Se’Indonesia Perkuat Ekspansi Gerai Offline, Target 20–30 Outlet Tahun Ini
16 September 2025 |
10:00 WIB
Brand kuliner Se’Indonesia terus mencatat pertumbuhan signifikan sejak berdiri pada 2023. Mengusung sei sapi khas Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai menu utama, Se’Indonesia berhasil memodernisasi makanan tradisional tersebut menjadi hidangan cepat saji dengan harga terjangkau.
Dalam waktu kurang dari dua tahun, Se’Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 gerai online (cloud kitchen) dan melayani penjualan sekitar 2 hingga 3 juta porsi per bulan. Pencapaian ini menjadi modal penting untuk melangkah ke target selanjutnya yakni memperkuat ekspansi gerai di dalam negeri.
Baca juga: Bisnis Warkop Kekinian, Padukan Konsep Gaya Klasik dan Modern
Rinaldi Utama, Founder Se’Indonesia mengatakan, pasar Indonesia masih sangat lekat dengan budaya makan bersama secara langsung. Karena itu, meski strategi awal banyak mengandalkan promosi digital, keberadaan outlet fisik tetap menjadi kunci.
“Orang Indonesia suka kumpul, makan bareng, nongkrong di tempat yang nyaman. Jadi kami tidak hanya fokus ke delivery, tapi juga serius membangun outlet offline yang estetik, cozy, dan tetap cepat saji,” ungkapnya.
Se’Indonesia sendiri saat ini telah memiliki 4 gerai offline seteleh meresmikan gerai flagship yang berlokasi di Palmerah, Jakarta Barat pada pekan lalu. Rinaldi menargetkan pembukaan 20–30 outlet baru di berbagai kota besar dalam tahun ini. Outlet didesain dengan konsep modern, tapi tetap mempertahankan identitas kuliner Nusantara lewat menu sei sapi.
Strategi Se’Indonesia untuk memperlus jaringan gerai dine in ini juga didorong oleh pendanaan seri A yang didapatkan pada April 2025 lalu senilai US$9,7 juta yang dipimpin oleh Insignia Ventures Partners, dengan partisipasi dari Argor Ventures, Saison Capital, W Fund, serta investor sebelumnya seperti Kopital Ventures, Mulia Sky Capital, dan Trihill Capital.
“Selain di dalam negeri, kami juga tengah memperkuat fondasi untuk ekspansi ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mulai tahun depan,” tuturnya.
Untuk mendukung ekspansi cepat, Se’Indonesia mengandalkan sistem central kitchen. Sekitar 90% makanan sudah diolah di dapur pusat sebelum dikirim ke outlet, sehingga proses di gerai hanya sebatas finishing. Sistem ini tidak hanya menjaga konsistensi rasa, tetapi juga memungkinkan pertumbuhan outlet yang lebih masif tanpa menambah kompleksitas operasional terlalu besar.
Strategi harga tetap menjadi senjata utama Se’Indonesia. Dengan menu di kisaran Rp25.000-an, brand ini mampu menembus pasar massal. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beef bowl lain yang rata-rata berada di rentang Rp40.000–Rp50.000.
Pendekatan ini sekaligus menjadi jawaban atas rendahnya konsumsi daging sapi di Indonesia. Saat ini, konsumsi sapi domestik hanya sekitar 2 kilogram per kapita per tahun, jauh tertinggal dari rata-rata global 6 kilogram, apalagi Amerika Serikat yang mencapai ratusan kilogram.
“Kalau daging sapi bisa diakses dengan harga terjangkau, orang akan lebih terbiasa menjadikannya bagian dari menu sehari-hari,” tambah Rinaldi.
Kiprah Se’Indonesia dalam mengembangkan bisnis kuliner ini juga mendapat pengakuan internasional dengan masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch sebagai satu-satunya brand kuliner. Forbes Asia 100 to Watch ini menyoroti perusahaan dan startup dengan inovasi, potensi pertumbuhan, dan dampak signifikan di 16 negara di Asia Pasifik.
Pencapaian ini menjadi motivasi tambahan bagi Se’Indonesia untuk terus mengembangkan produk sekaligus membawa kuliner Indonesia ke level yang lebih tinggi.
Dengan fondasi yang kuat sebagai pionir sei sapi dalam format gerai modern, Se’Indonesia optimistis mampu memperluas pasar domestik sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner NTT ke kancah global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam waktu kurang dari dua tahun, Se’Indonesia sudah memiliki lebih dari 150 gerai online (cloud kitchen) dan melayani penjualan sekitar 2 hingga 3 juta porsi per bulan. Pencapaian ini menjadi modal penting untuk melangkah ke target selanjutnya yakni memperkuat ekspansi gerai di dalam negeri.
Baca juga: Bisnis Warkop Kekinian, Padukan Konsep Gaya Klasik dan Modern
Rinaldi Utama, Founder Se’Indonesia mengatakan, pasar Indonesia masih sangat lekat dengan budaya makan bersama secara langsung. Karena itu, meski strategi awal banyak mengandalkan promosi digital, keberadaan outlet fisik tetap menjadi kunci.
“Orang Indonesia suka kumpul, makan bareng, nongkrong di tempat yang nyaman. Jadi kami tidak hanya fokus ke delivery, tapi juga serius membangun outlet offline yang estetik, cozy, dan tetap cepat saji,” ungkapnya.
Se’Indonesia sendiri saat ini telah memiliki 4 gerai offline seteleh meresmikan gerai flagship yang berlokasi di Palmerah, Jakarta Barat pada pekan lalu. Rinaldi menargetkan pembukaan 20–30 outlet baru di berbagai kota besar dalam tahun ini. Outlet didesain dengan konsep modern, tapi tetap mempertahankan identitas kuliner Nusantara lewat menu sei sapi.
Strategi Se’Indonesia untuk memperlus jaringan gerai dine in ini juga didorong oleh pendanaan seri A yang didapatkan pada April 2025 lalu senilai US$9,7 juta yang dipimpin oleh Insignia Ventures Partners, dengan partisipasi dari Argor Ventures, Saison Capital, W Fund, serta investor sebelumnya seperti Kopital Ventures, Mulia Sky Capital, dan Trihill Capital.
“Selain di dalam negeri, kami juga tengah memperkuat fondasi untuk ekspansi ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura mulai tahun depan,” tuturnya.
Untuk mendukung ekspansi cepat, Se’Indonesia mengandalkan sistem central kitchen. Sekitar 90% makanan sudah diolah di dapur pusat sebelum dikirim ke outlet, sehingga proses di gerai hanya sebatas finishing. Sistem ini tidak hanya menjaga konsistensi rasa, tetapi juga memungkinkan pertumbuhan outlet yang lebih masif tanpa menambah kompleksitas operasional terlalu besar.
Strategi harga tetap menjadi senjata utama Se’Indonesia. Dengan menu di kisaran Rp25.000-an, brand ini mampu menembus pasar massal. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan beef bowl lain yang rata-rata berada di rentang Rp40.000–Rp50.000.
Pendekatan ini sekaligus menjadi jawaban atas rendahnya konsumsi daging sapi di Indonesia. Saat ini, konsumsi sapi domestik hanya sekitar 2 kilogram per kapita per tahun, jauh tertinggal dari rata-rata global 6 kilogram, apalagi Amerika Serikat yang mencapai ratusan kilogram.
“Kalau daging sapi bisa diakses dengan harga terjangkau, orang akan lebih terbiasa menjadikannya bagian dari menu sehari-hari,” tambah Rinaldi.
Kiprah Se’Indonesia dalam mengembangkan bisnis kuliner ini juga mendapat pengakuan internasional dengan masuk dalam daftar Forbes Asia 100 to Watch sebagai satu-satunya brand kuliner. Forbes Asia 100 to Watch ini menyoroti perusahaan dan startup dengan inovasi, potensi pertumbuhan, dan dampak signifikan di 16 negara di Asia Pasifik.
Pencapaian ini menjadi motivasi tambahan bagi Se’Indonesia untuk terus mengembangkan produk sekaligus membawa kuliner Indonesia ke level yang lebih tinggi.
Dengan fondasi yang kuat sebagai pionir sei sapi dalam format gerai modern, Se’Indonesia optimistis mampu memperluas pasar domestik sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner NTT ke kancah global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.