebut masih banyak praktik yang menyimpan jebakan sehingga dapat merugikan franchisee atau mitra yang membeli merek dagang tersebut.
Untuk menghindari praktik yang menyesatkan tersebut, muncul konsep yang dinilai sebagai solusi bisnis yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan yakni ethical franchising atau waralaba etis.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan bahwa saat ini rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,35%, jauh di bawah rata-rata negara maju yang berada di kisaran 10–12%.
Baca juga: Ini Fondasi Bisnis UKM Untuk Naik Kelas Lewat Franchise
“Kalau kita ingin menjadi negara maju, salah satunya yang harus didorong adalah kewirausahaan. Franchise bisa menjadi pintu masuk karena model bisnisnya sudah teruji, manajemennya jelas, dan biayanya relatif efisien,” ujarnya.
Namun, penerapan bisnis franchise tersebut harus didasarkan pada prinsip ethical franchising bahwa bisnis ini bukan hanya sekedar mengejar keuntungan semata tetapi juga dijalankan dengan transparan, adil, dan penuh kepastian bagi para mitra (franchisee) maupun konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar juga menekankan pentingnya etika dalam bisnis waralaba. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di kisaran 4,6–5% perlu dipacu agar dapat mencapai target 8% pada periode 2025–2045.
Salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah dengan meningkatkan kontribusi sektor waralaba melalui cara yang beretika.
“Di Amerika, pada 2004 saja 50% penjualan ritel sudah melalui franchising. Indonesia mau tidak mau harus mengarah ke sana. Namun, pertumbuhan itu tidak bisa hanya kuantitas, melainkan harus dijalankan dengan etika,” ujar Anang.
Baginya, ethical franchising berarti bukan hanya kepatuhan pada aturan, tapi juga menjaga keunikan merek, standarisasi operasional, efisiensi, dan tanggung jawab terhadap mitra.
Anang juga menekankan pentingnya manajemen yang solid dengan prinsip planning, organizing, actuating, and controlling. Dengan fondasi manajemen ini, bisnis franchise bisa tumbuh profesional sekaligus berkesinambungan.
“Kalau itu dijadikan syarat, otomatis usaha akan berkembang. Ethical franchising bukan sekadar jargon, tapi fondasi agar franchise Indonesia bisa bersaing dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Untuk menghindari praktik yang menyesatkan tersebut, muncul konsep yang dinilai sebagai solusi bisnis yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan yakni ethical franchising atau waralaba etis.
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan bahwa saat ini rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,35%, jauh di bawah rata-rata negara maju yang berada di kisaran 10–12%.
Baca juga: Ini Fondasi Bisnis UKM Untuk Naik Kelas Lewat Franchise
“Kalau kita ingin menjadi negara maju, salah satunya yang harus didorong adalah kewirausahaan. Franchise bisa menjadi pintu masuk karena model bisnisnya sudah teruji, manajemennya jelas, dan biayanya relatif efisien,” ujarnya.
Namun, penerapan bisnis franchise tersebut harus didasarkan pada prinsip ethical franchising bahwa bisnis ini bukan hanya sekedar mengejar keuntungan semata tetapi juga dijalankan dengan transparan, adil, dan penuh kepastian bagi para mitra (franchisee) maupun konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar juga menekankan pentingnya etika dalam bisnis waralaba. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini berada di kisaran 4,6–5% perlu dipacu agar dapat mencapai target 8% pada periode 2025–2045.
Salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah dengan meningkatkan kontribusi sektor waralaba melalui cara yang beretika.
“Di Amerika, pada 2004 saja 50% penjualan ritel sudah melalui franchising. Indonesia mau tidak mau harus mengarah ke sana. Namun, pertumbuhan itu tidak bisa hanya kuantitas, melainkan harus dijalankan dengan etika,” ujar Anang.
Baginya, ethical franchising berarti bukan hanya kepatuhan pada aturan, tapi juga menjaga keunikan merek, standarisasi operasional, efisiensi, dan tanggung jawab terhadap mitra.
Anang juga menekankan pentingnya manajemen yang solid dengan prinsip planning, organizing, actuating, and controlling. Dengan fondasi manajemen ini, bisnis franchise bisa tumbuh profesional sekaligus berkesinambungan.
“Kalau itu dijadikan syarat, otomatis usaha akan berkembang. Ethical franchising bukan sekadar jargon, tapi fondasi agar franchise Indonesia bisa bersaing dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.