New York Fashion Week S/S 2026: Identitas, Budaya, dan Isu Sosial dalam Mode
15 September 2025 |
16:39 WIB
New York Fashion Week (NYFW) kembali menjadi pusat perhatian dunia mode dengan gelaran koleksi Spring/Summer 2026 yang berlangsung pada 11-16 September 2025. Selama hampir satu pekan, lebih dari 60 peragaan busana menampilkan karya busana dari rumah mode besar, label independen, hingga desainer baru.
Kalender resmi yang digagas Council of Fashion Designers of America (CFDA) menempatkan NYFW sebagai pembuka dari rangkaian fashion week dunia. Sejumlah pertunjukan besar digelar di berbagai titik kota New York. Selain jadwal resmi, ada pula serangkaian pertunjukan off-schedule yang memberi ruang bagi label-label baru untuk tampil lebih eksperimental.
Baca juga: Buttonscarves Bawa Keindahan Modest Fashion Asia Tenggara ke Dubai Fashion Week
Tahun ini, NYFW tidak hanya menampilkan tren gaya terbaru, tetapi juga menjadi ruang eksplorasi identitas, budaya, hingga isu-isu sosial yang relevan. Beberapa rumah mode ternama menghadirkan koleksi yang menjadi sorotan utama selama berlangsungnya acara.
Michael Kors membuka pekan mode dengan koleksi bertema Earthy Elegance, menampilkan potongan longgar, kaftan, hingga suit ringan dengan palet warna bumi seperti cokelat, krem, dan putih. Aksen kuning dan pink cerah muncul sebagai sentuhan segar yang kontras.
Christian Siriano menghadirkan glamor Hollywood klasik ala Marlene Dietrich. Gaun bubble-hem, suit hitam-putih, dan topi tinggi menjadi pembuka sebelum transisi ke warna-warna mencolok yang teatrikal. Show ini sekaligus menegaskan konsistensi Siriano dalam menampilkan koleksi inklusif dengan model beragam usia dan ukuran tubuh.
Sergio Hudson menegaskan kembali kekuatannya di tailoring dengan koleksi penuh jas, blazer, dan siluet tegas. Inspirasi tribal Afrika hadir lewat motif zebra dan cheetah, serta aksesori emas besar yang mencolok. Koleksi ini disebut sebagai “reset” sekaligus pembaruan dalam gaya Hudson.
Calvin Klein, di bawah arahan kreatif Veronica Leoni, menampilkan koleksi yang menghidupkan kembali minimalisme ikonis tahun 1990-an. Siluet bersih, layering tipis, dan detail underwear motif menjadi ciri utama. Palet warna netral mendominasi, menekankan keintiman sekaligus kekuatan desain yang sederhana namun penuh statement. Koleksi ini mendapat sorotan karena berhasil menyatukan nostalgia dengan relevansi mode masa kini.
NYFW SS26 juga diramaikan oleh kehadiran desainer-desainer pendatang baru. Salah satu debut yang paling ditunggu datang dari Rachel Scott, direktur kreatif baru Proenza Schouler, yang memperkenalkan arah desain lebih rapi dan terstruktur. Di sisi lain, label Diotima justru menampilkan pendekatan sebaliknya yang bebas dan edgy dalam koleksi terbarunya.
Label baru, Lii besutan Zane Li resmi melangkah ke runway penuh setelah sebelumnya hanya tampil dalam bentuk presentasi. Nama-nama lainnya seperti Ashlyn Park, Meruert Tolegen, Gabe Gordon, Timothy Gibbons, dan Bach Mai juga menghadirkan warna baru di panggung mode New York.
Menariknya, sejumlah peragaan busana juga membawa narasi budaya dan politik. Alexis Bittar, misalnya, menampilkan pertunjukan bertema “Miss USA 1991: a Dream Sequence” yang menyelipkan komentar terhadap undang-undang anti-trans. Kehadiran Vivian Wilson, anak Elon Musk, yang melakukan debut runway dalam show tersebut, sontak menjadi sorotan media.
New York Fashion Week Spring/Summer 2026 membuktikan bahwa panggung mode Amerika tetap relevan sebagai barometer tren global. Kehadiran desainer baru, kembalinya nama lama, hingga isu-isu sosial yang diangkat dalam presentasi busana menjadikan NYFW bukan sekadar pekan mode, tetapi juga cermin dinamika budaya populer.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kalender resmi yang digagas Council of Fashion Designers of America (CFDA) menempatkan NYFW sebagai pembuka dari rangkaian fashion week dunia. Sejumlah pertunjukan besar digelar di berbagai titik kota New York. Selain jadwal resmi, ada pula serangkaian pertunjukan off-schedule yang memberi ruang bagi label-label baru untuk tampil lebih eksperimental.
Baca juga: Buttonscarves Bawa Keindahan Modest Fashion Asia Tenggara ke Dubai Fashion Week
Tahun ini, NYFW tidak hanya menampilkan tren gaya terbaru, tetapi juga menjadi ruang eksplorasi identitas, budaya, hingga isu-isu sosial yang relevan. Beberapa rumah mode ternama menghadirkan koleksi yang menjadi sorotan utama selama berlangsungnya acara.
Michael Kors membuka pekan mode dengan koleksi bertema Earthy Elegance, menampilkan potongan longgar, kaftan, hingga suit ringan dengan palet warna bumi seperti cokelat, krem, dan putih. Aksen kuning dan pink cerah muncul sebagai sentuhan segar yang kontras.
Christian Siriano menghadirkan glamor Hollywood klasik ala Marlene Dietrich. Gaun bubble-hem, suit hitam-putih, dan topi tinggi menjadi pembuka sebelum transisi ke warna-warna mencolok yang teatrikal. Show ini sekaligus menegaskan konsistensi Siriano dalam menampilkan koleksi inklusif dengan model beragam usia dan ukuran tubuh.
Sergio Hudson menegaskan kembali kekuatannya di tailoring dengan koleksi penuh jas, blazer, dan siluet tegas. Inspirasi tribal Afrika hadir lewat motif zebra dan cheetah, serta aksesori emas besar yang mencolok. Koleksi ini disebut sebagai “reset” sekaligus pembaruan dalam gaya Hudson.
Calvin Klein, di bawah arahan kreatif Veronica Leoni, menampilkan koleksi yang menghidupkan kembali minimalisme ikonis tahun 1990-an. Siluet bersih, layering tipis, dan detail underwear motif menjadi ciri utama. Palet warna netral mendominasi, menekankan keintiman sekaligus kekuatan desain yang sederhana namun penuh statement. Koleksi ini mendapat sorotan karena berhasil menyatukan nostalgia dengan relevansi mode masa kini.
Label baru, Lii besutan Zane Li resmi melangkah ke runway penuh setelah sebelumnya hanya tampil dalam bentuk presentasi. Nama-nama lainnya seperti Ashlyn Park, Meruert Tolegen, Gabe Gordon, Timothy Gibbons, dan Bach Mai juga menghadirkan warna baru di panggung mode New York.
Menariknya, sejumlah peragaan busana juga membawa narasi budaya dan politik. Alexis Bittar, misalnya, menampilkan pertunjukan bertema “Miss USA 1991: a Dream Sequence” yang menyelipkan komentar terhadap undang-undang anti-trans. Kehadiran Vivian Wilson, anak Elon Musk, yang melakukan debut runway dalam show tersebut, sontak menjadi sorotan media.
New York Fashion Week Spring/Summer 2026 membuktikan bahwa panggung mode Amerika tetap relevan sebagai barometer tren global. Kehadiran desainer baru, kembalinya nama lama, hingga isu-isu sosial yang diangkat dalam presentasi busana menjadikan NYFW bukan sekadar pekan mode, tetapi juga cermin dinamika budaya populer.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.