Perpustakaan Achmad Bakrie Bakal Hadir di Museum Nasional Maret 2026
15 September 2025 |
17:00 WIB
Museum Nasional Indonesia bersama Adinda Bakrie Foundation (ABF) akan membangun Perpustakaan Achmad Bakrie. Rencananya, perpustakaan tersebut akan hadir di lantai 2 Gedung B Museum Nasional Indonesia Jakarta mulai Maret 2026, sebagai fasilitas literasi yang terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat.
Perpustakaan Achmad Bakrie akan mengusung konsep modern dengan koleksi literatur sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. Fasilitas ini juga akan menyediakan ruang baca yang inklusif dan nyaman bagi semua kalangan, sehingga menjadi sarana literasi modern yang relevan bagi masyarakat masa kini dan mendatang.
Direktur Eksekutif Badan Pengelola Usaha BLU Museum & Cagar Budaya, Esti Nurjadin, mengatakan Perpustakaan Achmad Bakrie merupakan bentuk kerja sama dalam skema Public Private Partnership, yakni kolaborasi pihak pemerintah dengan swasta untuk tetap bisa memberikan layanan yang baik kepada publik khususnya pengunjung Museum Nasional Indonesia.
Baca Juga: Tak Hanya Museum Bagawanta, Ini Daftar Cagar Budaya yang Terdampak Aksi Demonstrasi
Selain itu, kehadiran Perpustakaan Achmad Bakrie juga menjadi upaya Museum Nasional Indonesia untuk lebih mendekatkan koleksi perpustakaan yang semula berada di lantai 6, menjadi lebih dekat dan mudah diakses oleh pengunjung. Dengan begitu, publik bisa melakukan berbagai kegiatan literasi, mulai dari membaca, mencari bahan literasi riset, hingga diskusi edukatif.
"Kami akan menerima perpustakaan ini sebagai hibah. Jadi instead of Adinda Bakrie Foundation memberikan dana kepada kami dan membangun [perpustakaan], mereka justru menghadirkannya setelah jadi dan bentuknya akan dihibahkan ke kami dalam bentuk perpustakaan," kata Esti saat ditemui awak media di Museum Nasional Indonesia Jakarta, Senin (15/9/2025).
Hypeabis.id berkesempatan untuk melihat area yang akan dibangun perpustakaan. Areanya terletak di lantai 2 Gedung B Museum Nasional Indonesia, dengan bentuk ruangan melingkar mengelilingi area tengah pembatas tingkat lantai. Nantinya juga akan ada area yang dimodifikasi untuk menambah ruangan perpustakaan.
Esti menjelaskan nantinya akan ada sekitar 10.000 koleksi buku yang hadir di Perpustakaan Achmad Bakrie, terdiri dari buku-buku seputar pengetahuan koleksi pameran Museum Nasional Indonesia, arsip, hingga bacaan hasil donasi. Tak hanya, buku bacaan, nantinya Perpustakaan Achmad Bakrie juga akan aktif menggelar berbagai program acara publik, yang dirancang oleh Adinda Bakrie Foundation.
"Dimana-mana kalau kita lihat, museum itu pasti punya perpustakaan, dan perpustakaan itu bisa dipakai untuk riset, untuk akademisi, atau periset yang lain yang mau menggunakan perpustakaan," ucapnya.
Esti memastikan nantinya pengunjung yang ingin mengakses fasilitas perpustakaan tidak perlu membeli tiket tambahan, cukup tiket masuk ke Museum Nasional Indonesia. Dia pun berharap kehadiran Perpustakaan Achmad Bakrie bisa semakin membuka dan memudahkan publik untuk mengakses koleksi literatur dan arsip yang ada di Museum Nasional Indonesia.
Dia menambahkan kerja sama ini menjadi langkah awal pihaknya untuk mengembangkan konsep kerja sama Public Private Partnership dengan pihak swasta, agar pengelolaan museum dan cagar budaya di Indonesia bisa tetap optimal di tengah keterbatasan pendanaan dari pemerintah pusat.
"Setelah ini sukses kemungkinan kita akan memakai template ini untuk kerja sama dengan swasta, membangun area yang bekas terbakar tahun 2023 lalu di Museum Nasional Indonesia. Di luar negeri juga pakai konsep ini, nanti ada naming rights sebagai timbal baliknya. Itu yang saya harapkan bisa dikerjakan di museum lain dengan pihak swasta lain," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Adinda Bakrie selaku Founder Bakrie Foundation mengatakan Perpustakaan Achmad Bakrie merupakan bagian dari kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan dan literasi di Indonesia. Sebuah simbol lahirnya ruang pengetahuan, kreativitas, dan pelestarian warisan budaya.
Dia berharap perpustakaan tersebut bisa menjadi ruang terbuka untuk generasi muda Indonesia agar menjadi bagian dari perkembangan literasi di Tanah Air. Menurutnya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat inspirasi, ruang diskusi, dan wadah bagi masyarakat untuk memperluas wawasan.
Adinda menegaskan pembangunan Perpustakaan Achmad Bakrie juga menjadi salah satu cermin nilai-nilai yang diwariskan oleh almarhum sang kakek, Achmad Bakrie, yang tertuang dalam tri matra Bakrie, yaitu keindonesiaan, kemanfaatan, dan kebersamaan.
"Harapan kami semoga kehadiran perpustakaan Achmad Bakrie di Museum Nasional dapat memperkuat fungsi museum sebagai pusat pembelajaran yang menyatukan sejarah, budaya, dan juga ilmu pengetahuan," ujarnya.
Baca Juga: Rentan Rusak, Dokumentasi Koleksi Perlu Digencarkan di Permuseuman Indonesia
Perpustakaan Achmad Bakrie akan mengusung konsep modern dengan koleksi literatur sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan. Fasilitas ini juga akan menyediakan ruang baca yang inklusif dan nyaman bagi semua kalangan, sehingga menjadi sarana literasi modern yang relevan bagi masyarakat masa kini dan mendatang.
Direktur Eksekutif Badan Pengelola Usaha BLU Museum & Cagar Budaya, Esti Nurjadin, mengatakan Perpustakaan Achmad Bakrie merupakan bentuk kerja sama dalam skema Public Private Partnership, yakni kolaborasi pihak pemerintah dengan swasta untuk tetap bisa memberikan layanan yang baik kepada publik khususnya pengunjung Museum Nasional Indonesia.
Baca Juga: Tak Hanya Museum Bagawanta, Ini Daftar Cagar Budaya yang Terdampak Aksi Demonstrasi
Selain itu, kehadiran Perpustakaan Achmad Bakrie juga menjadi upaya Museum Nasional Indonesia untuk lebih mendekatkan koleksi perpustakaan yang semula berada di lantai 6, menjadi lebih dekat dan mudah diakses oleh pengunjung. Dengan begitu, publik bisa melakukan berbagai kegiatan literasi, mulai dari membaca, mencari bahan literasi riset, hingga diskusi edukatif.
"Kami akan menerima perpustakaan ini sebagai hibah. Jadi instead of Adinda Bakrie Foundation memberikan dana kepada kami dan membangun [perpustakaan], mereka justru menghadirkannya setelah jadi dan bentuknya akan dihibahkan ke kami dalam bentuk perpustakaan," kata Esti saat ditemui awak media di Museum Nasional Indonesia Jakarta, Senin (15/9/2025).

Acara groundbreaking pembangunan Perpustakaan Achmad Bakrie di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (15/9/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.
Esti menjelaskan nantinya akan ada sekitar 10.000 koleksi buku yang hadir di Perpustakaan Achmad Bakrie, terdiri dari buku-buku seputar pengetahuan koleksi pameran Museum Nasional Indonesia, arsip, hingga bacaan hasil donasi. Tak hanya, buku bacaan, nantinya Perpustakaan Achmad Bakrie juga akan aktif menggelar berbagai program acara publik, yang dirancang oleh Adinda Bakrie Foundation.
"Dimana-mana kalau kita lihat, museum itu pasti punya perpustakaan, dan perpustakaan itu bisa dipakai untuk riset, untuk akademisi, atau periset yang lain yang mau menggunakan perpustakaan," ucapnya.

Area bakal Perpustakaan Achmad Bakrie di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (15/9/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.
Dia menambahkan kerja sama ini menjadi langkah awal pihaknya untuk mengembangkan konsep kerja sama Public Private Partnership dengan pihak swasta, agar pengelolaan museum dan cagar budaya di Indonesia bisa tetap optimal di tengah keterbatasan pendanaan dari pemerintah pusat.
"Setelah ini sukses kemungkinan kita akan memakai template ini untuk kerja sama dengan swasta, membangun area yang bekas terbakar tahun 2023 lalu di Museum Nasional Indonesia. Di luar negeri juga pakai konsep ini, nanti ada naming rights sebagai timbal baliknya. Itu yang saya harapkan bisa dikerjakan di museum lain dengan pihak swasta lain," jelasnya.

Acara groundbreaking pembangunan Perpustakaan Achmad Bakrie di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (15/9/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.
Dia berharap perpustakaan tersebut bisa menjadi ruang terbuka untuk generasi muda Indonesia agar menjadi bagian dari perkembangan literasi di Tanah Air. Menurutnya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat inspirasi, ruang diskusi, dan wadah bagi masyarakat untuk memperluas wawasan.
Adinda menegaskan pembangunan Perpustakaan Achmad Bakrie juga menjadi salah satu cermin nilai-nilai yang diwariskan oleh almarhum sang kakek, Achmad Bakrie, yang tertuang dalam tri matra Bakrie, yaitu keindonesiaan, kemanfaatan, dan kebersamaan.
"Harapan kami semoga kehadiran perpustakaan Achmad Bakrie di Museum Nasional dapat memperkuat fungsi museum sebagai pusat pembelajaran yang menyatukan sejarah, budaya, dan juga ilmu pengetahuan," ujarnya.
Baca Juga: Rentan Rusak, Dokumentasi Koleksi Perlu Digencarkan di Permuseuman Indonesia
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.